JP Radar Kediri - Dulu, tempat-tempat wisata ini viral di media sosial. Menjadi gunjingan, hingga ramai kunjungan. Sayang, tidak semuanya bisa bertahan lama.
Desa Canggu. Desa ini terletak di Kecamatan Badas. Wilayah paling utara di Kabupaten Kediri. Hampir berbatasan dengan Kabupaten Jombang.
Wilayah dengan penduduk hampir 13 ribu jiwa ini, pada 2019, sempat viral. Banyak diekspose di berbagai media sosial (medsos). Pemicunya, tempat wisata bernama Bendungan Canggu.
“Dulu, saat viral-viralnya, pengunjungnya bisa ratusan orang per hari. Kalau akhir pekan bisa lebih banyak lagi,” kenang Kepala Desa (Kades) Saptonoko.
Mengapa objek wisata ini bisa begitu viral? Pertama, karena murah. Masuknya gratis. Pengunjung yang datang hanya bayar biaya parkir saja.
“Pengunjung baru mengeluarkan uang bila memanfaatkan fasilitas wisata,” imbuh sang kades.
Sebagai daya tarik, di tempat ini pengelola menyediakan beberapa fasilitas. Seperti perahu, jaket pelampung, serta mandi bola. Harganya, sangat murah. Paling mahal sewa perahu yang mencapai Rp 25 ribu.
Bendungan Canggu juga ditata sedemikian rupa agar memikat pengunjung. Gerbang masuknya dibuat dari batang-batang bambu yang membentuk gapura.
Kemudian, di dinding bendungan ditata rumput dan tanaman hias yang membentuk tulisan Desa Wisata Bendungan Canggu.
Ada pula spot foto di setiap tepinya. Mulai gazebo-gazebo hingga jembatan dari bambu. Jembatan ini sekaligus jadi dermaga untuk naik ke perahu sewa.
Tapi, itu dulu, ketika kondisi Bendungan Canggu masih indah. Saat ini, tak ada lagi jembatan bambu yang membelah bendungan.
“Sudah rusak. Karena hanya terbuat dari bambu,” jelas Kades Saptonoko menerangkan nasib jembatan bambu tersebut.
Wahana yang dulu ada, seperti mandi bola dan sewa perahu juga tinggal cerita. Tulisan di dinding tanah dari rumput juga sudah ‘bolong’ di sana-sini. Tak terurus lagi. Kini, tempat wisata ini hanya jadi jujukan para pemancing saja.
Menurut Saptonoko, destinasi di desanya itu mulai muram kondisinya ketika pandemi covid melanda. Berbagai larangan menjadikan pengunjung langsung drop. Berujung pada rusaknya fasilitas yang ada. Pemdes pun tak bisa berbuat banyak.
Tak ada upaya melakukan renovasi? “Banyak kendala. Selain masalah dana juga soal sumber daya manusianya,” aku sang kades.
Masih ada lagi problem pelik. Ketika tempat wisata menarik banyak pengunjung, akan muncul warung dan lahan parkir yang semuanya dikelola warga.
Sayang, antar-pemilik lahan parkir dan warung saling iri. Situasi ini kian menyulitkan tempat wisata yang sempat viral ini bisa bangun lagi.
Beda lagi dengan Kampung Madu. Destinasi wisata edukasi milik Desa Bringin, juga di Kecamatan Badas ini, bisa selamat dari terjangan pandemi. Meskipun, masih banyak kelemahan di sana-sini.
Misalnya, balai pertemuan yang biasanya menerima pengunjung dalam kondisi rusak. Sarana dan prasarana juga tak lengkap.
“Kami bahkan belum punya toilet umum,” aku Zeni Irfan, sang ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Bringin, yang menjadi pengelola desa wisata.
Materi edukasi pun sangat terbatas. Hanya ada tentang peternakan madu. Karena itu terkesan monoton. Tak heran bila pengunjung tak sesuai ekspektasi.
Harapan ada yang menginap agar menghidupkan homestay yang disediakan tak terpenuhi. Yang ada hanya pengunjung one day visit alias datang langsung pulang.
Lebih-lebih, edukasi tentang ternak lebah madu juga kurang maksimal daya tariknya. Sebab, meskipun dikenal sebagai Kampung Madu, warga yang memiliki peternakan lebah tak berada di desa ini.
Kotak-kotak lebah ditempatkan di hutan-hutan, yang kadang lokasinya sangat jauh. Padahal, hutan terdekat saja jaraknya masih berkilo-kilo meter dari desa ini.
Lalu, apa yang diberikan kepada wisatawan? “Kami mengenalkan tentang proses terjadinya madu. Mulai dari pengenalan jenis lebah, teknik pembudidayaan, hingga proses panen. Yang bercerita warga desa yang memang mayoritas adalah peternak lebah madu,” urai Irfan.
Jadi, memang tak ada aksi panen madu langsung dari sarangnya. Bila ingin merasakan madu hasil panen warga, pengunjung bisa membeli di kios-kios yang berderet di tepi jalan.
Baca Juga: Melihat Nasib Kantor Pos Kini di Tengah Persaingan dengan Perusahaan Ekspedisi
Beberapa upaya dilakukan agar Kampung Madu tetap eksis sebagai destinasi wisata edukasi. Seperti menggelar festival tumpeng madu. Sayang, festival ini sudah tidak ada lagi.
“Karena peresmian dekat dengan pandemi, setelah buka kemudian tutup tidak ada kegiatan,” dalih Irfan.
Untungnya, saat pandemi datang, pengelola memanfaatkan digital marketing untuk terus berpromosi.
Sehingga, berkat pelatihan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kediri itu, bisa menjaga eksistensinya. Saat pandemi mereda, Kampung Madu masih terus mendapatkan pengunjung. Walaupun tidak terlalu banyak. Dalam setahun, setidaknya ada 2 ribuan orang yang datang.
Upaya lain, pengelola berusaha menjalin kerja sama dengan desa wisata lain yang masih satu kecamatan.
Seperti Desa Sekoto dengan usaha batiknya, Desa Canggu dengan candi dan bendungan, serta Desa Tegowangi di Kecamatan Plemahan. Namun, semua itu masih belum bisa menarik pengunjung untuk menginap di desa ini.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah