Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Gara-Gara Gejolak Politik dan Banjir, Banyak Warga Pecinan Angkat Kaki dari Kota Lama di Kediri

Sri Utami • Kamis, 30 Januari 2025 | 16:25 WIB
Photo
Photo

JP Radar Kediri - Kawasan Pecinan juga lekat dengan Kelenteng Tjoe Hwie Kiong, yang juga menjadi jantung kawasan itu.

Namun, kini justru umat di tempat ibadah tri dharma (TITD) itu justru banyak yang tidak lagi berasal dari penduduk Kota Lama.

“Karena generasi-generasi senior sudah tinggal sedikit. Dan, generasi yang kelahiran 1970-an beserta anak-anaknya, kebanyakan juga beragama yang lain,” kata Ketua Yayasan Tri Dharma Kelenteng Tjoe Hwie Kiong Prayitno Sutikno menengarai banyaknya generasi penerus yang tidak lagi beribadah di kelenteng karena pembatasan yang diterapkan di zaman orde baru.

Jika dulunya kawasan Pecinan merupakan pusat kota, Prayit menengarai penduduk Tionghoa asli yang masih bertahan di sana diperkirakan tak sampai 50 persen.

Hal tersebut, salah satunya karena gejolak politik pada 1965 silam memang sangat berdampak bagi kehidupan masyarakat Tionghoa di sana.

Tirto, 70, salah satu umat TITD yang dibesarkan di Jl Yos Sudarso menceritakan, sejak dibentuk oleh Belanda, kawasan itu dikenal sebagai pusat bisnis palawija.

 Baca Juga: Mengenal Sejarah Kota Lama di Kediri, Pusat Bisnis Warga Tionghoa yang Kini Mulai Redup

“Dulu zaman kecil saya, burung dara tanpa dipelihara bisa berkembang biak sendiri. Karena saking banyaknya yang jatuh-jatuh (produk palawija, Red) saat bongkaran. Sekarang kan yang banyak toko retail,” kenangnya.

Gejolak politik di masa lalu, menurutnya juga menyebabkan sebagian pelaku usaha memutuskan berpindah-pindah. Bahkan, untuk mengurus perizinan sekolah hingga berdagang pun selalu dihadapkan dengan pembatasan.

Di luar itu, kawasan Pecinan—khususnya Jl Yos Sudarso—yang kerap dilanda banjir, juga menyebabkan aktivitas bisnis palawija di sana tidak kondusif.

“Saya mulai kecil sampai lulus SMA, rumah itu banjir. Karena untuk tempat usaha juga nggak cocok, akhirnya pindah,” kenangnya.

Tirto masih ingat benar, dahulu Sungai Brantas yang juga menjadi arus lalu lintas perdagangan itu penuh dengan sedimentasi akibat letusan Gunung Kelud.

Akibatnya, kawasan Pecinan dan Jl Yos Sudarso selalu jadi langganan banjir.

 Baca Juga: Inilah Deretan Bangunan-bangunan Pecinan Kuno di Kota Kediri yang Masih Terawat

“Saking seringnya banjir di Yos Sudarso, orang yang sekarang usia 50 tahun ke atas itu kebal. Nggak ada namanya kakinya rangen (terkena kutu air, Red). Kalau sekolah selalu bawa sepatu dipiting, nanti sampai sekolah baru dipakai lagi,” kenangnya lagi sambil tersenyum.

Terpisah, pemerhati sejarah Kediri Achmad Zainal Fachris mengatakan, kompleks Pecinan dulunya merupakan produk pemerintahan Belanda.

Mereka membagi masyarakat berdasarkan klasifikasi sosial. Pecinan atau Chinastraat berada di antara Jl Yos Sudarso (termasuk Kelenteng Tjoe Hwie Kiong) ke utara hingga Jl Brawijaya dan Jl Dhoho.

“Pecinan itu sampai tahun 1970-an masih menjadi pusat ekonomi. Mereka kulakan ke Surabaya berangkat naik perahu lewat Sungai Brantas. Nanti dia membawa barang-barang kulakannya ke Kediri naik kereta api,” bebernya.

Embrio bisnis dari penduduk-penduduk Tionghoa di kawasan Pecinan itu menurutnya juga sudah ada jauh sejak zaman Belanda. Saat itu, kelompok Tionghoa diberi kuasa oleh Belanda untuk memegang perekonomian.

“Dan, luar biasanya, pengusaha-pengusaha Cina itu punya andil dalam perpolitikan Hindia-Belanda, terutama di Kediri. Mereka punya andil misalnya dalam penetapan calon Presiden atau calon bupati karena mereka memiliki kekuatan ekonomi,” terang pria yang juga guru sejarah di MAN 2 Kota Kediri itu.

 Baca Juga: Mencari Sumber Persoalan Banjir di Wilayah Barat Sungai Brantas Kabupaten Kediri

Hingga saat ini, geliat perekonomian juga masih sangat nampak di Pecinan. Meski, saat ini yang paling besar dari bisnis tahu. Makanan yang kemudian khas Kota Kediri.

Tahu merupakan komoditas asli warga Tionghoa di Kediri. “Dan tahu takwa itu jangan diartikan milik orang Indonesia. Takwa itu dari istilah ‘tokwa’ artinya tahu. Jadi itu memang komoditasnya orang-orang Cina,” ungkapnya.

Bisnis tahu itu kini menyebar ke pelosok Kota Kediri. Hingga muncul sentra produksi tahu bernama Kampung Tahu di Kelurahan Tinalan, Kecamatan Pesantren.

“Itu salah satu yang dirintis oleh orang-orang Jawa yang dulu bekerja pada orang-orang Cina,” sambungnya.

Terkait gejolak politik hingga banjir yang disebut mendorong beberapa penduduk asli pecinan bermigrasi, Fachris mengamininya.

 Baca Juga: Pepohonan yang Hilang karena Bandara Dhoho Kediri Jadi Pemicu Bencana Banjir di Wilayah Barat Sungai Brantas

Namun demikian, hingga sekarang masih ada penduduk Tionghoa asli yang masih menetap secara turun temurun di kompleks tersebut.

“Salah satunya itu Tan Khoen Swie yang termasuk orang Cina lama dan bahkan banyak jasa besar bagi komunitas Cina di Kediri,” beber Fachris.

Terkait seringnya banjir di Jl Yos Sudarso, ruas jalan itu bahkan dulu serupa selokan. Aspalnya hancur karena sering banjir dan masih dilewati gerobak.

“Itu (banjir, Red) juga sampai menenggelamkan depannya GNI dan Kantor Pos sampai perahu bisa naik ke atas (jalan, Red),” tuturnya. 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel

 

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #pengusaha china #Chinastraat #dampak banjir #Jl Yos Sudarso #Kelenteng Tjoe Hwie Kiong #Kota Lama Kediri #pecinan #jawa pos #kota kediri