Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Melihat Nasib Kantor Pos Kini di Tengah Persaingan dengan Perusahaan Ekspedisi

Emilia Susanti • Rabu, 9 Oktober 2024 | 16:49 WIB
Photo
Photo

JP Radar Kediri-Dulu, tempat ini selalu jadi jujukan warga. Berkirim surat, berkirim barang, atau kirim uang. Kini, masa-masa itu hanya jadi kenangan.

Bila bertanya tentang Kantor Pos pada generasi sebelum Gen-Z, jawaban yang didapat pastilah seru. Tiga generasi itu-baby boomers, X, dan Y-merasakan betul bagaimana Kantor Pos mewarnai kehidupan mereka. Hingga ke sendi-sendi terdalam.

Di era 1990-an, dan tentu saja sebelumnya, Kantor Pos bukan sekadar tempat mengirim barang atau mengambil uang pensiunan. Tapi, juga sebagai sarana menjalin komunikasi dengan orang yang jauh. Belum ada handphone, membuat surat-menyurat adalah cara berkomunikasi yang banyak dipilih.

Demikian halnya cara mengirim uang. Transfer antar-bank bukanlah sesuatu yang familiar bagi generasi saat itu. Mereka lebih mengenal wesel pos. Cara mengirim uang melalui Kantor Pos.

Geliat seperti itu kian terasa ketika Lebaran atau Hari Raya Natal. Kartu ucapan menjadi objek yang paling banyak dicari dan dikirim. Penulis dan pelukis kartu ucapan bakal muncul di halaman Kantor Pos. Melayani bagi mereka yang menginginkan.

Tapi, itu dulu. Nyaris semua aktivitas tergerus dengan kemajuan teknologi komunikasi. Pesatnya perkembangan internet membuat surat, wesel, kartu ucapan menjadi satu hal yang lenyap ditelan zaman. Dan, Kantor Pos pun meredup namanya seiring dengan kian massifnya penggunaan internet dan telepon genggam.

Lalu, apa yang dikerjakan oleh Kantor Pos saat ini? “Kami memilih bertransformasi,” kata Executive Manager PT Pos Indonesia Cabang Kediri Tria Nugroho.

Ditemui di kantornya beberapa waktu lalu, lelaki ini menjabarkan beberapa hal yang dilakukan perusahaannya agar eksis. “Di era digitalisasi sekarang ini kami sudah meluncurkan beberapa aplikasi, untuk mengikuti perkembangan zaman,” sambungnya.

Tria-demikian dia biasa disapa-tak menampik fakta ada penurunan konsumen yang mendatangi Kantor Pos. Meskipun, masih ada yang memanfaatkan keberadaan kantornya untuk bersosialisasi. Seperti kelompok lanjut usia (lansia) yang rutin menyambangi kantornya sebulan sekali.

“Contohnya pensiunan. Datang ngambil tuh (uang pensiun, Red), ketemu temen-temennya, itu momen. Istilahnya reuni kecil," ceritanya, ketika berada di ruang kerjanya.

Untuk jenis bisnis yang diurusi, memang tidak ada perubahan. Masih ada surat-menyurat dengan perangko. Meskipun kini didominasi instansi dengan jenis surat dinas. Atau, masih ada pula pengoleksi perangko yang membutuhkan keluaran terbaru.

Tria juga sadar, tingkat persaingan bisnis saat ini sangat ketat. Dengan fokus pada ekspedisi dan bisnis pembayaran, Kantor Pos harus pandai bersaing dengan kompetitor. Karena itulah mereka juga meluncurkan berbagai terobosan untuk mendekatkan diri pada konsumen.

Upaya itu di antaranya adalah meluncurkan beberapa aplikasi. Seperti Pospay dan PosAja. Kemudian juga membangun kemitraan dengan masyarakat.

"Kami ada pengembangan di keagenan. Kami bermitra, jadi kami ada Agen Pos dan Pospay Kios," urai Tria.

Soal karyawan, Tria mengaku mereka tak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK), terutama saat ada Pandemi Covid-19. Memang ada PHK namun bagi yang sudah waktunya pensiun.

Kemudian, agar lebih mengefisienkan diri, sistem kepegawaian pun mengalami perubahan. Kantor Pos mulai menerapkan model kemitraan untuk beberapa kelompok kerja. Muali kurir hingga layanan loket.

“Kami bermitra. Pengantar kami kemitraan, namanya O-ranger antaran. Di loket O-ranger loket. Lalu ada O-ranger mobile, itu mencari pangsa pasar baru. Cari pelanggan-pelanggan baru dan pick up pun bisa. Penggajiannya merujuk dari transaksi,” paparnya.

Semua upaya itu dilakukan karena Kantor Pos belum ingin disebut perusahaan yang mati. Meskipun saat ini tak lagi menjadi penguasa pasar. Setidaknya, mereka tetap bertahan menghadapi segala tantangan. Apalagi, Pemerintah masih menjadikan badan usaha ini sebagai tempat penyaluran bantuan sosial (bansos).

"Penugasan dari pemerintah, di samping dampaknya ya mungkin untuk mendukung eksistensi kami," tandasnya.

Saat ini Kantor Pos tak lagi mengandalkan kantor cabang di tiap kecamatan. Sebagai gantinya, ada ratusan agen pos yang tersebar di Kediri. Berdasar data Kantor Pos Kediri, jumlahnya mencapai dua ratus. Meskipun, kenyataannya, tidak semuanya aktif.

"Ya ada yang aktif dan beberapa ada yang nggak aktif," aku Tria Nugraha.

Jawa Pos Radar Kediri sempat mendatangi beberapa agen pos. Faktanya, dari lima yang dikunjungi, hanya dua yang masih beroperasi. Yaitu yang ada di Kelurahan Bangsal dan Singonegaran, semuanya di Kecamatan Pesantren.

Sementara, tiga yang sudah tidak beroperasi berada di Kelurahan Ngadirejo, Balowerti, dan Betet. Ada yang tempatnya sudah tutup dengan plang yang masih terpasang. Ada juga yang tempatnya seperti tak berpenghuni. Kemudian, ada juga yang masih membuka layanan pengiriman tetapi tidak lagi menawarkan jasa Pos Indonesia.

"Udah lama nggak jalan (agen posnya), maaf ya," kata seorang wanita, agen di Kelurahan Balowerti yang enggan diwawancarai.

Berbeda dengan Andik Setiawan. Pria ini menjadi salah satu agen yang bertahan sampai sekarang. Loket layanannya di Kelurahan Bangsal. Dan sudah berjalan selama sepuluh tahun.

"Antara 2014 atau 2015. Awal merintis ya ikut agen Pos Indonesia. Dulu masih ramai, saingannya belum banyak," katanya saat ditemui wartawan koran ini.

Lalu, pria yang akrab disapa Andik ini bercerita bagaimana dirinya tetap eksis menjadi agen pos. Caranya, dengan beradaptasi. Yaitu dengan membuka diri untuk menerima layanan pengiriman melalui perusahaan jasa kirim lainnya. Istilahnya, dia tidak bergantung lagi dengan menjadi agen pos.

"Kalau tetap pakai pos aja, nggak ada nilai tambahnya di loketku. Mau nggak mau pasti turun (usahanya). Kalau mengandalkan satu ekspedisi bisa tutup, karena nggak nyucuk antara pendapatan dan biaya operasional," dalihnya.

Kini, ada belasan jasa pengiriman yang ditawarkan di loketnya. Itu pun Andik harus menjemput bola dengan melakukan pendekatan kepada penjual di marketplace. Menariknya, Pos Indonesia ternyata masih masuk dalam lima besar jasa pengiriman yang dipilih masyarakat.

“Satu bulannya masih ada puluhan paket yang pakai pos. Kalau saya rating sendiri menjadi terbesar ketiga,” kata Andik. 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#persaingan #radar kediri #jawapos #kantor pos #perusahaan ekspedisi