JP Radar Kediri- Menjamurnya minimarket berjejaring nasional di Kabupaten Kediri tidak hanya berpengaruh pada pasar tradisional. Melainkan juga membuat minimarket lokal kembang kempis.
Sebab, mereka harus bersaing dengan swalayan berjejaring nasional dengan modal yang tak terbatas.
Rini Susiana, kepala Swalayan Kartini di Desa Doko, Ngasem mengakui jika semakin banyaknya minimarket berjejaring nasional itu membuat mereka sulit bersaing. Apalagi, modal waralaba tersebut sangat besar.
“Karena memang sudah punya nama, sehingga orang akan lebih tertarik ke sana (toko jejaring nasional seperti Indomaret dan Alfamart),” kata Rini. Meski demikian, dia bersyukur swalayan yang berdiri sejak 2019 silam itu masih bisa bertahan dengan omzet naik turun.
Dikepung tiga unit swalayan berjejaring nasional, Rini melakukan beberapa cara agar bisa bersaing. Di antaranya, mengurangi margin laba untuk tiap barang yang dijual.
“Hanya 13 sampai 15 persen per barang. Jadi harga bisa lebih murah dari Indomaret dan Alfamart. Selisih bisa Rp 1.000 sampai Rp 2.000,” akunya.
Tak mau kalah lengkap dengan Indomaret dan Alfamart, Rini mengaku menyediakan berbagai jenis barang yang dicari oleh pelanggan.
Sehingga, saat pembeli masuk ke toko, apapun kebutuhan mereka bisa terpenuhi.
“Walau stok tidak terlalu banyak, asalkan lengkap. Ketika ada orang datang bisa menemukan yang dicari,” tuturnya sembari menyebut pihaknya juga memperhatikan pelayanan.
Terpisah, Wan, 53, salah satu pemilik franchise Indomaret dan Alfamart mengaku bahwa usahanya itu tidak mematikan toko kecil.
Sebaliknya, keberadaan gerai jejaring nasional itu justru mempermudah masyarakat.
“Yang mungkin biasanya beli di mall besar yang jaraknya jauh dengan rumah, akan dipermudah dengan adanya minimarket di dekat rumahnya,” bebernya.
Baca Juga: Dilema para Difabel di Kediri yang Sering Ikut Pelatihan tapi Tak Kunjung Dapat Kerja
Selain itu, dia mengaku selalu berupaya agar masyakarat sekitar bisa mendapatkan dampak positif dari keberadaan tokonya.
Selain rutin berbagi pada warga sekitar, dia juga mengonsep minimarketnya ramah pedagang kecil.
Yakni, dengan membuka lahan sekitar agar bisa digunakan warga untuk berjualan.
“Outlet-outlet makanan juga boleh berjualan di halaman minimarket,” jelasnya.
Dengan demikian, saat konsumen usai berbelanja di minimarket, mereka bisa membeli beberapa produk yang dijual oleh outlet di sana.
“Yang berbahaya itu kalau investornya dari luar. Mayoritas investor luar tidak memperhatikan lingkungan sekitar. Yang penting buka, yang penting usaha lancar. Tidak memperhatikan sekitarnya,” dalihnya sembari menyebut dari ratusan minimarket berjejaring di Kabupaten Kediri, tidak sedikit yang investornya berasal dari luar daerah.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah