Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Tyas Asih Ismiati, Guru di Kediri yang Mendedikasikan Diri di Dunia Riset

Ayu Ismawati • Minggu, 19 Januari 2025 | 15:50 WIB
Photo
Photo

JP Radar Kediri - Dibandingkan pengajar lainnya di MAN 2 Kota Kediri, Tyas Asih Ismiati tergolong masih muda.

Tenaga yang lebih fresh itu berkelindan dengan semangatnya yang tinggi dalam mengembangkan dunia riset. Ketekunannya berhasil mengantarkan puluhan siswa meraih juara.

Tyas Asih Ismiati baru mengajar di MAN 2 Kota Kediri pada 2019 lalu. Namun, relasinya dengan madrasah yang terletak di Kelurahan Burengan, Kecamatan Kota itu sudah terbangun sejak belasan tahun.

Tepatnya saat dia baru masuk di madrasah itu sebagai seorang siswa.

“Pasti senang bisa kembali lagi ke sini. Karena istilahnya bisa memberikan kebermanfaatan untuk adik-adik. Mereka kan berarti adik-adik saya juga. Generasi penerus,” ujar Tyas.

Selain menjadi guru mata pelajaran sejarah, Tyas juga dikenal sebagai pendamping riset dan penelitian di MAN 2 Kota Kediri.

Tak sedikit pelajar di sana yang dibimbingnya untuk mengikuti berbagai jenis lomba.

“Binaan saya banyak. Bisa puluhan anak (dalam setahun, Red). Tapi kalau yang sampai bisa nge-drill juara-juara itu selama tahun 2024 ada 16 kalau nggak salah,” ungkap perempuan 32 tahun itu.

Bergelut di dunia riset memang bukan hal baru baginya. Sejak belajar di MAN 2 Kota Kediri pada 2007 lalu, perempuan asal Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri itu sudah aktif mengikuti berbagai perlombaan riset.

Bahkan, tergabung dalam ekstrakurikuler Kelompok Ilmiah Remaja (KIR). Kegemaran di dunia riset itu berlanjut hingga dia menjadi guru.

Sekaligus menjadi salah satu pendamping riset di madrasah aliyah negeri tersebut.

“Sebenarnya aku itu hanya meneladani apa yang pembinaku dulu lakukan. Kan pembinaku dulu Pak Fachris (pembina KIR yang kini menjadi wakil kepala MAN 2 Kota Kediri, Red). Pola beliau membimbing yang saya ikuti,” beber perempuan yang juga didapuk sebagai Ketua Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) Kota Kediri periode 2024-2028 itu.

Kini, giliran alumnus Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri itu yang menjadi pembina ekstrakurikuler KIR. Khususnya, dia mendampingi riset di bidang sosial dan humaniora (soshum).

Baginya, mendampingi siswa dalam penelitian itu tidak ada batas waktunya. Bahkan bisa dibilang bimbingan berjalan selama 24 jam.

“Misalkan deadline nanti malam jam 12 dikumpulkan, ya sudah biasanya sehari itu nge-drill. Anak-anak mengerjakan, saya memeriksa untuk revisi, terus begitu sampai deadline-nya,” urai Tyas sembari menyebut hal yang sama juga dilakukan jelang final.         

Rutinitas bimbingan itu dijalani di setiap ajang lomba. Meski lebih repot dibanding guru yang hanya disibukkan dengan materi pelajaran, Tyas bersyukur aktivitasnya di dunia riset itu tetap didukung oleh keluarganya.

“Justru suami saya malah mendukung karena sudah tahu sejak dulu kalau ini bidang yang saya minati. Bahkan itu juga memotivasi anak-anakku. Ingin ikut lomba seperti Mbak dan Mas itu,” terang ibu dua anak tersebut.

Mendapat dukungan dari orang-orang terdekat, Tyas kian bersemangat. Sebagai pembimbing dia tidak ingin sekadar menggurui. Melainkan juga harus bisa menjadi teladan bagi para siswa.

Yakni, selain membimbing anak didiknya, Tyas juga masih kerap mengikuti berbagai kompetisi. Hasilnya, dia berhasil meraih gelar juara dari beberapa perlombaan.

“Karena yang diajarkan Pak Nur Salim (Kepala MAN 2 Kota Kediri saat ini, Red) itu, mendidik dengan cara keteladanan itu yang paling efektif. Karena saya tugasnya membina anak-anak untuk kompetisi, maka saya juga harus memberikan inspirasi dan keteladanan bahwa saya juga harus ikut lomba dan dapat juara,” tandasnya.

Selain memberi teladan, Tyas juga memberi penekanan pada proses penelitian. Bagian itu jadi konsentrasi utamanya dalam membimbing siswa di setiap kompetisi.

Proses di balik setiap lomba itu diyakini bisa membentuk mental juara dari anak.

Dia percaya, anak-anak bisa meraih prestasi jika memiliki tekad yang kuat dan konsisten berusaha.

“Apakah anak-anak yang juara itu anak yang pintar? Bukan. Justru kalau ranahnya kompetisi itu, pintar bukan lagi urutan nomor satu. Yang penting punya kemauan yang kuat dan konsisten,” tegas perempuan yang juga pengurus DPP Penggerak Literasi Hijau Periode 2024-2028 itu. 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#riset dan penelitian #radar kediri #sosok inspiratif #man 2 kota kediri #soshum #penelitian #jawa pos #guru #Ketua Asosiasi Guru Sejarah Indonesia