Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Lipsus HUT RI: Sekolah Taman Siswa Kota Kediri Dulu Jadi Episentrum Menghadapi Penjajahan, Kini Tertatih-tatih Melawan Zaman

Ayu Ismawati • Sabtu, 17 Agustus 2024 | 15:43 WIB
SAKSI BISU: Kompleks Yayasan Taman Siswa yang menaungi TK, SMP, dan SMK.
SAKSI BISU: Kompleks Yayasan Taman Siswa yang menaungi TK, SMP, dan SMK.

JP Radar Kediri - Taman Siswa selalu punya peran besar bagi kemerdekaan bangsa. Jadi pusat mendidik kaum pribumi yang terpinggirkan hingga titik awal penyebaran kabar proklamasi oleh Soekarno-Hatta.

Kini, kondisinya tertatih-tatih menghadapi kerasnya perkembangan zaman.

Kompleks gedung di Jalan Pemuda nomor 20 Kota Kediri ini pernah menyandang nama besar.

Sebagai tempat perguruan Taman Siswa. Lembaga pendidikan yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara.

Yang menjadi ujung tombak dalam mendidik anak bangsa.

Tempat ini juga punya nilai sejarah yang lain. Menjadi pusat pergerakan, berkumpulnya para pemuda Indonesia.

Termasuk ketika berita proklamasi Bangsa Indonesia bergaung di Jakarta, tempat ini juga berperan dalam menyebarkan ke masyarakat Kediri dan sekitarnya.

Nilai sejarah seperti itu pula yang membuat gedung ini ditetapkan sebagai objek cagar budaya (OCB).

Yang perlu mendapat perhatian khusus agar kelestariannya tetap terjaga.

Sayang, kondisi yayasan ini tak lagi indah. Bahkan, semakin terjepit oleh roda perkembangan zaman.

Nyaris kalah bersaing dengan lembaga pendidikan lain, baik negeri maupun swasta.

“Sekarang bisa bertahan saja alhamdulillah,” aku Supomo, pria yang menjadi ketua Yayasan Taman Siswa Cabang Kediri.

Duduk di sofa sederhana, di gedung induk milik yayasan, pria kelahiran 1957 itu bercerita jatuh bangunnya Taman Siswa.

Serta upaya lembaga pendidikan yang berdiri pada 1932 ini bertahan di tengah massifnya perkembangan dunia pendidikan.

Kini, hanya ada tiga jenjang pendidikan saja yang bertahan. Taman Indria (taman kanak-kanak), SMP Taman Dewasa, dan SMK Taman Siswa.

Sudah tidak ada lagi jenjang Taman Muda, penyebutan untuk kelompok sekolah dasar.

Semua level pendidikan itu beraktivitas di gedung yang sudah terasa kunonya ini.

Daun pintu dan jendela kayu krepyak atau jalusi di setiap ruang kelas menambah kesan itu.

“Di belakang sana ada aula. Itu katanya dulu, Ki Hajar Dewantara pernah mengajar di sana,” sambungnya.

Kini, bukan lagi penjajah yang menjadi musuh yayasan ini. Melainkan perubahan zaman yang kian mengikis eksistensinya.

Salah satunya dari sokongan biaya dan jumlah peserta didik yang kian mengecil.

“Biaya untuk mengembangkan sekolah itu sangat minim. Bantuan BOS kan tidak bisa untuk membangun. Hanya merawat,” katanya, sembari menyebut sekolah semakin sulit mendapat bantuan pendidikan dari pemerintah.

Meredupnya pamor Taman Siswa juga terlihat dari penurunan jumlah peserta didik. Jauh berbeda dibandingkan ketika puncak kejayaannya dulu.

“Menurun jauh dibanding dulu. Sekarang stabil kecil, belum naik lagi,” tandas pria asal Jogjakarta itu.

Supomo tak menyangkal ancaman mati bagi sekolah swasta sudah sangat nyata. Dan ini membuatnya waswas.

“Dulu juga ada namanya perkumpulan pengurus yayasan, itu mengusulkan ke dinas pendidikan tapi juga nggak apa-apa lagi,” keluhnya.

Kini, dengan status sebagai cagar budaya, dia berharap bisa jadi pelecut banyak pihak.

Khususnya pemerintah agar lebih memberikan perhatian. Agar mereka ‘tidak punah’ ditelan zaman.

“Semoga tetap jadi sekolah yang abadi,” harapnya.

Alaina Sari Arifin, salah seorang pengajar di SMK Taman Siswa pun berharap serupa. Kepada Jawa Pos Radar Kediri, guru yang sudah mengajar selama sepuluh tahun itu menunjukkan jejak-jejak kejayaan Taman Siswa.

Banyak ruang-ruang kelas yang kosong dan terbengkalai karena minimnya peserta didik.

“Di sini juga ada gamelan. Cuma karena nggak ada siswanya, akhirnya nggak pernah terpakai,” katanya menunjukkan ruang tertutup berisi perlengkapan karawitan di bagian belakang.

Sebenarnya, menjadi bagian keluarga Sekolah Taman Siswa jadi hal yang membanggakan baginya. Apalagi, dengan suasana kekeluargaan yang tinggi.

Meskipun perkembangan zaman membuat sekolahnya cenderung tertinggal dibandingkan sekolah yang lain.

“Dulu memang pernah jaya dan siswanya juga banyak sekali. Seiring berjalannya waktu, akhirnya semakin surut. Nggak tahu juga kenapa,” bebernya.

Guru Bahasa Inggris di SMK Taman Siswa itu mengatakan, tahun ini hanya ada 28 siswa baru di sana.

“Dulu awal saya di sini satu kelas bisa 50 anak. Bahkan semua kelas sampai belakang ini kepakai semua,” kenangnya.

*Dengar Proklamasi di Radio, Mayor Bismo Ajak Pemuda Berkumpul di Taman Siswa*
Ada dua versi teori sejarah tentang penyebaran kabar kemerdekaan Indonesia di Kediri.

Yang pertama, hanya berselang sehari setelah teks proklamasi dibacakan Soekarno-Hatta di Pegangsaan Timur pada 17 Agustus.

Versi kedua, harus melewati beberapa kejadian terlebih dulu sebelum merah putih benar-benar berkibar.

Pemerhati sejarah Kediri Achmad Zainal Fachris mengatakan, berita tentang Soekarno-Hatta yang memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tersebar dalam waktu yang tidak bersamaan.

Di Jawa Timur, ada dua koran pada 18 Agustus 1945 yang memuat teks proklamasi. Dari situ, radio ikut menyiarkan.

“Di Kediri, ada tokoh namanya Mayor Bismo. Dia mendengarkan radio itu,” katanya.

Kekalahan Jepang dari Sekutu pada 15 Agustus 1945 berbuntut pada pembubarann seluruh organisasi semi-militer buatan Jepang. Termasuk tentara Pembela Tanah Air (PETA).

Para mantan tentara PETA dan Mayor Bismo—yang juga eks-PETA—berkumpul bersama barisan pemuda di Taman Siswa. Menyampaikan kabar kekalahan Jepang untuk pertama kalinya.

“Ayo kita sambut proklamasi, Kediri harus proklamasi juga. Jadi mengibarkan bendera Merah Putih,” bebernya bercerita tentang sejarah peristiwa di Taman Siswa, di awal masa kemerdekaan.

Raden Abdulrahim Pratalykrama—Residen Kediri saat itu—memimpin langsung perjuangan kemerdekaan di Karesidenan Kediri dengan membacakan teks proklamasi di Taman Siswa. Disusul dengan pengibaran bendera merah putih.

Pemilihan Taman Siswa bukan tanpa alasan. Karena lembaga ini satu-satunya lembaga besar yang netral dari pengaruh Belanda dan Jepang. Selain itu, terdapat balai yang biasa dijadikan tempat berkumpul para pemuda.

“Tapi orang Kediri sekarang nggak banyak yang tahu sejarahnya itu di sana,” sambung guru sejarah MAN 2 Kota Kediri itu.

Proklamasi di Taman Siswa saat itu tak serta-merta membuat Kediri merdeka.

Rentetan peristiwa yang mengiringi menambah panjang sejarah perjuangan kemerdekaan di bumi Karesidenan Kediri.

Pembina komunitas Pelestari Sejarah Budaya Kediri (PASAK) Novi Bahrul Munib menambahkan, Sekolah Taman Siswa sudah menjadi markas para pejuang perintis kemerdekaan.

Baik di era kolonialisme Belanda maupun pendudukan Jepang. Relasi Taman Siswa dengan para tokoh pergerakan masa itu tidak bisa dipisahkan.

“Posisi Taman Siswa memang sangat berperan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan segera menguasai pengelolaan militer dan birokrasi di Kediri,” katanya.

Setelah proklamasi dikumandangkan, para pemuda yang tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia melakukan long-march. Menyebarkan berita kemerdekaan.

Saat itu, ada insiden penembakan oleh tentara Jepang. Korbannya adalah putra seorang wedana (jabatan di bawah bupati yang membawahi beberapa kecamatan) dari Campurdarat, Tulungagung.

Akibatnya, para pemuda kembali berkumpul di Taman Siswa pada 20 September 1945.

Termasuk dengan para eks-PETA. Membahas upaya merebut kekuasaan di Kediri.

“Di sana mereka sepakat akan mengadakan pelucutan senjata tentara Jepang. Tapi sebelumnya didahului dengan pertemuan masyarakat di Gedung Merdeka atau dulu namanya Gedung Societeit Brantas. Kalau sekarang jadi GNI (Gedung Nasional Indonesia, Red),” bebernya.

Rapat besar di GNI pada saat itu juga sekaligus menjadi momentum mencari dukungan massa dari berbagai kelompok masyarakat.

Di sana, Raden Abdulrahim Pratalykrama mengikrarkan bahwa Kediri setia terhadap NKRI dan mendukung kemerdekaan Indonesia.

“Saat itu bisa dibilang proklamasi kemerdekaannya Kediri lah. Jadi secara resmi mendukung NKRI dan didukung masyarakat dari semua elemen,” sambung pegawai Direktorat Pelindungan Kebudayaan, Dirjen Kebudayaan Kemdikbudristek itu.

Dari sana, dilanjutkan dengan penyerbuan markas Kempeitai (polisi militer Jepang) yang berada di Jalan Brawijaya. Markas itu kini berubah fungsi menjadi rumah toko atau ruko.

Proses pelucutan senjata di sana pun berlangsung tanpa perlawanan setelah dilakukan diplomasi.

“Di sana juga terjadi penurunan bendera Jepang untuk kemudian dikibarkan bendera Indonesia di markas Kempeitai,” tandasnya.

 

 Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #kediri raya #sekolah taman siswa #melawan penjajah #episentrum #jawa pos #taman siswa #kota kediri