Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Soal Perempuan Seksi Jadi Pelayan Angkringan, Pengamat Menyebutnya Visual Marketing

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Minggu, 17 November 2024 | 15:59 WIB

 

BUKAN EKSPLOITASI: Perempuan yang menjadi pelayan di salah satu angkringan di Kediri.
BUKAN EKSPLOITASI: Perempuan yang menjadi pelayan di salah satu angkringan di Kediri.

JP Radar Kediri - Menonjolkan pelayan dengan wajah cantik dan bodi seksi tak memiliki unsur eksploitasi. Melainkan menjadi salah satu strategi marketing. Yang juga banyak dilakukan di bisnis lain.

“Namanya visual marketing,” jelas pengamat ekonomi Subagyo.

Menurut dosen di UNP Kediri ini, hal tersebut juga wajar. Berdandan dan berpakaian seksi akan membuat konsumen tertarik. Hal ini juga dilakukan bisnis gadget, rokok, maupun otomotif. Yang selalu menyertakan sales promotion girl berwajah cantik dan seksi.

Soal eksploitasi, Subagyo menyebut tak ada dalam fenomena ini. Meskipun demikian, tak bisa dihindari munculnya stigma oleh masyarakat. Ada stereotip buruk dari hal seperti itu.

“Seakan-akan penampilan fisik jadi lebih penting dari skill profesional,” urainya, sambil menyebut munculnya cap cewek nakal pada pelayan angkringan.

Sementara, pengamat sosial Elis Yusniyawati mengatakan, fenomena ini sudah ada sejak lama. Produsen menggunakan tenaga perempuan sebagai pemeran utama untuk memasarkan sesuatu.

Karena ketika perempuan berbicara akan lebih mempengaruhi lawan bicaranya, juga bisa dipercaya. Hal itu dikarenakan penyampaiannya yang lebih lembut, enak, dan bisa diterima. Apalagi perempuan tampil dengan menarik.

“Misalnya didandani cantik, dengan baju seksi,” jelas dosen komunikasi, sosial dan politik di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung ini.

Hal itu bisa membuat lawan bicara perempuan terbius dengan visual. Sehingga Ketika perempuan mempersuasi, maka lawannya akan menuruti.

Dalam konteks gender, laki-laki itu mudah dialihkan perhatiannya, sehingga membuatnya tidak fokus terhadap apa yang dihadapi. Yang mengakibatkan dia mudah dipengaruhi.

“Ke dalam konteks marketing, hanya perempuan yang bisa melakukan itu untuk mengalihkan laki-laki demi terwujudnya penjualan. Lebih jauh perempuan bisa dimaknai sebagai simbol penaklukan,” jelasnya.

Perempuan yang akrab disapa Elis itu mengatakan, menurutnya hal ini tidak terlepas dari pengaruh budaya patriarki.

Baca Juga: Menelusuri Angkringan-angkringan dengan Pelayan Seksi di Kediri, Pengunjungnya Ada yang Datang dari Surabaya

Sebenarnya bukan hanya soal keperkasaan laki-laki, relasi kuasa atau dominasi laki-laki. Justru patriarki itu menciptakan stereotip perempuan itu lemah.

“Kemudian adanya budaya Jawa yang mengatakan bahwa perempuan itu kanca wingking, perempuan tugasnya cuma diranjang masak kemudian manak,” terangnya

Budaya itulah yang menurutnya melemahkan perempuan. Sehingga muncul adanya stereotipe bahwa perempuan ini dihadirkan hanya untuk indah-indahan.

Namun, indah-indahan di sini bermakna besar. Bahwa perempuan lebih mungkin melakukan propaganda lewat daya tariknya.

“Di situ sebenarnya kopi tidak enak, gorengan tidak enak. Tapi ada daya tarik perempuan di situ yang bisa memanjakan imajinasi laki-laki. Maka angkringan itu bisa jadi pilihan. Kita ngopi buat apa? buat rileks kan, buat santai, menikmati hidup, rilis segala penat dan kecapean. Sehingga kalau ada pemandangan yang indah, disajikan di tengah-tengah kota yang notabanenya kepenantan. Itu akan menjadi satu hal yang menarik untuk dinikmati,” terangnya.

Menurutnya ini merupakan strategi yang sangat manjur.

Adanya fenomena ini menunjukkan bahwa produsen menyadari pasar itu menginginkan apa?

Dalam hal ini, kalau tidak cukup punya kualitas, maka harus punya alternatif lain untuk mem-push penjualan.

Dengan menghadirkan perempuan seksi sebagai pemandangan indah.

“Artinya dia (pemilik angkringan) tahu seberapa kuat yang dimiliki, sehingga tidak kuat maka memperkuatnya dari segi apa. Misalnya kalau aku hanya mengandalkan kopiku, aku sementara suasana dan tempat duduk hanya seperti ini, sama dengan lainnya, ini tidak akan laku. Artinya ada riset dari produsen. Ada perhitungan matang dari pemilik angkringan sehingga memutuskan,” terangnya.

Namun demikian, menurutnya, adanya hal ini berarti terjadi eksploitasi terhadap perempuan. Tidak hanya tubuh atau kemolekan, tapi juga Kemampuan "menggoda" lawannya. “Dalam artian mempersuasi targetnya,” terangnya.

Adanya hal ini juga membentuk stereotip buruk terhadap penjaga angkringan yang seksi. “Terlepas dari ada tidaknya di angkringan tersebut, terbentuk stereotipe prostitusi yang terselubung,” paparnya.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #kediri #wanita seksi #pelayan #angkringan kediri #jawa pos #perempuan cantik