Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Liputan Khusus Mengunjungi Kampung Duluran, Kampungnya Para Pengemis dan Pengamen di Pare Kediri

Redaksi Radar Kediri • Rabu, 14 Agustus 2024 | 16:35 WIB
BERSANTAI: Sejumlah pekerja seks komersil (PSK) di Kampung Duluran, Desa Gedangsewu berbincang di depan wisma yang juga menjadi tempat karaoke kemarin.
BERSANTAI: Sejumlah pekerja seks komersil (PSK) di Kampung Duluran, Desa Gedangsewu berbincang di depan wisma yang juga menjadi tempat karaoke kemarin.

JP Radar Kediri- Gang yang jalannya selebar empat meter itu ditandai dengan tembok setinggi dua meter di kanan dan kirinya. Kemudian, agak ke dalam, terpasang portal yang dijaga oleh dua orang.

Yang membuat kendaraan-terutama roda empat atau lebih-harus memberitahu sang penjaga bila ingin lewat di jalan berpaving itu.

Namun, bagi kendaraan roda dua, ada jalan kecil yang bisa dilalui di bagian pinggir yang tak terjangkau ujung portal.

Gang ini sangat terkenal di wilayah Pare dan sekitarnya. Masuk wilayah Dusun Duluran, satu dari lima dusun di Desa Gedangsewu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri.

Namun, yang membuat terkenal adalah karena jalan ini adalah akses utama ke Bong Cina.

Sebenarnya, Bong Cina adalah sebutan bagi lokasi permakaman warga keturunan Tionghoa. Dan, memang, jalan itu menuju ke tempat tersebut.

Tapi, ada Bong Cina lain yang justru lebih terkenal. Yaitu sebutan untuk lokasi prostitusi yang ada di tempat itu. Persis di depan makam yang dipenuhi bangunan-bangunan kokoh itu.

Lokasi prostitusi itu berada di antara rumah warga. Yang membedakan, rata-rata terselubung dalam bentuk rumah karaoke.

Selain itu, wanita penghibur yang selalu merayu para pelintas adalah penanda seperti apa rumah tersebut.

“Ngamar mas?” sapa seorang wanita berdandan menor.

Nadanya memang tanya, namun lekat dengan ajakan untuk memanfaatkan jasanya sebagai wanita penghibur.

Bila dicermati, para wanita yang mengobral godaan itu rata-rata berumur 30 tahun ke atas. Dengan lemak yang menggumpal di beberapa bagian.

Status resmi mereka adalah pemandu lagu di tempat berlabel rumah karaoke tersebut. Tentu saja dengan layanan ekstra bila dikehendaki.

“Itu sudah satu paket. Bila sewa purel (sebutan untuk pemandu lagu, Red) bisa langsung sewa kamar (untuk layanan seksual),” terang Joyce-bukan nama sebenarnya-salah satu muncikari sekaligus pemilik rumah karaoke.

Yang menarik, tempat prostitusi ini bukan satu-satunya kampung yang ‘khas’ di Kampung Duluran.

Ada lagi dua kampung yang juga berbeda dibanding kampung lain. Kampung itu mayoritas penduduknya adalah para pengemis dan pengamen di jalanan.

“Di sana jadi kampung pengemis. Sedangkan di sana kampung pengamen,” tunjuk Joyce ke arah perkampungan yang terkesan kumuh di selatan Bong Cina.

Kampung yang disebut muncikari itu sebagai kampung pengemis itu dibelah jalan berpaving selebar satu setengah meter.

Di kiri-kanannya dipenuhi rumah-rumah semi-permanen. Ada yang berdinding gedek atau anyaman bambu, kayu, atau tembok ala kadarnya.

Sementara di bagian atap hampir seluruhnya terbuat dari seng.

“Orang biasa menyebut kampung ini sebagai Kampung Baru,” terang Sunyoto.

Pria ini adalah ketua rukun warga (RW) 13 Dusun Duluran.

Dia mengakui bahwa kampungnya terkenal sebagai kampung pengemis. Tempat para pengemis di jalanan bermukim.

Namun, dia berdalih bahwa jumlah warganya yang melakukan hal itu sudah banyak berkurang.

“Tapi, di sebelah selatan lokalisasi itu yang jadi tempat permukiman pengemis,” kilah Sunyoto, menunjuk lokasi yang menurutnya masuk wilayah RW 14.

Memang, ada dua kampung pengemis di tempat ini. Yang satu di Kampung Baru. Satunya lagi berada persis di sebelah eks-lokalisasi, yang berada di RW 14.

Dua kampung ini sejatinya jadi satu. Hanya dipisah Bong Cina saja. Antara dua kampung ini dihubungkan oleh jalan makadam selebar setengah meter.

Berada di antara rerumpunan bambu atau warga sekitar menyebutnya barongan.

Ketika memasuki kampung ini, yang terasa adalah kumuh dan pengap. Bau jempuran setengah kering menguar di mana-mana. Hasil dari juntaian jemuran yang ada di sepanjang gang sempit.

Itupun masih ditambahi dengan penjual aneka makanan di sepanjang gang. Mulai gorengan hingga bakso, yang membuat jalan semakin sesak.

Belum lagi tingkah para bocah anak pemilik rumah yang berlarian ke sana ke mari di siang itu.

Tak terlihat keramahan di wajah para penghuni kampung ini. Ketika ada orang asing yang melintas, yang terlihat adalah tatapan penuh curiga.

Sunyoto mengatakan, rata-rata rumah kumuh itu adalah tempat kos. Penghuninya berasal luar Kediri. Sehari-hari mereka bekerja sebagai pengemis.

Menariknya, meskipun rumahnya terlihat kumuh dan tidak layak, rata-rata ada lebih dari satu sepeda motor yang terparkir di depannya.

Menurut sang ketua RW, sepeda motor itu yang digunakan untuk berkeliling di daerah operasi mereka.

“Ada yang ke Kediri dan ada yang keliling di pasar-pasar terdekat seperti Pare,” ujar Sunyoto.

 

Ketika Remaja Ngamen atau Jadi Purel

Pendidikan tak lazim tumbuh-berkembang di perkampungan kumuh yang biasa disebut kampung pengemis ini.

Anak-anak di tempat ini besar dengan sistem yang dibangun. Yaitu mencetak pengemis-pengemis baru.

Maka, para orang tua di kampung ini tak begitu peduli pada pendidikan sang anak. Mereka justru berusaha menularkan ilmu mengemis ataupun mengamen di jalanan kepada anak-anaknya.

Dan itu dilakukan sejak sang anak berusia balita.

Budi, warga Dusun Parerejo, dusun lain di Desa Gedangsewu, bercerita tentang hal ini. Dia mengatakan, setiap bayi yang lahir seperti menjadi calon pengemis dan pengamen yang andal. Mereka sudah dikenalkan dengan aktivitas jalanan sejak bayi.

Diajak mengemis oleh orang tuanya. Menjadikan mereka alat eksploitasi agar orang merasa iba.

“Dengan pakaian compang-camping, anak kecil yang digendong pakai jarit menjadi pendukung saat ngemis,” terang lelaki yang kerap melihat warga Kampung Baru mengemis di Pasar Pare.

Masih menurut  Budi, bocah yang masih balita tak jarang dilepas di pasar untuk mengemis sendirian. Kemudian, pada jam-jam tertentu, orang tuanya akan menjemput.

Lelaki ini sangat paham dengan fenomena itu karena dia lama mangkal sebagai tukang becak di Pasar Pare.

Dan masih terus berlangsung meskipun saat ini dia sudah berganti pekerjaan menjadi tukang pijat.

Ketika bocah itu mulai beranjak dewasa, pekerjaan yang dilakukan berganti. Tidak lagi mengemis tapi mengamen. “Karena usia remaja sudah tak laku lagi menjual kesedihan,” ujar seorang pengamen berusia 28 tahun yang menyebut namanya Kasdi.

Tapi, beda lagi dengan bocah perempuan. Ketika kecil mereka mengemis. Ketika sudah besar, kebanyakan memilih bekerja di eks-lokalisasi Bong Cina.

Terutama bekerja di karaoke-karaoke atau kafe-kafe yang ada. Wajar bila kemudian banyak anak dari permukiman ini yang dewasanya terjun di dunia prostitusi.

“Ketika remaja mereka sudah pandai bersolek. Terus jadi purel,” aku Kasdi.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #Pendapatan Pengemis #rumah kumuh #pengemis #jawa pos #umk