JP Radar Kediri - Setiap hujan deras mengguyur Kediri lebih dari dua jam, sejumlah sungai yang berhulu di lereng Gunung Wilis hampir dipastikan meluap.
Dampaknya, pekarangan dan rumah warga tergenang, fasilitas umum juga rusak. Namun, selama dua tahun terakhir belum ada langkah besar untuk mengatasinya.
Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Kediri, sejak November lalu sedikitnya ada sembilan kali bencana banjir di Bumi Panjalu. Enam di antaranya terjadi di barat Sungai Brantas. Adapun tiga lainnya di wilayah timur sungai.
Bencana banjir ini membawa dampak yang bervariasi. Selain menggenangi pekarangan dan sawah warga, air bah juga masuk ke rumah hingga merusak beberapa fasilitas umum.
Yaitu tanggul sungai di beberapa titik yang jebol, hingga tembok pemakaman yang ambrol. Bahkan, rumah warga juga ada yang rusak terdampak bencana hidrometrologi ini.
Terkait kondisi di barat sungai yang menjadi langganan banjir, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Kalaksa BPBD) Kabupaten Kediri Stefanus Djoko Sukrisno menyebut pemicunya adalah hujan turun dengan intensitas tinggi dan dalam waktu lama.
Kondisi tersebut diperparah dengan banyaknya sungai yang dipenuhi sedimen. “Pengendapan ini terjadi karena banyaknya lumpur yang turut hanyut di sungai,” kata Djoko.
Sedimentasi juga diperparah dengan tersumbatnya dam sungai. Yakni, oleh material sampah yang turut terbawa arus air. Akibatnya, begitu debit air dari lereng Wilis naik, otomatis air akan meluber karena arusnya tidak bisa lancar.
Djoko menilai, karakteristik tanah di barat sungai dan di timur sungai berbeda. Tanah di timur sungai cenderung keras. Sedangkan di barat sungai lebih lembek. Karenanya, jika terjadi hujan deras lebih dari dua jam, akan mudah membuat pepohonan hingga rumpun bambu terbawa air.
Hal yang sama juga terjadi pada tanggul sungai yang akan mudah jebol jika selama berjam-jam dilewati air dengan arus deras dan debitnya yang tinggi. “Karena kontur tanah di tanggul sungai yang cenderung lembek, jika kena air terus menerus apalagi waktu arus sungai yang deras berpotensi membuat tanggulnya jebol,” terang Djoko.
Meski terjadi bencana banjir secara berulang, hingga akhir Januari ini masih belum ada solusi yang signifikan untuk mencegah dan mengantisipasinya.
Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) yang memiliki kewenangan dalam pengelolaan sungai-sungai yang berhulu di lereng Wilis itu belum mengambil tindakan konkret dalam skala besar.
Pemkab Kediri yang kewenangannya terbatas memilih melakukan pencegahan dengan melakukan normalisasi sungai. Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Kediri Irwan Chandra Wahyu Purnama melalui Kabid Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air Andri Eko Prasetyo mengatakan, pada 2024 lalu sedikitnya ada 30 titik sungai yang dinormalisasi.
Jumlah tersebut tidak hanya di barat sungai saja. Melainkan juga di timur sungai. Pemilihan titik normalisasi disesuaikan dengan urgensinya. “(Sedimen, Red) ada yang kedalamannya dua hingga tiga meter,” kata Andri sembari menyebut pengerukan sedimen relatif efektif untuk memperlancar arus air.
Jika tahun lalu ada 30 titik sungai yang dikeruk, tahun ini sedikitnya ada sekitar 20 titik yang akan dinormalisasi. Seperti tahun lalu, lokasinya tersebar di seluruh wilayah Kediri. Meski, Andri tak menampik jika barat sungai akan menjadi fokus pengerukan.
Selain normalisasi, menurut Andri BBWS juga akan membangun kolam retensi di dekat sungai. Kolam atau embung berfungsi sebagai penampungan sementara air sungai saat debitnya meninggi.
Begitu debit air melimpah, air akan masuk ke kolam retensi. Selanjutnya, saat debit air kembali normal, akan tetap mengalir ke sungai.
“Ini (pembangunan kolam retensi, Red) adalah proyek pengendali banjir wilayah sungai efek dari pembangunan bandara,” lanjut Andri. Sesuai rencana, sedikitnya akan ada empat kolam retensi yang dibangun di sungai-sungai yang terdampak bandara. Di antaranya di Sungai Kolokoso dan Sungai Hardisingat.
Kapan proyek pengendali banjir dimulai? Andri menyebut tahun lalu masih di tahap sosialisasi pembebasan tanah. Berikutnya, proyek ditargetkan akan dimulai tahun ini atau tahun 2026 mendatang.
“Pembangunan full dilakukan oleh BBWS Sungai Brantas,” papar Andri sembari menyebut anggaran senilai Rp 60 miliar akan digelontor untuk pembangunan kolam retensi dan revetment atau tanggul sungai.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah