JP Radar Kediri - Geliat sentra kuliner yang mulai tumbuh di pasar tradisional akan berdampak positif pada perkembangan pasar.
Apalagi, penjual makanan itu memanfaatkan kios-kios pasar di lantai 2 yang selama ini tidak aktif atau tidak digunakan berjualan oleh pedagang.
Direktur Utama Perumda Pasar Joyoboyo Djauhari Luthfi mengatakan, lantai atas pasar tradisional memang lebih rentan sepi.
Tak hanya di Kota Kediri. Kondisi yang sama juga terjadi daerah lain.
Hal itulah yang mendorong pengelola pasar untuk membuat konsep pasar yang bukan sekadar tempat perbelanjaan konvensional. Melainkan merambah ke konsep wisata belanja.
“Akhirnya mulai banyak makanan-makanan atau kuliner yang masuk (ke lantai dua pasar, Red). Yang ingin buka di pasar, kami fasilitasi semuanya,” ujarnya.
Pasar yang lebih terbuka dengan lebih banyak segmen itu, menurutnya juga untuk menghapus stigma bahwa berjualan di pasar itu mahal.
Berdasarkan SK tarif, penyewa hanya dikenai biaya administrasi sebesar Rp 200 ribu per tahun. Sementara biaya jasa layanan per kios berkisar Rp 2.500 – Rp 9.600 per hari.
“Sebenarnya fokus kami bukan hanya segmen kuliner. Ini salah satunya. Karena tujuan kami bagaimana bisa menghidupkan pasar. Meramaikan pasar,” sambungnya.
Artinya, kuliner yang mulai tumbuh di pasar tradisional, diharapkan bisa semakin meramaikan pasar.
Dengan semakin banyak orang yang berkunjung ke pasar, akan meningkat juga jumlah orang yang belanja kebutuhan di pasar.
“Dengan banyak masyarakat berkunjung ke pasar, otomatis dagangan pedagang kan laku,” tandasnya.
Untuk diketahui, keberadaan sentra kuliner di lantai 2 pasar itu didapati di Pasar Pahing dan Pasar Setonobetek.
Munculnya tren kuliner ‘kekinian’ di pasar itu mulai signifikan sejak akhir 2024 lalu.
“Sekarang lantai dua penuh (Pasar Pahing, Red). Sudah tersewa semua, tapi tidak hanya kuliner. Ada yang toko, angkringan, dan kedai kopi,” beber Luthfi sembari menyebut beberapa penyewa hingga Januari lalu memang masih dalam tahap persiapan menempati kios.
Di luar itu, diakui Luthfi untuk membuka peluang usaha di lantai atas pasar memang lebih besar tantangannya.
Meski tidak dipersyaratkan oleh manajemen pasar, namun mayoritas penyewa sudah memiliki segmentasi pelanggan masing-masing.
“Yang buka di lantai dua rata-rata mereka sudah percaya diri, punya massa sendiri-sendiri. Jadi di manapun tempatnya, mereka tetap didatangi,” terangnya.
Jika di lantai dua Pasar Pahing sektor kulinernya beragam, berbeda dengan Pasar Setonobetek.
Luthfi menyebut, di sana rencananya akan menjadi menjadi sentra komunitas kopi.
“Istilahnya bisa untuk tongkrongan anak muda, tapi nggak sekelas kafe yang mahal. Tapi sekelas pasar yang kembali lagi, konsepnya agar bagaimana masyarakat senang saba pasar,” beber Luthfi.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah