Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kenapa Banyak Tempat Wisata Viral di Kediri yang Mangkrak? Ini Kata Pemkab Kediri

Emilia Susanti • Minggu, 17 November 2024 | 15:16 WIB
SEPI: Salah satu tempat wisata di Desa Canggu, Badas, Kabupaten Kediri yang mangkrak.
SEPI: Salah satu tempat wisata di Desa Canggu, Badas, Kabupaten Kediri yang mangkrak.

JP Radar Kediri - Sejatinya, keberadaan desa wisata memiliki multiplier-effect bagi perekonomian. Menciptakan lapangan dan meningkatkan pendapatan desa. Juga, merangsang tumbuhnya usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Sayang, semua itu sulit terwujud. Sebab, banyak desa wisata yang tak tahan banting. Langsung ambruk ketika kendala-seperti pandemi Covid-19-menerjang.

“Pandemi memang jadi faktor (sepinya pengunjung desa-desa wisata). Tapi, bila perencanaan dan pengelolaannya bagus, sangat mungkin bisa hidup kembali,” analisa pengamat ekonomi Subagyo.

Dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNP Kediri ini menekankan, keberadaan desa wisata harus dengan perencanaan yang matang. Mulai dari siapa konsumen yang disasar, daya belinya, serta mencari tahu desa wisata lain.

Setiap desa wisata tersebut harus menonjolkan keunikan dan kekhasan. Jika hanya mengandalkan viral, pengunjung yang datang akan enggan datang lagi.
Lebih penting lagi, pengelolaannya harus profesional. Perlu komitmen besar dari pengelola.

“Juga harus ada inovasi,” tegasnya.
Dia mengingatkan agar pengelola desa wisata tidak ambil untung sesaat. Seperti pasang tarif mahal. Karena itu akan membuat kapok pengunjung.

Di sisi lain, Subagyo menyarankan agar pemerintah daerah memberi dukungan penuh. Salah satunya dengan memberi pelatihan.

“Harus ada kolaborasi. Misalnya dengan tempat wisata yang lain, kemudian mengadakan even-even kebudayaan misalnya. Kemudian bisa menjalin kerjasama dengan UMKM,” tandasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri Adi Suwignyo tak menampik bila ada beberapa desa wisata yang ‘tenggelam’.

Dia berpendapat bahwa salah satu permasalahan di lapangan adalah masalah pengelolaan.

Pria yang akrab disapa Wig ini menjelaskan, ada tiga hal yang harus dipahami pengelola wisata. Meliputi something to see, something to do, dan something to pay.

“Sederhananya, harus ada yang bisa dipandang mata, harus ada yang bisa dilakukan, dan harus ada cara agar pengunjung mau mengeluarkan uang untuk berbelanja lebih,” terangnya.

Dia menyadari belum semua masyarakat memahami konsep desa wisata yang diharapkan pemerintah. Di sisi lain, setiap desa memiliki keunggulannya masing-masing.

Sehingga, cara untuk menghidupkan desa wisata tidak akan sama antara desa satu dengan yang lain.

“Fasilitasi dari kami ada pembinaan. Kemudian pelatihan dan monitoring,” tandasnya.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #kediri #wisata kediri #pemkab kediri #mangkrak #jawa pos