JP Radar Kediri - Penataan dan penertiban Jalan Dhoho tentu saja ‘memakan korban’. Siapa lagi kalau bukan para PKL. Mereka pun harus pintar bersiasat agar tetap bisa mengais rupiah sejak maghrib.
Mal duduk termenung di dekat rombong nasi goreng (nasgor)-nya. Tak banyak pembeli yang mendatangi tempatnya berjualan saat itu. Tidak seperti sebelumnya, ketika setelah maghrib buka banyak yang berdatangan.
Maklum, kini pria itu harus berjualan tidak lagi di Jalan Dhoho. Khususnya ketika waktu maghrib seperti itu. Dia harus berjualan dulu di gang-gang kecil di sekitar Jalan Dhoho.
“Habis maghrib sepert ini buka dulu di gang ini. Nanti setengah sembilan (pkl 20.30, Red) baru pindah ke Jalan Dhoho,” akunya.
Ya, Disperdagin Kota Kediri memang menetapkan aturann baru bagi PKL di Jalan Dhoho. Jika sebelumnya banyak yang sudah beroperasi pukul 19.00, kini tidak bisa lagi. Mereka harus berjualan mulai pukul 21.00.
Meskipun menyiasati dengan berjualan terlebih dulu di gang sekitar Jalan Dhoho, cara ini belum terlalu mengena. Tidak banyak pelanggan yang datang karena masih belum tahu. Sebab, menurut Mal, kebijakan itu dianggapnya mendadak. Tidak diberitahukan jauh-jauh hari.
“Jam setengah 9 baru boleh masuk ke Jalan Dhoho. Kalau di bawah jam tersebut ada satpol PP yang sudah siap dengan truk. Nanti dibawa rombongnya,” ujarnya.
Mal mengaku, disperdagin memberikan pilihan. Jika tidak mau berjualan pukul 21.00, ada tempat berjualan lain di Pasar Setonobetek, Pahing, dan Bandar.
“Kalau pindah ke sana juga sama aja, mbabat anyar. Pelanggannya sudah tahunya jualan di sini,” dalihnya.
Kini, pendapatannya pun tak bisa diprediksi. Jika biasanya pukul 19.00 sudah ramai lalu-lalang masyarakat membeli makan di jalan Dhoho, kini harus buka di gang-gang kecil terlebih dahulu.
“Mau gimana lagi, ya ditelateni aja. Tetap kalah sama yang bayar pajak. Kalau ini kan ngga bayar pajak. Cuman bayar biaya kebersihan,” jelas pria yang berjualan di Jalan Dhoho sejak 12 tahun itu.
Kebijakan ini, menurut Mal tidak pertama kalinya. Sebab sebelumnya sudah ada kebijakan yang sama. Namun hanya berlaku satu minggu saja.
“Lha ini modelnya seperti pandemi lagi, orang berjualan dioyak-oyak,” keluh Mal.
Dengan kebijakan seperti ini, dia pun juga memilih tutup lebih malam. “Tutupnya pun juga semakin malam, biasanya jam 1 sekarang jam 2 tutupnya,” paparnya.
Lebih lanjut, Mal mengungkapkan, selama berdagang di jalan Dhoho dirinya tidak pernah mendapat keluhan dari pemilik toko.
“Pemilik tokonya ini juga baik, dulu pas awal minta izin juga diizinin,” tandasnya.
Keluhan yang senada juga turut disampaikan oleh penjual nasi goreng lain, Ko. Ia menyebut seluruh pedagang jalan Dhoho terimbas semua.
“Semua sepi, toko-toko juga sepi,” keluh Ko.
Selain itu, teman seperjuangannya pun beberapa lebih memilih untuk tidak kembali berjualan di jalan Dhoho. “Sebagian banyak yang pindah juga teman-teman yang lain,” tandasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah