JP RADAR KEDIRI- Tempat-tempat ini punya penduduk yang mayoritas umat Kristiani. Namun, ketika perayaan Natal, toleransi sangat dijunjung tinggi. Warga agama lain pun tetap membuka pintu ketika waktu silaturahmi.
Namanya Desa Segaran. Secara administratif merupakan wilayah Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri. Berada di lereng Gunung Kelud. Daerah ini masuk dalam kawasan rawan bencana (KRB) 3.
Menariknya, Desa Segaran adalah satu di antara sedikit daerah yang punya mayoritas penduduk Nasrani di Kabupaten Kediri.
Dari total 2.018 jiwa penduduk desa ini, 1.900 di antaranya adalah pemeluk Kristen.
Karena mayoritas penduduknya Kristiani, geliat warga menjelang perayaan Natal seperti saat ini sangat terasa.
Berbagai persiapan dilakukan. Sebagian lagi sudah berlangsung sejak akhir November lalu. Terutama yang terkait dengan ibadah misa di gereja.
“Pada 31 November lalu kami sudah melakukan persiapan menjelang ibadah Perjamuan Agung yang berlangsung 1 Desember,” terang Kepala Desa Segaran Dwija Kristianta.
Kades yang juga wakil Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Segaran ini mengatakan, mereka punya tradisi perayaan Natal yang berlangsung turun-temurun.
Dan itu juga melibatkan warga yang beragama lain. Dimulai ketika perayaan Suka Cita Natal pada 24 Desember malam. Kemudian, setelah misa 25 Desember ada bagi-bagi nasi lengkong.
“Namanya nasi lengkong karena dulu menggunakan pelepah pisang sebagai tempatnya. Kemudian, berganti dibungkus daun pisang. Tapi, sekarang sudah ganti nasi kotak. Tapi sebutannya tetap lengkong,” terang sang kades.
Rangkaian perayaan tak berhenti di situ. Pada 1 Januari nanti, berlangsung silaturahmi. Warga akan saling bertamu.
Lengkap dengan suguhan makanan ringan mirip seperti ketika Lebaran. Juga, ada pemberian uang saku kepada para bocah.
Menariknya, warga non-Kristiani pun membuka rumah mereka. Menerima anjangsana para umat Kristiani. Termasuk pula menyediakan jamuan makanan ringan.
"Ini sudah menjadi kebiasaan kami. Saling menghargai dan menghormati. Sehingga bisa saling berdampingan," tandas Kades Dwija.
Hal serupa juga berlangsung di Desa Kunjang, desa di Kecamatan Ngancar yang penduduknya juga mayoritas jemaah GKJW Sindurejo.
Yang sedikit berbeda, di tempat ini ada kegiatan yang bernama Aksi Natal. Berlangsung setelah misa pada 25 Desember. Diteruskan dengan acara silaturahmi pada 1 Januari.
“Saat silaturahmi itu banyak yang mengais rezeki, seperti mengamen. Namanya momen suka cita, tentu warga juga memberi,” terang Pendeta GKJW Sindurejo Ida Bagus Rex Riant.
Di Desa Sidorejo di Kecamatan Pare, desa yang juga berpenduduk mayoritas Nasrani, kemeriahan Natal sudah terasa jauh-jauh hari.
Sepanjang jalan daerah ini sudah dihiasi penjor. Bambu-bambu melengkung dengan hiasan lampu warna-warni berada di kanan-kiri Jalan MT Haryono hingga Jalan Letjen Sutoyo.
Bila melintas di malam hari serasa masuk lorong lampu.
“Seperti terowongan, dan ini membentuk salib. Dari ujung timur sampai barat dan dari perempatan ini (dekat lokasi gereja, Red) dari selatan ke utara,” terang Pendeta GKJW Sidorejo David Prasetyawan.
Kemudian, ada belasan kelompok warga yang terbentuk. Setiap kelompok memiliki kegiatan sendiri-sendiri.
Seperti pentas menyanyi, menari, drama, menari, hingga karawitan. Semua kegiatan berlangsung bergantian hingga saat Natal.
Menariknya, ada juga aktivitas yang disebut Riyayan. Saat Riyayan ini ada tradisi saling mengirim makanan ke sanak saudara.
“(Istilahnya) andum berkat (membagi berkat, Red),” terang pendeta asal Malang ini sambil menyebut suasana kian meriah karena banyak warga yang merantau pulang, alias mudik.
Sementara, di Desa Puhsarang, Kecamatan Semen, tradisi kenduri dan anjangsana juga tetap terjaga saat Natal. Tradisi itu berlangsung setelah misa yang digelar dua kali di Gereja Puhsarang.
“Kami kumpul di pendapa. Bawa makanan sendiri, bawa berkat sendiri, dari rumah masing-masing. Nanti dibagi bersama,” terang Ketua Stasi Santa Maria Puhsarang Suwito.
Selain kenduri, ada pula acara silaturahmi oleh Umat Katolik di sini. Juga melibatkan warga agama lain.
“Campur di sini. Kanan kiri saya juga Muslim. Gereja ini kan termasuk RT saya, dari dulu saling menghargai,” katanya.
Bersilaturahmi dengan tetangga seusai melaksanakan Misa pun tetap dilakukan di sana.
Hal serupa dilakukan setiap Hari Raya Idul Fitri. Ketika Natal, para tetangga pun akan saling mengunjungi rumah-rumah umat Katolik di sekitar Gereja Puhsarang.
“Itu justru harus. Aja sampek hilang. Persaudaraan itu harus kita pupuk terus,” pungkasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah