KEDIRI, JP Radar Kediri - Membuka warung selama 24 jam tentu tak luput dari berbagai tantangan. Salah satunya dari aspek keamanan. Waktu malam hingga dini hari cenderung sepi dari aktivitas manusia. Untuk menghindari potensi kejahatan, berjualan di tepi jalur sibuk jadi pilihan.
“Ini kan jalan provinsi. Jadi ramai terus. Paling kalau waktu subuh saja yang biasanya paling sepi,” dalih Wasi.
Di malam hari, giliran suaminya yang menjaga warung. Di waktu siang hari giliran dia yang menggantikan. Meski begitu, tetap saja, rasa kantuk kerap kali menyerang.
“Karena tokonya ini baru, jadi masih belum terlalu ramai. Masih bisa sambil rebahan. Terkadang kalau ketiduran ya dibangunkan sama pembeli yang datang,” katanya sembari tertawa.
Adapun dengan berjualan selama 24 jam itu dia lakukan juga untuk memenuhi tanggungan pembiayaan tempat tinggalnya. Bangunan berukuran sekitar 3 x 6 meter itu tak hanya difungsikan sebagai toko, tapi juga tempat tinggal.
“Sewa kontraknya lumayan, Rp 12 juta setahun,” akunya.
Berbagai cara dilakukan untuk bisa memaksimalkan pendapatannya. Termasuk menerapkan kultur berdagang dari tanah kelahirannya di tempat usaha barunya di Kota Kediri.
“Kalau di tempat saya, hampir setiap warung kelontong pasti ada selingannya. Entah jualan makanan, sayur, buah, atau jajanan seperti pentol ikan. Saya juga sebenarnya pengen sambil jualan makanan. Tapi masih repot karena kalau siang sendirian. Suami kalau jam segini (10.00, Red) masih tidur karena habis berjaga semalaman,” tandasnya.
Sebagai seorang pendatang, ia hanya bisa bergantung pada diri sendiri dan suami. Mulai dari belanja kebutuhan toko hingga mengatur jam operasional.
“Kalau misal ada anak yang bantu, mungkin bisa (menyelingi dengan berdagang makanan, Red). Tapi anak saya yang gede masih mau kuliah,” pungkasnya.
Beda lagi dengan toko milik Siti. Wanita ini mengaku selama delapan bulan berjualan ada beberapa gangguan dari anak-anak muda.
“Banyak anak-anak muda yang kadang mau nitip motor, nitip STNK di sini tapi saya ngga mau soalnya takut kalo terjadi apa-apa,” jelasnya.
Siti memilih tidak menggubris dibandingkan meladeni permintaan yang seperti itu. Sebab ia takut jikalau barang-barang yang dititipkan tersebut ternyata hasil curian.
Terpisah, Kapolres Kediri Kota AKBP Bramastyo Priaji turut memberikan perhatian terkait menjamurnya toko Madura di Kediri. Menurutnya dari segi keamanan, pemilik warung harus lebih bisa mewaspadai sendiri pada malam hari.
“Mereka harus mempunyai antisipasinya. Siapa yang bertugas di malam hari, bagaimana penerangan disekitar lokasi, kemudian dia pasang CCTV atau tidak,” jelasnya.
Selain itu, menurut Bram jika warung madura buka 24 jam kurang efektif.
“Kalau ternyata pembelinya hanya sampai jam 12 malam, ya sebenarnya jam 12 malem sampai jam 6 pagi sia-sia,” bebernya.
Selain itu, buka malam sangat tidak dianjurkan bagi kesehatan. “Kantongnya juga harus tebal kan kalau bayar orang jaga malam lebih tinggi tuh gajinya,” ungkapnya.
Rentan Termarginalisasi, Bentuk Komunitas Eksklusif di Perantauan.
Fenomena migrasi warga Madura ke kota-kota lain bukan fenomena baru. Sebut saja dari etnis Minangkabau dan Batak yang cenderung banyak ditemui di berbagai daerah. Begitu pula dengan etnis Madura. Di daerah perantauan, warga Madura sudah banyak membaur dengan masyarakat setempat.
Dosen Sosiologi Universitas Brawijaya Wida Ayu Puspitosari mengatakan, sebagai etnis pendatang, berhadapan dengan stigmatisasi sudah menjadi keniscayaan. Tak terkecuali bagi komunitas etnis Madura. Terlebih, stigmatisasi etnis ini kerap kali didasarkan pada stereotip negatif hasil persepsi semata. Seperti contoh, anggapan terhadap karakter tertentu yang diatributkan ke seluruh warga Madura, tanpa mempertimbangkan keragaman individu di dalamnya.
“Stigma itu dapat berdampak pada diskriminasi dan marginalisasi terhadap orang Madura di berbagai aspek kehidupan,” katanya.
Untuk bertahan dalam menghadapi stigma dan diskriminasi di perantauan, orang Madura cenderung membentuk enklave-enklave eksklusif. Dengan membentuk komunitas sendiri, bisa menjadi modal sosial yang kuat.
“Di sana mereka bisa saling mendukung, berbagi informasi dan menciptakan peluang ekonomi. Ikatan yang erat dalam komunitas ini juga memberikan rasa aman, solidaritas, dan identitas bersama,” tandasnya.
Selama ini, orang Madura di perantauan kerap kali ditemui berkarya di sektor perdagangan. Menurut Wida, itu juga tidak terlepas dari karakteristik etnis ini yang memiliki etos kerja dan semangat kewirausahaan yang kuat.
“Keberhasilan ekonomi mereka terkadang menimbulkan kecemburuan dari etnis asli di daerah tersebut. yang merasa tersaingi atau terpinggirkan secara ekonomi. Hal ini juga bisa memicu konflik antar-etnis. Seperti yang pernah terjadi antara orang Madura dan Dayak di Kalimantan,” bebernya.
Namun demikian, pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik ini menekankan, konflik itu tidak semata-mata diasosiasikan dengan faktor etnis. Melainkan juga bisa dipicu ketimpangan ekonomi, persaingan sumber daya, hingga marginalisasi.
“Migrasi orang Madura ke daerah lain sering kali ada faktor pendorong. Seperti sulitnya mendapat pekerjaan dan keterbatasan peluang ekonomi di daerah asal mereka,” terangnya sembari menyebut, keterbatasan lapangan kerja, kemiskinan, dan kurangnya akses pendidikan juga bisa menjadi pendorong migrasi orang Madura ke daerah lain.
Lalu, bagaimana dampaknya terhadap relasi sosial-masyarakat dengan warga lokal? Wida mengambil contoh fenomena yang terjadi di Kota Surabaya, khususnya Surabaya bagian utara. Pembentukan komunitas eksklusif warga Madura di sana cukup signifikan. Komunitas masyarakat yang homogen itu nampak dari banyaknya warung-warung madura yang menjadi ciri khasnya.
“Keberadaan komunitas ini awalnya menimbulkan ketegangan dengan warga lokal, yang merasa terancam secara ekonomi dan budaya. Stereotip negatif tentang orang Madura juga menyebabkan stigmatisasi dan diskriminasi,” tandasnya.
Namun begitu, celah konflik bisa dianulir dengan upaya dialog dan kerja sama antar-komunitas. Wida mencontohkan, itu bisa diwujudkan melalui program-program integrasi sosial seperti festival budaya dan forum komunikasi.
“Interaksi yang lebih intens antara warga lokal dan komunitas Madura perlahan mengikis prasangka dan membangun saling pengertian,” pungkasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram"Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah