Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Apa Saja Makanan yang Yang Harus Ada dalam Tradisi Megengan?

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Minggu, 2 Maret 2025 | 17:00 WIB

 

Photo
Photo

JP Radar Kediri - Ada beberapa makanan yang tidak bisa ditinggal dalam tradisi megengan. Di antaranya adalah kue apem dan buah pisang.

Apem melambangkan orang tua perempuan atau emak. Sedangkan pisang simbol orang tua laki-laki atau bapak.

“Keduanya melambangkan permohan kepada Tuhan agar memberi pengampunan kepada orang tua dan para leluhur yang telah meninggal,” terang pengamat budaya yang juga dosen Hukum Adat dari Uniska Kediri Khayatudin.

Menurut pria yang biasa disapa Khayat ini, apem memang punya makna permintaan maaf. Kata apem diserap dari kosa kata Arab afum.

Artinya adalah permintaan maaf tersebut. Karena itu, selain memintakan ampun atas orang tua, juga untuk diri sendiri.

"Megengan itu juga maknanya ngempet (menahan). Jadi artinya menahan segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa. Jadi megengan sendiri bermakna berdoa agar puasanya bisa berjalan lancar," jlentreh Khayat.

Sayangnya, masyarakat modern mulai meninggalkan tradisi ini. Walaupun masih ada, namun sudah banyak berkurang.

Alasannya mungkin karena ribet dan memakan waktu lama untuk mempersiapkan berkat yang berisi apen dan nasi gurih.

"Ke depan bisa saja tradisi ini hilang. Apalagi kalau tidak diuri-uri," ucapnya mengingatkan.

Pun, kalaupun masih dilaksanakan, megengan sudah mengalami banyak perubahan. Seperti soal waktu pelaksanaan hingga jenis makanan yang ada di berkatan.

Dulu, megengan selalu dilakukan malam menjelang puasa. Saat pelaksanaan salat tarawih hari pertama.

"Jadi hari pertama tarawih itu bawa berkat ke musala atau masjid," jelasnya.

Baca Juga: Jejak Ramadan di Nusantara, Malamang Tradisi Masak Lemang yang Penuh Kebersamaan!

Tapi, kini masyarakat mulai megengan beberapa hari sebelumnya. Sejak dua atau tiga hari menjelang puasa.

Hal ini salah satunya karena penetapan puasa yang harus menunggu sidang isbat.

"Misal dapat hasilnya sore, atau bahkan malam, warga yang disuruh nyiapkan berkat jadi kedandapan (terburu-buru, Red)," jelas laki-laki yang sudah menjadi dosen sejak 1988 itu.

Ada pula mengenai item yang disajikan dalam berkat megengan. Dulu, menu apem dan pisang serta nasi gurih adalah wajib.

Karena semua itu ada maknanya masing-masing seperti yang disebut sebelumnya. Kini, orang-orang melakukan hal yang praktis. Tak harus tiga item itu.

Khayat menambahkan, ada sedikit perbedaan dalam pelaksanaan megengan di beberapa derah. Seperti antara Kediri dan daerah lain, misalnya Blitar maupun Tulungagung.

Ada tempat yang melakukan megengan di tiap rumah secara bergiliran. Bukan di bawa ke langgar bersama-sama.

"Jadi di rumah masing-masing, misal hari ini rumah A, besok rumah B. Bisa secara ngundang masyarakat, atau ngirim tonjokan (berkatan)," jelasnya.

Perbedaan juga terjadi di wilayah Blitar. Utamanya wilayah pedesaan, megengan dilakukan pada bulan Sya'ban. Dilakukan secara bergilir oleh masing-masing warga.

"Aslinya gak wajib, namun karena tradisi, jadi terkesan wajib bahwa semua warga harus mengadakan megengan secara bergilir. Jadi bisa jadi dalam sehari itu ada dua sampai tiga undangan," jelas Abdul, salah satu warga asal Srengat, Kabupaten Blitar, yang lama tinggal di Bandarlor, Mojoroto.

Dia mengatakan bahwa di tempat asalnya, berkat yang dibagikan tidak berupa bungkusan yang sudah siap sejak awal. Melainkan, disiapkan di wakul maupun baskom yang belum dibungkus.

"Jadi masih belum ditata di bungkusan, tapi nasinya masih di wakul, sambel goreng dan kulupan masih di leser atau ember," terang Abdul.

Berikutnya, jika sudah prosesi pembacaan doa, baru makanan-makanan itu akan dimasukkan ke bungkusan yang kemudian dibagikan.

Sementara itu, di wilayah Kediri yang masih mempertahankan menggunakan menu pisang dan apem adalah di Perumahan Doko Indah, Ngasem.

Walaupun di perumahan, namun wilayah ini masih mempertahankannya.

"Sejak saya mulai tinggal di situ dari 11 tahun lalu, hingga sekarang masih terus ada," jelas Ismail Marzuki, salah satu warga Perumahan Doko Indah, Ngasem.

Sebenarnya mayoritas warga tidak tahu mengapa harus memakai menu itu. Apakah ada maknanya atau tidak. Namun tradisi menu apem dan pisang masih terus dipertahankan.

"Kebanyakan gak tau, tapi memang secara turun-temurun seperti itu, jadi sampai sekarang mengikuti," terangnya. 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.   

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #megengan jelang ramadan #apem dari bahasa arab #megengan #apem #tradisi jelang ramadan #jawa pos