JP Radar Kediri - Banyak cerita yang diukir oleh petugas damkar. Seperti Mashudi ini. Personil damkar Kota Kediri ini masih ingat ketika dia tidak bisa berjalan karena kecelakaan kerja.
Saat itu, Agustus 2023, pria asal Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, Kota ini terlibat dalam pemadaman api yang mengganas di TPA Klotok.
Sebenarnya, itu bukan tugas pertamanya. Tapi, baginya, terasa sangat berbeda. Begitu dramatis, begitu mengerikan. Dia tertimpa potongan kayu yang tergolong besar. Sepanjang enam meter.
Dia pun bercerita, saat itu sebenarnya tengah lepas dinas. Shiftnya kebetulan pagi hari. Ketika kebakaran terjadi, pukul 20.30, dia tengah bersantai.
“Kebakarannya besar. Jadi yang lepas dinas pun harus mem-back up ke lokasi,” kenang Hudi, sapaan akrabnya.
Di lokasi dia kebagian memadamkan api bagian bawah. Bersama beberapa rekannya.
"Saya di bagian lereng sambil bawa alat portable beserta selang," tambahnya.
Di bagiannya itu, api akhirnya bisa padam. Dari HT juga terdengar bahwa api telah padam dan tinggal pembasahan dan mengemasi perlengkapan. Seperti rekannya yang lain, Hudi pun melakukan.
"Waktu itu kan malam ngga ada penerangan jadi gelap sekali," ujar pria berusia 55 tahun itu.
Nah, ketika beres-beres itu, tiba-tiba ada potongan kayu menggelinding dari atas. Ukurannya besar, dan langsung menghantam tubuh dan menimpa kaki. Membuat Hudi tak sadarkan diri.
"Pak Fanni dan semua rekan itu down semua langsung," paparnya.
Setelah beberapa menit, Hudi tersadar dan langsung dibantu oleh rekan yang lain untuk mengangkat potongan kayu tersebut. Nakun ketika ia hendak berdiri, ia pun tidak bisa.
"Diperkirakan kaki saya patah, bagian ruas jari kelingking kaki kanan," ucap Hudi.
Setelah itu, rekannya langsung menghubungi BPBD dan ambulace. Pukul 21.30 Hudi langsung dibawa ke rumah sakit Gambiran.
Setelah diperiksa dan di observasi, ternyata bagian ruas jari kelingkingnya patah dan mengharuskan tindakan operasi.
"Besoknya saya langsung operasi, selama tiga atau empat hari saya menginap di rumah sakit," ujarnya.
Atas insiden tersebut, ia dipindah tugaskan dari pasukan menjadi staf administrasi. Sebab kakinya masih di pasang pen, sehingga belom bisa berjalan normal.
"Setelah tiga bulan lebih saya ambil pen, berselang waktu saya kembali normal dan kembali ditugaskan menjadi pasukan," tambah Hudi.
Aneka cerita juga dirasakan oleh anggota PMK Kabupaten Kediri M. Dito Afandi. Anggota pos Pare ini merupakan yang termuda, masih berusia 20 tahun. Tugasnya mengemudikan fire rescue.
Mobil yang dia kemudikan itu berisi aneka peralatan. Mulai dari tangga, penjepit ular, pengait ular, pengait anjing dan kera, serok untuk tawon madu, diesel pengisi tabung angin, scuba tabung oksigen, dan prasarana evakuasi sarang vespa.
Sebagai pengemudi, tugasnya tidak hanya menjalankan mobil saja. Namun juga mencarikan rute menuju lokasi. Kendala yang pernah dialami ketika sedang menuju lokasi jalan yang seharusnya dapat dilalui digunakan untuk kegiatan warga. Sehingga ia harus mencari jalan lain.
Beda lagi dengan Supriyadi, yang selain jago menjinakan api namun juga hewan liar. Banyak yang pernah ditanganinya. “Mulai ular, lebah hingga monyet pernah saya tangani,” cerita laki-laki berusia 47 tahun tersebut.
Menariknya, Supriyadi pernah peralatan sendiri untuk melindungi dari sengatan tawan. Dia membuat jaket caping. Bahannya dari caping dan jaring. Alat itu tercipta setelah ia tersengat lebah.
Membuatnya benjol sebesar kacang polong. “Menjadi petugas pemadam kebakaran itu juga harus kreatif,” imbuhnya.
Meski kini sudah mendapatkan APD untuk evakuasi sarang tawon, namun dia masih menggunakan buatannya sendiri. Yang buatan pabrik kurang tebal. Sehingga dia menggunakan yang lama sebagai dobelan.
“Sebagai tim kami harus solid,” tegas Koordinator Pos Pare Arif.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah