Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Pengakuan Pedagang yang Jadi Anak Buah Seorang Bos PKL di Jl Dhoho Kota Kediri

Novanda Nirwana • Sabtu, 11 Januari 2025 | 16:29 WIB
JAM MALAM: Pedagang nasi goreng di Jl Dhoho Kota Kediri.
JAM MALAM: Pedagang nasi goreng di Jl Dhoho Kota Kediri.

JP Radar Kediri - Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00. Seperti biasa, geliat di Jalan Dhoho masih sangat terasa. Toko-toko, sebagian besar, masih buka melayani pembeli. Tepi jalan di sisi timur pun padat oleh kendaraan yang berparkir.

Tapi, bila yang terbiasa merasakan kehidupan malam di jalan paling terkenal di Kediri ini, ada sesuatu yang seperti hilang. Apa itu? Geliat pedagang kaki lima yang belum terasa.

Ya, sebelum-sebelumnya, ketika waktu seperti itu para PKL mulai hiruk-pikuk. Terutama pedagang nasi goreng (nasgor). Mereka sudah menata dagangannya bahkan sebelum pukul 20.00.

Kini, sejak waktu berdagang para PKL ditertibkan sesuai peraturan wali kota, situasinya berbeda. Jam delapan malam seperti itu sangat sedikit rombong nasgor, atau bakul nasi pecel, yang sudah dasar alias memulai berjualan. Karena waktu mereka memang baru mulai pada pukul 21.00.

Tak hanya itu, aturan tak boleh lagi ada monopoli yang ditegaskan Dinas Perdagangan dan Industri (disperdagin) Kota Kediri pun turut berpengaruh. Tidak boleh ada monopoli, alias satu pedagang punya banyak rombong nasgor. Akibatnya, jumlah rombong yang berjajar di jalan sepanjang satu kilometer itu berkurang.

“Sebelumnya ada 12 rombong (yang berjualan). Sekarang ya tinggal satu ini saja,” ucap seorang pedagang nasgor, sebut saja namanya An, dengan lesu.

An bukanlah pemilik rombong. Dia hanyalah menjalankan rombong nasgor milik bosnya.
Tapi, meskipun punya belasan rombong nasgor di belasan titik, An menolak bila dikatakan sang bos melakukan monopoli. Menurutnya, si bos yang tak mau dia sebutkan namanya itu hanya memberikan lapangan pekerjaan untuk orang yang membutuhkan.

“Niatnya menolong orang biar ngasih pekerjaan, dia sebenarnya juga gak mentala kalau mau memberhentikan karyawannya,” lanjut An.

Tapi, aturan tetap harus dipatuhi. Bos An pun harus memarkir belasan rombongnya di rumah. Sekaligus memberhentikan orang yang sebelumnya mengoperasikan rombong tersebut.
“Saya lihat teman kerja saya ya kasihan, anak-anaknya masih pada sekolah,” ucap pria asal Kecamatan Kota ini dengan nada nelangsa.

Bukankah disperdagin sudah menawarkan tempat lain untuk berjualan? An mengaku, teman-teman seperjuangannya itu juga memikirkan hal tersebut. Bagaimana bila berjualan di tempat baru, yang ditawarkan oleh pemkot? Yaitu di Pasar Pahing atau di Pasar Setonobetek. Namun, mereka merasa berat.

“Jualan di tempat lain kan juga harus mbabat alas lagi. Nggak bisa langsung ramai,” kilahnya.

Lalu, bagaimana asal-usul si bos sampai punya rombong di belasan titik? An menerangkan, bosnya tersebut membeli dari pedagang lain. Ada yang menawarkan, kemudian si bos menyurvei lokasi. Jadi, tidak ada kaitan dengan monopoli.

Pemilik rombong tersebut sebelumnya juga membeli dari orang-orang sekitar. Ketika ada yang menawarkan untuk menjual rombong, pemilik tersebut mendatangi lokasi untuk survei.

“Kalau dibilang presmanisme ya tidak. Rombongnya itu dia juga beli sendiri. Sebelum dibeli itu juga survei ke sebelah-sebelahnya juga, dibeli sebelahnya atau tidak,” papar An.

Yang pasti, menurut An, setelah penertiban pendapatannya menurun dibanding sebelumnya. Satu malam dia hanya mengantongi Rp 150 ribu. Itupun termasuk persenan atau komisi dari sang bos.

“Sebenarnya tidak apa-apa ribet harus nutup terus pindah lagi. Tapi kalau kayak gini pendapatannya tidak bisa maksimal,” keluhnya.

Selain itu, ada yang dia keluhkan dengan penataan serta penertiban saat ini. Yaitu posisi rombong yang harus miring atau serong. Tidak lurus searah jalan.

“Kalau serong gini takutnya ditrabak soalnya kan ini malah makan badan jalan,” ucapnya.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#pedagang #radar kediri #jalan dhoho #kediri #kuliner #pkl #jawapos