JP Radar Kediri - Berdebat soal perlu tidaknya ujian nasional ibarat menghitung suara tokek. Yang muaranya bergantung pada kebijakan pemerintah. Lalu, bagaimana suara guru dan orang tua?
Sudah jadi semacam adagium di negeri ini. Setiap ganti selalu diwarnai pergantian peraturan.
Tak terkecuali kali ini, wacana akan kembali bergulirnya ujian nasional (UN) mengemuka seiring dengan sinyalemen yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Yang akan mengeveluasi lagi aturan peniadaan UN tersebut.
Pertanyaannya, manakah yang lebih pas diterapkan di tanah air? Apakah model assessment nasional (AN) yang berlaku sejak era kurikulum Merdeka? Atau, mengembalikan format UN seperti sebelum itu?
Man, 40, salah seorang guru di Kota Kediri yang enggan namanya ditulis lengkap, mengaku lebih sreg dengan kurikulum Merdeka. Yang mengganti UN dengan AN. Tapi-dia masih menambahi dengan kata ini-tetap saja ada sisi positif dan negatif dari pelaksanaan AN tersebut.
“(Pelaksanaannya) kurang representative. Karena yang ikut AN hanya anak kelas lima. Untuk menilai mutu satu sekolah, ya…itu kurang objektif,” ujarnya beralasan.
Apalagi pertanyaan di AN berkutat pelaksanaan pendidikan di sekolah. Seperti soal fasilitas, relasi dengan teman dan guru, hingga ekosistem dan budaya di sekolah.
“Memang, hasilnya bisa kami jadikan bahan evaluasi untuk metode pembelajaran tahun berikutnya. Tapi dari sisi pemahaman materi siswa masih kurang tergali,” kilahnya.
Selain itu, penilaian guru parameternya hanya siswa memahami. Bukan lagi siswa bisa mempraktikkan.
Karena itu, menurut guru sekolah dasar ini, soal pemahaman siswa sekarang kalah jauh dengan yang dulu.
Pendapat hampir sama diutarakan Sal, 38, yang juga tak berani namanya ditulis lengkap.
Menurut guru SD ini, produk Merdeka Belajar-seperti AN dan proyek penguatan profil pelajar Pancasila (P5)-mampu menggali kreativias dan rasa percaya diri siswa.
Selain itu, hasil AN-yang dikurasi dalam bentuk rapor pendidikan-bisa dipelajari sekolah. Sebagai acuan perbaikan mutu pendidikan. Sebab, yang dinilai tak hanya siswa melainkan juga guru.
“Misal di AN ada pertanyaan, sudahkah mendapatkan edukasi seksual? Jika belum, maka akan deprogram untuk tahun berikutnya,” sebutnya, sambil menyebut materi tersebut penting untuk mencegah terjadinya kekerasan seksual pada anak. Namun, dia mengakui, ada sisi buruk dengan tidak adanya UN.
Yaitu sifat kompetitif siswa terkikis. Karena itu, menurut Sal, menakar kemampuan siswa tetap dibutuhkan. Sebagai cara merangsang jiwa kompetisi.
“Tidak harus dalam bentuk UN. Tapi tetap harus ada ujian agar anak-anak tetap memiliki semangat berkompetisi. Minimal ujian untuk naik kelas atau masuk ke SMP,” tandasnya.
Itu suara guru, lalu bagaimana dengan orang tua? Pada dasarnya, ada atau tidaknya UN, yang mereka inginkan adalah peningkatan kualitas pendidikan.
“Yang penting digalakkan gemar membaca,” harap Yanto, seorang wali murid.
Pria yang memiliki anak kelas 10 SMA ini menyebut, UN punya sisi posistif negatif. Yang bisa menjadi beban siswa karena dituntut belajar materi tiga tahun hanya untuk ujian dalam sehari. Hal itu membuat tekanan psikologis tersendiri. Hingga banyak yang stres.
Pelaksanaan UN juga memancing ketidakadilan pendidikan. Siswa di daerah terpencil sulit bersaing dengan siswa dari daaerah maju. Karena keterbatasan fasilitas.
Beda dengan Meta. Perempuan 45 tahun ini menganggap tiadanya UN membuat siswa jadi malas. Tergantung pada internet dan menggampangkan pelajaran. Karena itu, bila ada UN maka motivasi belajar lebih terpacu.
Perempuan asal Mojoroto, Kota Kediri ini merasakan bagaimana sulitnya meminta anaknya belajar meskipun tak ada ujian. Karena itu, dia merasa perlu ada UN, yang bisa menilai sejauh mana siswa memahami materi.
“Kenyataannya kalau anak belum paham materinya tapi nilainya dimanipulasi kan pada waktu naik kelas anaknya jadi ngga bisa apa-apa,” dalihnya.
Baca Juga: Dulu Tempat-tempat Wisata di Kediri Ini Pernah Viral, Sekarang Begini Nasibnya
Selain itu, dengan adanya UN bisa mendorong siswa untuk mempersiapkan diri dengan lebih baik. Hal ini juga bisa menciptakan semangat dalam mengejar nilai bagus.
“Memang tidak dipungkiri nilai bagus bukan penentu masa depan yang cerah. namun, membuka opportunity untuk mengikuti beasiswa maupun olimpiade,” pungkas perempuan dengan dua anak ini.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah