KEDIRI, JP Radar Kediri-Sejatinya, tempat ini bernama eks-lokalisasi Dadapan. Kata eks di depan, tentu saja, merujuk pada bekas tempat prostitusi. Toh, tetap saja bisnis esek-esek ini masih tersaji dengan gamblang di tempat ini.
Gang ini terletak di Dusun Dadapan. Salah satu dusun yang masuk wilayah Desa Sumberejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri. Tepatnya, di wilayah Rukun Tetangga (RT) 21. Yang juga tak jauh dari lokasi paling terkenal di wilayah Kabupaten Kediri, kawasan Monumen Simpang Lima Gumul (SLG).
Di gang tersebut padat dengan rumah-rumah. Nyaris tak berjarak satu dengan lainnya. Bila malam hari, penerangan di tiap rumah dibuat setemaram mungkin. Bahkan, sebagian lagi gelap karena lampunya dimatikan.
Meskipun demikian, di setiap rumah itu duduk perempuan-perempuan. Yang dandanan menornya tak mampu menutupi kerutan di wajah. Menandakan usianya sudah tak muda lagi. Sudah berumur.
Aksi mereka juga terkesan norak. Setiap kali ada pria yang melintas di jalanan gang, mereka akan berebut melambaikan tangan. Mencoba menarik perhatian.
"Mas, mas, mas," demikian ucap perempuan-perempuan itu. Termasuk kepada Jawa Pos Radar Kediri yang saat itu memang menyusuri gang yang jalannya hanya cukup untuk satu mobil itu.
Tak jarang, rombongan anak muda bersepeda motor yang melintas terlihat malu-malu ketika disapa. Meskipun, mereka sadar bila melewati jalanan tersebut akan menemui hal seperti itu. Sebab, jalanan ini bukan jalanan yang biasa digunakan untuk umum. Tapi ‘khusus’ bagi yang ingin mendatangi lokasi esek-esek alias prostitusi liar yang terkenal dengan nama eks-lokalisasi Dadapan.
"Biasa, cah enom, pingin nginceng merga penasaran (biasa anak muda, ingin tahu karena penasaran, Red)," kata seorang pedagang nasi goreng, yang mangkal di lokasi itu.
Beda lagi dengan pria paruh baya, usia 40 tahun ke atas, yang banyak berseliweran. Mereka adalah para pelanggan tempat ini. "Kalau yang sering mampir memang orang sudah berumur," sambung si pedagang nasi goreng asal Gurah ini.
Gang ini memang lain dibanding gang-gang di sekitarnya. Lebih ramai bahkan hingga larut malam. Ditambah lagi dengan beberapa tempat karaoke yang memutar lagunya keras-keras. Sengaja menarik perhatian para pencari kebahagiaan sesaat.
Di tepi jalanan sepanjang 150 meter itu juga banyak warung. Yang sepintas, sudah bisa dilihat mereka menjajakan minuman keras (miras). Terbukti dari botol miras dan sloki-gelas kecil yang digunakan untuk menuang miras- yang beberapa kali dikeluarkan. Juga, tak jarang ada yang teler akibat alkohol.
"Orang ngamuk-ngamuk karena mendem (mabuk) sudah biasa. Hampir setiap hari. Ketoke (sepertinya, Red) bahagia, tapi asline wong-wong peteng dedet (orang yang hatinya tidak bahagia, Red)," terang laki-laki paro baya itu.
Meskipun namanya eks-lokalisasi, di Dadapan geliat prostitusi masih ramai. Tak hanya di rumah-rumah yang di depannya ada wanita yang menawarkan diri saja. Juga di tempat karaoke.
Dari depan memang seperti warung kopi dan rumah karaoke biasa. Ada papan namanya yang bersinar terang. Di bagian dalam seperti warung kopi pada umumnya. Beberapa minuman botol dipajang.
Masuk lebih ke dalam, ada lorong yang di kanan-kirinya kamar. Isinya kasur dengan kapasitas dua orang. Kamar-kamar ini ada yang berpintu, sebagian lagi hanya ditutup tirai dari kain.
"Kalau bawa cewek sendiri, kamarnya di sini. Milih sendiri," terang Papa Kembang, nama sapaan si pemilik tempat karaoke.
Harga sewanya murah. Hanya Rp 50 ribu. Lamanya, tak hanya satu jam. "Sak kesele sampean (sampai lelah, Red). Satu dua jam, sak leren e sampean (sampai berhenti," terang laki-laki 40 tahunan itu.
Jika ingin karaoke, ruangannya masih masuk ke dalam lagi. Ada dua room yang disediakan. Yang satu room terbuka, dengan pemutar musik dari internet, dari YouTube. Satu lagi room tertutup, pemutar musik dari komputer. Harga sewanya sama, Rp 50 ribu per satu jamnya.
"Mergo sampean sek anyar (karena Anda baru, Red) Rp 40 ribu saja. Ini sudah paling murah. Kalau yang lain-lain Rp 60 ribu - Rp 70 ribu," tawarnya. Kalau dengan ladies companion (LC) atau pemandu lagu, tarifnya nambah Rp 60 ribu per jamnya.
Kafe ini satu-satunya yang menyediakan LC dengan usia yang relatif muda. Mulai 23 tahun sampai 26 tahun. "Tempat lain (di area Eks-lokasi Dadapan) tua-tua. Ya hanya ini yang muda-muda. Tapi memang lemu-lemu (gemuk, Red)," aku Papa Kembang, yang berkata sambil memelankan suaranya.
Tidak hanya menemani bernyanyi, LC juga bisa menjadi bandar miras. Yaitu yang bertugas menuangkan miras ke sloki konsumen. Tarifnya lebih mahal. Antara Rp 80 ribu ke Rp 100 ribu. Bergantung harga yang disepakati.
"Karena kadang kan harus minum juga, jadi lebih mahal," imbuh Mbak Kembang, salah seorang LC di tempat ini.
Para LC yang disediakan ini juga melayani hubungan badan. Tarifnya? Tidak mahal. Antara Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu sekali ejakulasi. Tergantung kesepakatan antara Mbak Kembang dengan konsumennya.
"Kalau ngajak tidur petung dewe karo ceweke (transaksi sendiri, Red). Lek aku seng metung, engko diarani mbateni," kilah Papa Kembang.
Jika di tempat karaoke itu muda-muda, berbeda dengan di lokasi lain. Misalnya di salah satu rumah yang ada di sebelahnya. Di sini ada dua wanita umur 50 tahun yang jadi PSK. Karena itu, tarifnya lebih murah. Ada yang Rp 50 ribu, ada yang Rp 100 ribu. Bergantung proses kesepakatan.
Modus mereka menggaet konsumen tentu saja berdandan menor dan duduk di depan rumah. Kemudian memanggil pria yang melintas. Jika si pengendara memelankan kendaraannya saja, si PSK tua ini akan menghampiri. Memberi beraneka rayuan agar si orang itu ‘jajan’ dengan dirinya.
"Ayo kawin (hubungan badan, Red) karo aku. Satus ewu metu ping pindo gapopo, pas lagi sepi iki (Seratus ribu ejakulasi dua kali tak apa-apa, mumpung sepi, Red)," rayu Bu Senja-nama samaran-PSK 50 tahun yang mengaku asal Kecamatan Pesantren, Kota Kediri.
Jika pria yang dirayu tidak mau berhubungan badan, si PSK akan mengganti penawarannya. Seperti hanya mengobrol atau jasa membelikan kopi dan rokok. Yang penting, bagaimana si pria bersedia menggunakan jasa mereka.
Tapi, si PSK tak akan berhenti hanya jadi teman ngobrol saja. Bila sudah duduk, sekali lagi dia akan menawarkan berhubungan badan. Pokoknya, sampai si pria tersebut bersedia mengeluarkan uang sebanyak-banyaknya.
Masih manjurkah cara seperti Bu Senja itu? Ternyata, masih efektif. Menurutnya, dalam sehari dia bisa melayani tiga pria hidung belang. Memang, usianya juga tergolong tua. Mulai 40 tahun hingga 70 tahun.
"Tua muda semua melayani. Kalau malam minggu biasanya anak muda ramai," imbuh Bu Ndalu-juga nama samaran-PSK usia 50 tahun asal Malang.
Yang Penting Tidak Menyebar ke Mana-Mana
Hidup berdampingan dengan prostitusi, tentu, bukan sesuatu yang menyenangkan bagi warga Desa Sumberejo. Khususnya yang tinggal di Dusun Dadapan. Namun, sepertinya mereka tak bisa berbuat apa-apa. Sebab, meskipun sudah dibubarkan oleh pemerintah toh aktivitas prostitusi masih ada.
"Ya, itung-itung daripada menyebar kemana-mana. Yang penting hanya di situ (RT 21, Red)," ucap seorang warga Dusun Dadapan yang tinggal di RT 20.
Menurut pria 50 tahun ini, mayoritas PSK adalah pendatang. Mereka punya hubungan baik dengan warga asli. Bila keluar, para PSK itu masih berpakaian sopan. Misalnya saat membeli makanan atau berbelanja sayur-mayur.
"Pernah dulu pakai (baju seksi) pas malam-malam lewat, ya ditegur warga," sebutnya.
Kartijo, ketua RT 21, tidak membantah wilayahnya digunakan tempat praktik prostitusi. Menurutnya, situasi tersebut bukan hal yang bisa dikontrol oleh dirinya. Pasalnya, para PSK terus berdatangan. Sementara pemilik tempat prostitusinya juga masih menyediakan.
Memang, sebagai ketua RT, Kartijo bisa serba salah. Berdasarkan informasi yang digali Jawa Pos Radar Kediri, mayoritas muncikarinya adalah warga setempat. Demikian pula bangunan yang digunakan, merupakan milik warga setempat.
Tapi, Kartijo mengaku akan selalu mengontrol arus kedatangan warga luar. Terutama para pekerja seks. Mereka akan dimintai kartu tanda penduduk.
"Pasti itu, identitas pasti ada," katanya.
Karena menjadi lokasi prostitusi, permasalahan sosial dan keamanan memang jadi sesuatu yang sangat krusial. Percekcokan antara laki-laki dan perempuan jadi hal yang biasa. Bahkan, dia tak mau ambil pusing dengan hal tersebut.
"Kalau dipikir jadi stres. Awal-awal dulu ya kesal, tapi kalau dibela juga nggak bisa," keluh pria yang sudah 15 tahun menjadi ketua RT ini.
Namun demikian, ketika ada peristiwa kekerasan, mau tidak mau dirinya harus turun tangan. Seperti kasus penyiraman air keras seorang ‘suami’ kepada istri dan anaknya beberapa waktu lalu.
"Sekarang mereka sudah kembali ke Jawa Tengah," terangnya.
Berdasarkan data yang ada, para PSK ini mayoritas adalah pendatang. Sebagian memang dari wilayah Kediri. Tapi juga banyak yang dari luar daerah seperti Lumajang, Madiun, atau Malang. Mereka juga kebanyakan pindahan dari tempat esek-esek lain. Seperti dari eks-lokalisasi Krian di Ngadiluwih atau Baladewa di Wates.
Menariknya, kehidupan beragama juga tetap berjalan seperti biasa di tempat itu. Termasuk keberadaan tempat ibadah. Sekitar 100 meter dari eks-lokalisasi Dadapan, berdiri gagah musala Al-Bader.
"Ini yang paling dekat (dari eks lokalisasi Dadapan)," terang salah satu takmir yang tak mau disebutkan namanya.
Tempat ibadah ini juga jadi sarana mengajak para pelaku prostitusi agar bertobat. Mengajak mereka meninggalkan dunia hitam tersebut.
Menurutnya, sebelum pandemi Covid-19 sempat ada kegiatan siraman rohani di musala tersebut. Namun, kegiatan itu datang dari departemen agama. Begitupun sang ustad.
"Siapa yang mau berubah nanti dikasih modal usaha, alat usaha," katanya saat mengingat salah satu ajakan kepada PSK agar mau beralih pekerjaan.
Kemudian, pria yang saat ditemui mengenakan sarung dan peci ini mengatakan bahwa siraman rohani dilakukan setiap satu bulan sekali. Untuk hari dan waktunya fleksibel. Tetapi, untuk waktunya lebih sering dilakukan di pagi hari.
Menurut ingatan takmir musala tersebut, ada sekitar 30 lebih PSK yang mengikuti. Hanya saja, siraman rohani itu tiba-tiba tidak berlanjut pasca pandemi.
"Ya boleh, kami menyediakan (musala untuk tempat siraman rohani). Untuk kebaikan," tandasnya saat ditanya apakah boleh musala tersebut digunakan lagi sebagai tempat siraman rohani bagi para PSK.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah