JP Radar Kediri- Salah satu langkah pemerintah dalam menangani problem sosial berupa prostitusi adalah menutup lokalisasi PSK. Gelombang penutupan inipun marak di berbagai kota. Mulai dari Jakarta, Surabaya, Malang, termasuk Kediri.
Sayang, langkah penutupan seperti itu masih menyisakan ‘residu’ yang membuat kesulitan lain. Sebab, pelaku prostitusi-atau yang kini disebut dengan istilah PSK, pekerja seks komersial-tetap ngotot. Ketika lokalisasi tempatnya berpraktik permanen ditutup, gantinya mereka beroperasi sembunyi-bunyi. Lebih-lebih di era teknologi ini, mereka bisa memanfaatkan fasilitas internet untuk melancarkan jual-beli layanan seks.
Repotnya, dengan beroperasi diam-diam dan tersebar, yang sulit adalah memantau penyebaran penyakit menular seksual (PMS). Khususnya human immunodeficiency virus (HIV) yang menjadi awal penyakit fatal accuired immunodeficiency syndrome (AIDS).
"Memang benar itu salah satunya. Namun perkembangan zaman juga jadi faktor yang besar. Semakin canggih teknologi juga menjadi penyebab. Karena jadi ada aplikasi-aplikasi yang beragam," terang Subkoordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PM) Dinas Kesehatan Kabupaten (dinkes) Kediri Retno Handayani.
Menurut Retno, kelompok PSK memang paling rentan terkena penyakit ini. Mereka pula yang berpotensi menularkan ke orang lain.
"Kalau tahun ini masih belum bisa dilihat keseluruhan ya. Namun jika dilihat pada tahun lalu, memang yang terbanyak ini dari wanita pekerja seks (WPS)," terangnya.
Dengan menyebarnya para PSK ini otomatis menjadi tantangan bagi petugas kesehatan. Boleh disebut menjadi kendala dalam melakukan tracing. Ketika masih terlokalisasi di satu tempat, petugas dengan mudah melakukan pemetaan yang terjangkit.
Namun, saat ini, hal itu tak mudah. Selain tersebar dan sembunyi-sembunyi, sebagian besar beralih ke aplikasi. Yang membuat sulit untuk mendeteksi aktivitas dan pelaku prostitusi.
Lantas, bagaimana cara agar proses tracing bisa lebih optimal? Menurut Retno, cara yang dilakukan adalah dengan berkoordinasi berbagai pihak. Terutama dengan komunitas-komunitas. Tujuannya agar pemetaan bisa dilakukan semakin meluas.
Tracing di eks-lokalisasi pun masih berjalan. Sebab, meskipun eks namun faktanya masih ada aktivitas prostitusi. Meskipun berwujud hiburan malam.
"Sesuai dengan program kemenkes, tiga bulan sekali petugas dinkes akan kunjungi eks-lokalisasi untuk lakukan pemeriksaan," jelasnya.
Rata-Rata, 10 ODHA Baru Tiap Bulan
Di Kota Kediri, tren peningkatan orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA) juga terlihat. Bila dirata-rata, ada sepuluh penyandang baru penyakit tersebut. Fakta itu didapat dari jumlah ODHA baru hingga bulan keenam tahun ini yang mencapai 60 orang.
“Mereka tidak hanya warga Kota Kediri saja, juga dari luar kota yang tes di layanan kesehatan Kota Kediri,” terang Ketua Komunitas Warga Peduli AIDS (WPA) Mojoroto Agus Riyanto.
Mirisnya, penyakit ini banyak menjangkiti usia produktif. Termasuk kalangan pelajar. Agus bercerita, pernah mendapati kasus HIV/AIDS dari hasil komunikasi dengan konselor di sekolah.
Suatu waktu, seorang pelajar hampir dikeluarkan dari sekolahnya karena mencuri. Wali murid yang dipanggil ke sekolah pun memohon agar anaknya tidak dikeluarkan dari sekolah. Salah satunya menimbang kondisinya yang tengah mengidap AIDS.
“Awalnya karena orang tuanya sendiri yang cerita. Tapi puskesmas setempat nggak tahu. Waktu dicek, ketemu (terdata sebagai ODHA) di puskesmas lain. Masih kelas 1 SMA,” bebernya.
Dari situ pula, didapati si anak tidak berobat rutin di layanan kesehatan. Padahal, dengan rutin mengonsumsi obat antiretroviral (ARV), risiko penularan HIV bisa ditekan.
“Namanya anak muda sekarang apa mau diatur-atur,” sambungnya.
Tak jarang di setiap kegiatan penjangkauan juga ditemui pengidap HIV/AIDS yang sudah di taraf kritis. Mayoritas karena memiliki penyakit penyerta seperti tuberkulosis dan hepatitis.
“Beberapa kali kita menemui kasus itu masih muda juga, dia sakit-sakitan sampai badannya habis (kurus, Red),” katanya tentang temuan kasus HIV/AIDS yang telah ditangani.
Menjangkau masyarakat risiko tinggi jadi tantangan tak berujung bagi para pegiat edukasi HIV/AIDS ini. Agus mengatakan, membangun komunikasi jadi siasat utama dalam menjangkau segmen masyarakat yang dianggap rentan tertular maupun menularkan.
“WPA kan di setiap RW (rukun warga, Red) ada. Dari situ kita menggali masyarakatnya, siapa yang berisiko,” bebernya sembari menyebut, masyarakat risiko tinggi (risti) itu kemudian disarankan atau diajak untuk melakukan tes HIV di layanan kesehatan.
Tracing juga dilakukan dengan pendekatan ke kelompok masyarakat yang dekat dengan aktivitas seksual. Seperti wanita pekerja seksual (WPS), lady companion (LC) atau pemandu lagu, hingga waria.
Proses penjangkauan masyarakat dengan HIV juga kerap kali terkendala kebijakan di masing-masing daerah. Salah satunya tentang lokalisasi atau eks lokalisasi. Ada atau tidaknya lokalisasi memang kerap kali memicu perdebatan di kalangan masyarakat.
“Analoginya seperti ini, harimau itu memang tempatnya di hutan. Kalau ada orang yang masuk ke hutan, berarti dia sudah harus paham dengan risikonya. Beda lagi kalau dia sudah menyebar sampai ke lingkungan manusia, pasti bisa timbul konflik di sana,” ujar Lin, salah satu aktivis edukasi HIV/AIDS yang enggan namanya dikorankan.
Pria yang aktif di salah satu lembaga swadaya masyarakat itu mengatakan, kehidupan pribadi setiap orang memang menjadi haknya. Pun dengan menolak melakukan voluntary counselling and testing (VCT). Sedangkan sebagai lembaga yang mempunyai tujuan menekan penyebaran HIV, tugas mereka mendorong setiap orang yang berisiko HIV/AIDS untuk melakukan tes.
“Yang perlu diketahui bahwa ada hak-hak orang lain juga yang harus kita hargai. Yaitu hak agar tidak tertular dari kita,” tandasnya.
Kelompok risti yang tidak terlokalisasi memang menjadi tantangan besar bagi mereka. Terlebih di era sekarang, seks bebas—termasuk prostitusi—banyak yang berbasis online. Lokasinya pun tentu menyebar. Sehingga akan lebih sulit untuk dijangkau.
“Pendekatannya memang lama. Misal seperti di kelompok homoseksual itu kan mereka biasanya punya aplikasi sendiri atau di media sosial. Terkadang teman-teman ya bikin akun palsu supaya bisa komunikasi,” bebernya sembari menyebut, tujuan utama penjangkauan tetap agar semakin banyak orang yang mau untuk tes HIV dan berobat, sehingga penularan juga bisa ditekan.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah