Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Seberapa Penting Sebenarnya Bus Satria bagi Warga Kota Kediri?

Emilia Susanti • Minggu, 8 Desember 2024 | 17:41 WIB
GRATIS: Bus Satria saat melintas di jalanan Kota Kediri.
GRATIS: Bus Satria saat melintas di jalanan Kota Kediri.

KEDIRI, JP Radar Kediri - Anda pernah naik bus Satria? Jika belum, sudah selayaknya segera mencoba. Selain gratis, keliling Kota Kediri menggunakan armada yang disiapkan oleh Pemkot Kediri ini terasa lega karena tidak harus berdesak-desakan seperti bus komersil lainnya.

Minggu ini adalah pekan penilaian akhir semester (PAS). Pada jam-jam keberangkatan dan kepulangan sekolah, bus Satria biasanya padat penumpang.

Jawa Pos Radar Kediri pun memilih untuk naik pukul 10.48 di halte Jl Hayam Wuruk, Rabu (4/12) lalu. Di jam itu, siswa SD dan SMP Kota Kediri dijadwalkan pulang setelah selesai mengerjakan soal dua mata ujian.

Dari salah satu pusat keramaian Kota Kediri itu, bus melaju pelan menuju ke Jl Brawijaya, belok ke Jl WR Supratman, hingga masuk Jl Diponegoro. Di depan SMPN 1 Kota Kediri, bus berhenti menurunkan pelajar yang hendak ujian sesi kedua.

“Mau kemana? Ini antar anak sekolah dulu. Berhentinya di terminal (Terminal Tamanan, Red),” kondektur bus memberi tahu rencana perjalanan bus Satria. Untuk menyisir sejumlah sekolah di Kota Kediri, bus kembali masuk ke Jl Brawijaya. Selanjutnya ke Jl Wakhid Hasyim.

Beberapa pelajar turun di sejumlah gang sepanjang Jl Wakhid Hasyim. Hanya dalam hitungan menit, bus dengan kapasitas 35 penumpang itu kosong melompong. Menyisakan Jawa Pos Radar Kediri dan satu pelajar perempuan yang belakangan turun di Jl Semeru.

Praktis, bus berwarna kombinasi biru, ungu, dan kuning itu hanya berisi sopir, kondektur, dan koran ini hingga di Terminal Tamanan. “Nggak mesti sepi begini. Kadang sepi, kadang juga ramai,” lanjut kondektur bus yang enggan menyebutkan namanya itu.

Penasaran dengan kondisi bus Satria di akhir pekan, koran ini kembali naik bus pada Sabtu (7/12) kemarin. Berangkat dari Terminal Tamanan pukul 08.00, tidak ada penumpang lain yang menunggu di sana.

Kali ini, Jawa Pos Radar Kediri mendapat bus yang kursinya ditata berhadap-hadapan. Mirip penataan Light Rail Transit (LRT) di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Di dalam bus dengan kapasitas tempat duduk 20 orang itu juga dilengkapi pegangan untuk penumpang yang berdiri.

Namun, dengan kosongnya bus kemarin pagi, tidak ada penumpang yang memanfaatkannya. Berjalan sekitar 500 meter, baru ada penumpang di Jl Dr Saharjo.

Selanjutnya, kembali masuk penumpang di halte Kelurahan Campurejo. Tepatnya di depan RSU Lirboyo. Dua penumpang lainnya naik di halte Jl Veteran.

Saat bus tiba di halte Kelurahan Banjaran, ada seorang ibu yang mengajak dua anaknya. “Ngunyerne anak-anak tok Mbak (Mengajak anak-anak keliling, Red),” kata perempuan yang kemarin berkaus putih itu sambil tersenyum.

Tak lama kemudian, kembali naik satu penumpang di halte Jl Hayam Wuruk. Seperti penumpang sebelumnya, wanita berusia sekitar 50 tahun itu juga sengaja naik bus Satria untuk keliling kota. Dia sengaja memarkir motornya di sekitar Kediri Mall. Selanjutnya, naik bus Satria untuk keliling Kota Tahu. “Biasanya sama cucu, setiap sore naik bus,” akunya.

Jika kemarin pagi sepi, menurut perempuan asal Kelurahan Ngadirejo, Kota Kediri itu, biasanya pada Sabtu malam bus selalu ramai. “Malam minggu ramai. Kayak rekreasi,” papar perempuan yang kemarin pagi memakai jilbab cokelat itu.

Meski kini mulai banyak warga Kota Kediri yang mengakses bus Satria, tidak sedikit pula yang belum mengerti keberadaan bus gratis itu. Seperti yang dikatakan Shendy Septiana, 27. Perempuan asal Kelurahan Pocanan, Kota Kediri itu mengaku tidak tahu jika naik bus Satria itu tak berbayar. “Belum pernah naik juga,” tutur perempuan yang sehari-hari lebih senang menggunakan kendaraan pribadi itu.

Hal senada diungkapkan oleh Abdil, 28, warga Kelurahan Ngronggo, Kota Kediri. Dia mengaku belum pernah mencoba moda transportasi gratis itu karena belum memiliki cukup waktu. Seperti halnya Shendy, Abdil lebih senang menggunakan kendaraan pribadi. “Ya bagus ada bus, apalagi bisa dipakai anak sekolah juga,” jelasnya.

Terpisah, Dosen Teknik Elektro Universitas Islam Kadiri (Uniska) Kediri Danang Erwanto mengapresiasi keberadaan bus Satria. Namun, menurutnya masih perlu ada aplikasi untuk menunjukkan keberadaan bus SATRIA secara real time. Dengan demikian, operasional bus Satria bisa lebih efektif.

Aplikasi untuk bus Satria menurut Danang bisa didesain seperti aplikasi ojek online. Sehingga, masyarakat bisa melacak keberadaan bus. Selanjutnya, mereka bisa memperkirakan waktunya bila ingin naik bus Satria.

Di sisi lain, masyarakat juga akan mendapat kepastian tentang ada atau tidaknya bus yang lewat saat mereka membutuhkannya. “Saat ini orang tidak bisa menunggu. Kalau terlalu lama bosan,” jelasnya.

Dengan beroperasinya Bandara Dhoho, menurut Danang keberadaan transportasi umum memang penting. Sudah selayaknya, aplikasi bus Satria juga dilengkapi dengan tempat-tempat kuliner di Kota Kediri. Demikian pula tempat wisatanya. Cara tersebut sekaligus akan membawa dampak positif bagi perekonomian daerah. “Harus ada kajian untuk menentukan trayeknya agar keberadaannya benar-benar membantu masyarakat,” tandasnya.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#transportasi publik #kendaraan umum #pemkot kediri #bus SATRIA #dishub #kota kediri