JP RADAR KEDIRI- Pasar ini ingin tetap mengesankan sebagai pasar tradisional yang merakyat tapi dengan fasilitas modern. Berupaya meninggalkan kesan kumuh, kotor, dan bau.
Cara yang relatif berhasil meningkatkan omzet pedagang, setidaknya setiap akhir pekan.
Sri Utami berdandan beda kemarin (2/2). Di Minggu pagi itu pedagang gerabah ini mengenakan pakaian lurik di bagian atas.
Berpadu dengan rok panjang semata kaki berbahan jeans warna biru muda.
“Lekne Minggu ngagem jadul, lek Sabtu ngagem kaos ireng Kediri Berbudaya (kalau Minggu memakai baju kuno, kalau Sabtu memakai kaos hitam Kediri Berbudaya, Red),” ucap pedagang asal Desa Gadungan, Kecamatan Wates ini.
Sambil terus melayani pembeli, wanita 47 tahun ini melanjutkan ceritanya. Kebiasaan para pedagang itu dimulai ketika saat perayaan 17 Agustus tahun lalu.
Selain menggelar upacara bendara, para pedagang kala itu juga mengenakan pakaian jadul alias pakaian adat. Setelah itu, setiap Minggu para pedagang sepakat melakukan hal serupa.
Tidak ribet? “Justru senang. Banyak yang tanya kenapa kok pakai pakaian jadul? Yang jual seneng, yang beli juga seneng. Kok apik ya pakai baju jadul?” bebernya, sambil tersenyum.
Kegembiraan pedagang yang berjualan di Pasar Wates sejak 2000 awal ini bukan hanya karena berpakaian ala zaman dulu.
Juga karena omzet setiap Minggu juga meningkat. Konsep berjualan seperti itu membuat pengunjung pasar meningkat. Lebih ramai dibanding hari-hari biasa.
“Walaupun gak seramai saat pasar lama dulu tapi ini jauh lebih bagus dari pada saat di penampungan,” akunya.
Untuk memperkuat ucapannya itu, Sri Utami menyodorkan angka pendapatannya. Bila hari-hari biasa paling dia mendapatkan omzet sekitar Rp 500 ribu. Nah, saat Minggu seperti kemarin pendapatannya meningkat menjadi Rp 700 ribu.
Lebih melegakannya lagi, konsep seperti itu tak hanya menarik minat warga sekitar. Pengunjungnya juga ada yang dari luar kota.
Baik itu ketika berkunjung ke saudara maupun saat melintas melihat fasad bangunan yang menarik mata.
“Beberapa kali ada orang jauh yang beli di sini. Terakhir ada orang Bekasi, berkunjung ke rumah saudaranya. Ketika dibilangi kalau Pasar Wates ada ginian (pakai baju adat, Red), jadi tertarik datang. Bahkan sampai mborong tas anyam untuk oleh-oleh,” ceritanya.
Perasaan gembira juga dirasakan Dariyati, pedagang empon-empon ini tak merasa kerepotan meskipun harus berbaju model kuno setiap Minggu.
“Justru senang karena sensasinya, karena berbeda dengan pasar lain,” ucap pedagang asal Desa Batuaji, Kecamatan Ringinrejo ini.
Perempuan 38 tahun ini juga meyakini konsep seperti ini membuat pembeli lebih tertarik. Buktinya, pendapatan yang dia peroleh mengalami peningkatan.
“Ada pengaruhnya, tapi lebih ramai lagi kalau pas musimnya (saat hari besar atau musim hajatan, Red),” akunya.
Bagaimana dengan pedagang daging yang bergelut dengan bahan yang relatif basah, kotor, dan kadang masih ada darahnya? Sama saja, mereka pun merasa senang. Seperti yang dikatakan oleh Insriyah.
“Soal nanti takut kotor, kan pakai celemek. Jadi ndak masalah. Malah senang karena unik, gitu,” aku perempuan 50 tahun ini.
Wakil Kepala Pasar Wates Gunawan mengatakan, konsep pakaian jadul ini tercetus untuk memunculkan ciri khas bagi pasar yang mulai beroperasi pada Maret 2024 lalu.
“Berhubung pasar baru, coba-coba bagaimana pakai ciri khas sendiri. Coba disesuaikan dengan konsep pasar dan Kediri Berbudaya. Ternyata pedagang antusias semua,” jelasnya, saat ditemui di Pasar Wates kemarin.
Dia mengatakanhal ini juga meningkatkan jumlah pengunjung. Dibanding hari biasa, saat Minggu, pasar lebih ramai.
“Selain karena akhir pekan banyak yang ke pasar, ditambah pakaian jadul dan konsep pasar jadi makin ramai. Beberapa yang datang ke pasar (pembeli) juga pakai pakaian jadul kaya batik sama lurik. Sepertinya menyesuikan sama kondisi pasarnya,” akunya, sembari menyebut bahwa pengurus pasar juga kompak memakai seragam jadul.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel
Editor : Anwar Bahar Basalamah