Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mengenal Sejarah Kota Lama di Kediri, Pusat Bisnis Warga Tionghoa yang Kini Mulai Redup

Ayu Ismawati • Kamis, 30 Januari 2025 | 16:41 WIB
Photo
Photo

JP Radar Kediri - Di salah satu sudut rumahnya, Liliana nampak cekatan menyajikan semangkuk mie pangsit. Dapurnya terletak di sudut kecil teras rumahnya, di Jl Dr Wahidin 23, Kelurahan Pakelan.

Sedangkan ruangan kecil berukuran sekitar 4 x 4 meter diisi dengan meja panjang dan beberapa kursi untuk tempat duduk pelanggannya.

Memasuki kedai yang sudah berdiri sejak 1970 itu, nuansa hangat rumah zaman dulu langsung menyambut.

Kontras dengan sayup-sayup suara musik hiphop yang diputar kencang di kedai kopi anak muda yang berjarak kurang dari 20 meter dari rumahnya.

“Awalnya dulu dari orang tua (yang memulai bisnis mie pangsit, Red). Dulu masih keliling,” kenangnya.

Adalah sang kakek yang kali pertama mendirikan rumah di sana. Hingga, pada 1970 silam mereka memutuskan membuka kedai mie pangsit di salah satu sudut kawasan pecinan itu.

“Sebelumnya dulu ya serabutan. Jualan lotre, gitu. Keliling. Jual mie juga awalnya keliling pakai rombong yang didorong,” kenang perempuan berusia 70 tahun itu.

Liliana menjadi generasi kedua yang mengelola kedai Mie Pangsit Garuda itu. Artinya, sudah lebih dari 50 tahun bisnis keluarga tersebut berjalan.

Meski tempatnya tersembunyi dan tanpa promosi kekinian, bisnis rumahannya tetap eksis.

Mayoritas mereka adalah pelanggan-pelanggan setianya. Secara turun-temurun sering datang ke kedai sekaligus untuk bernostalgia.

Selebihnya,  penduduk kawasan pecinan jugamasih sering mendatangi kedainya.

“Karena rumahnya memang sini, jadi ya usahanya (ditopang, Red) dari yang kenalan-kenalan gitu. Jadi bukan khusus buka usaha di sini,” bebernya menyebut awalnya keluarga tidak berniat membuat usaha di sana. Melainkan hanya untuk tinggal.

Sembari menyiapkan persembahan untuk ibadah jelang Imlek, dia mengenang kawasan Pecinan yang dulunya sangat ramai.

Tidak seperti sekarang saat banyak bangunan lama difungsikan sebagai gudang-gudang pertokoan. Dulunya kawasan itu justru permukiman yang cukup ramai.

“Anak-anak ya banyak sekali sepantaran saya. Sekarang habis penghuninya, banyak yang kosong,” tuturnya diikuti tawa kecil.

Banyaknya rumah kosong di kawasan Pecinan itu karena memang anak-anak tidak mau lagi menempati rumah tua.

“Akhirnya beberapa dijual ke orang-orang kaya terus dijadikan gudang,” sambungnya.

Kondisi itu pula yang diakui Liliana kini jadi dilema. Ibu satu anak itu tak yakin apakah usaha kulinernya itu bisa bertahan hingga beberapa tahun ke depan.

“Banyak juga pelanggan yang tanya, ini nanti yang nerusin siapa? Saya jawab, nggak tahu ini anaknya mau nerusin apa nggak. Karena kalau anak muda kan nggak bisa telaten seperti orang tua,” tandasnya.

Liliana dan para lansia yang masih bertahan di kawasan Pecinan mengaku tetap berada di sana karena terbiasa menjalani rutinitas.

Selebihnya, di usia senjanya, dia tak ingin bekerja terlalu keras.

Hal itu terlepas dari kawasan Pecinan yang memang sudah tidak seramai dulu.

“Karena ya sudah terbiasa dari kecil bantu orang tua. Terus sekarang saya yang meneruskan. Dulu sebenarnya pernah coba jualan di foodcourt-nya Golden (swalayan, Red), tapi ternyata malah nggak selaku di rumah,” urainya terkait perjalanan bisnisnya yang panjang.

Diakui Liliana, ramainya kawasan Pecinan di masa lalu juga tak lepas dari perannnya sebagai pusat perekonomian dan hiburan.

Misalnya dengan adanya Bioskop Garuda yang berada tepat di belakang rumahnya.

Belakangan keberadaan salah satu bioskop pionir di Kota Kediri itu pula yang jadi alasannya menamai tempat usahanya dengan embel-embel ‘Garuda’.

“Kalau orang bubaran dari bioskop kan selalu lewat depan sini. Jadi selalu ramai,” kenangnya.

Dampak perubahan zaman itu juga dirasakan di Plaza Kediri, toko yang disebut-sebut sebagai tempat perbelanjaan modern pertama di Kota Kediri.

Bangunan tiga lantai itu kini hanya tersisa lantai satunya saja yang masih difungsikan sebagai toko kebutuhan sehari-hari.

“Dulu itu sejak pertama didirikan sekitar 1987, bus masih lewat sini. Jadi ramai sekali sini,” ungkap Siamsiatun, 44, salah satu karyawan di sana.

Di masa jayanya dulu, plaza yang berada di Jl Yos Sudarso itu dilengkapi karaoke hingga permainan modern seperti Boom Boom Car, dan permainan koin atau game dingdong.

Kini, toko modern itu hanya bertahan di tengah semakin banyaknya bangunan-bangunan baru di sepanjang jalan tersebut.

“Ini kemarin itu hampir satu tahun yang lalu mau tutup tapi nggak jadi. Orangnya (pemilik toko, Red) juga sudah tua, mungkin capek juga riwa-riwi, tapi ternyata nggak jadi,” urainya soal sang pemilik toko yang juga sudah berusia lebih dari 70 tahun itu.

Menurutnya, tantangan toko itu juga dari tidak adanya penerus toko. Anak-anak pemilik toko menurutnya sudah membuka usaha sendiri-sendiri di luar kota.

Sehingga hingga saat ini, toko masih dikelola si pemilik yang merupakan warga Pare, Kabupaten Kediri. 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

 

 

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #tionghoa #warga tionghoa #Kelenteng Tjoe Hwie Kiong #Kota Lama Kediri #pecinan #pusat bisnis #jawa pos #kota kediri