JP Radar Kediri - “Cari apa, Dik?” Begitu sapanya kepada para anak-anak muda yang berdatangan silih berganti. Di pagi menjelang siang itu, Khasiatun banyak kedatangan pembeli muda. Rata-rata, mereka membeli rokok dan air mineral.
Cara bicaranya kental dengan logat Madura. Perempuan 38 tahun itu belum lama ini membuka toko kelontong Madura. Atau, toko yang punya ciri khas buka nonstop selama 24 jam.
Membuka usaha di Kota Kediri menjadi keputusannya bersama suami. Sulitnya mencari pekerjaan di kampung halaman jadi alasan mereka bermigrasi ke Kediri untuk memulai usaha baru.
“Di sini meskipun baru tapi punya banyak kenalan. Ada sepupu juga. Teman-teman baru juga banyak di sini,” ujarnya.
Menjalin relasi dengan sesama warga Madura menjadi salah satu caranya bertahan di tempat baru. Bahkan, sekadar menanyakan asal saja bisa menambah saudara baru di tanah perantauan.
“Biasanya ketemu di sini saja. Lagi lewat, mampir warung terus karena logatnya saya tanya asalnya mana. Akhirnya kenal sampai diajak belanja bareng,” katanya.
Diakuinya, membentuk komunitas dari latar belakang yang sama membantunya dalam banyak hal. “Jadi tahu tempat belanja yang lebih murah,” sambungnya.
Baginya, ada kelebihan dan kekurangan tersendiri dari membuka toko 24 jam. Kultur yang ditengarai diciptakan oleh pendatang Madura itu berciri khas buka nonstop. Atau, hanya tutup beberapa hari saat Hari Raya Idul Fitri saja.
Jajanan-jajanan ringan bergantungan di pintu masuk toko. Pun dengan tempat pengisian bahan bakar minyak mini yang terpajang di teras toko. Sesekali, Wasi-sapaan akrabnya- menata ulang dagangannya dan menyapu permukaannya dari debu-debu. Di antara toko-toko di sekitarnya, hanya tokonya yang buka selama 24 jam.
“Pernah saya lihat di HP, katanya minimarket merasa tersaingi. Tapi di sini enggak. Nggak pernah ada komplen. Malah pak RT pernah bilang, bagus bisa bantu ngeronda,” kelakarnya.
Tugas menjaga tokonya hanya dilakukan oleh dua orang. Wasidan suami bertukar peran menjaga toko. Ia bertugas jaga dari pagi hingga sore. Sedangkan suaminya shift malam hingga dini hari.
“Kalau pagi begini saya sendiri. Terkadang kalau masih di kamar mandi, malah ditungguin sama pembelinya,” kata perempuan asal Sumenep, Madura itu.
Diakuinya, menyerahkan sebagian besar waktunya untuk toko membuatnya tak bisa melakukan pekerjaan lain selayaknya ibu rumah tangga. Sebut saja seperti belanja kebutuhan dapur di pasar hingga memasak makanan sehari-hari.
“Kalau pun sempat masak, ya hanya bisa seadanya. Yang cepet. Bahannya cuma bisa beli dari tukang sayur keliling yang lewat depan sini. Kalau nggak, ya beli masakan jadi,” tandasnya.
Pun dengan waktu istirahatnya yang tersita banyak. Jam tidurnya rancu. Sembari melayani pembeli, Wasi menceritakan awal mula dia membuka usaha toko Madura 24 jam. Karena pola tidur yang berantakan, ia sering kali mengalami sakit.
“Karena kurang tidur sering masuk angin, pusing, sampai asam lambung. Tapi sekarang sudah mulai terbiasa,” akunya.
Di waktu siang pun, rasa kantuk kerap kali melanda. Sering video call dia lakukan sebagai salah satu cara membunuh kantuk. Mulai dari menghubungi teman-teman lainnya sesama pemilik toko 24 jam, hingga menghubungi anak di kampung halaman.
“Kalau video call sama anak bisa tiga kali sehari. Karena ya kangen banget. Apalagi ada anak kecil masih tiga tahun,” pungkas ibu dua anak itu.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram"Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah