Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Cerita dari Maraknya Undangan Pernikahan Digital di Kediri

Emilia Susanti • Senin, 24 Februari 2025 | 16:57 WIB
Photo
Photo

JP Radar Kediri - Arsanti Nurul Anam, 28, termasuk salah satu di antara banyak pengguna undangan digital itu.

Menikah pada 2022 lalu, saat Covid-19 masih menjadi momok, dia memilih mengundang teman dan kerabat secara online.

Memesan undangan digital pada kenalannya, dia cukup mengirim foto-foto prewedding.

Selanjutnya berdiskusi memilih backsound yang sesuai, hingga memilih beberapa alternatif desain yang disukai.

Setelah format disepakati, perempuan yang akrab disapa Santi itu tinggal mengirim link undangan pernikahan lewat WhatsApp teman-teman dan koleganya.

Enggak sama sekali (mengirim undangan cetak, Red),” ungkap Santi tentang keberaniannya ‘melawan’ tradisi lama dalam hal mengundang tamu.

Saat masih banyak orang yang sungkan menggunakan undangan digital, warga Kelurahan/Kecamatan Pare itu memang dengan berani memilih cara baru itu.

Alasannya, mengundang orang secara online lebih sederhana. Apalagi, dia memang disibukkan dengan rutinitas bekerja. Sehingga, tidak memiliki banyak waktu untuk mengirim undangan.

Untuk meminta bantuan teman atau kerabat menyebar undangan, dia juga merasa tidak enak hati.

"Sebenarnya ada yang bilang nanti khawatir yang diundang nggak datang kalau memakai undangan digital. Tapi prinsipku, datang alhamdulillah, nggak datang ya sudah,” kelakarnya sambil tertawa.

Apalagi, Santi memang tidak ngotot mengundang semua temannya. Untuk beberapa teman yang tidak ada nomor WhatsApp-nya, bahkan cukup dikirimi undangan lewat media sosial.

“Alhamdulillah juga datang,” tuturnya.

Baca Juga: Ini Alasan Pedagang di Kawasan SLG Kediri Enggan Pindah ke Sentra PKL yang Disediakan Pemda

Berbeda dengan Santi, Luthfi Husnika, 28, memilih dua cara untuk mengundang teman-temannya di acara pernikahan. Yaitu, mengirim undangan cetak plus undangan online.

Jika Santi bisa dengan cuek dan percaya diri hanya membuat undangan digital, Luthfi yang menikah tahun 2021 lalu membuat dua versi karena jika hanya undangan digital banyak yang menganggap tidak sopan.

“Tapi kalau lihat sekarang, undangan digital memang lebih efektif dan efisien,” beber perempuan yang kini tidak pernah menerima undangan pernikahan cetak lagi itu.

Sementara itu, semakin diminatinya undangan digital membuat pebisnis yang menekuninya laris order. Seperti diakui Luqman Hakim.

Pria yang sebelumnya hanya melayani undangan cetak itu kini juga merambah undangan digital.

“Mulai ramai pesanan (undangan digital, Red) setelah Covid-19,” tuturnya.

Dalam sehari, dia bisa mendapat pesanan tiga sampai delapan undangan digital. Adapun undangan cetak juga tetap ada pemesannya.

Meski jumlahnya tidak sebanyak sebelum pandemi Covid-19.

"Dulu satu sampai dua minggu bisa cetak sampai tiga ribu undangan. Sekarang dalam satu bulan cetak undangan antara satu sampai dua ribu undangan. Itu saat musim menikah," paparnya sembari menyebut undangan cetak biasanya untuk orang tua pengantin.

Adapun pengantin mayoritas memilih undangan digital. peminat undangan cetak turun drastis.

Untuk bisa membuka jasa pembuatan undangan digital, Luqman harus kerja sama dengan pengusaha undangan lain. Sebab, modal yang dibutuhkan tidak sedikit.

“Harus beli domain, template, terus belajar pengaturannya gimana. Lalu masih harus dipikirkan cara pemasarannya," jelas pria yang butuh modal sekitar Rp 5 juta di awal membuat undangan digital.

Tak hanya Luqman, Agus Sujai, 32, pengusaha undangan cetak lainnya juga terpaksa mengikuti perkembangan zaman. Demi melayani undangan digital, dia bekerja sama dengan temannya.

“Persaingannya sekarang ketat. Harus bersaing dengan platform Shopee, Tokopedia, dan TikTok,” keluhnya tentang harga undangan digital yang semakin kompetitif.

Sementara itu, meski banyak yang berusaha mengambil peluang dengan menyediakan undangan digital, tidak sedikit pengusaha yang tetap bertahan hanya membuat undangan cetak.

Putri Deby Pamungkas, 28, salah satunya. “Walaupun hanya melayani undangan cetak, saya tidak hanya diam menunggu pemesan di toko,” aku Putri.

Untuk menjaring pemesan, dia aktif mempromosikan jasa pembuatan undangan di media sosial dan beberapa platform digital.

Mulai di Shopee dan TikTok. Putri bersyukur dengan cara itu masih bisa mendapat banyak pesanan.

“Satu bulan sekitar tiga ribu cetak undangan. Kalau ramai bisa tembus sampai 10 ribu,” ungkapnya bersyukur. 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.   

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #undangan digital #paperless #percetakan #undangan pernikahan digital #jawa pos