Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Lipsus Imlek: Warga Tionghoa Menyebar ke Pare dan Wates karena Agresi Militer

Karen Wibi • Sabtu, 10 Februari 2024 | 16:46 WIB
ESTETIK: Penampakan Kelenteng Tjoe Hwie Kong Kediri.
ESTETIK: Penampakan Kelenteng Tjoe Hwie Kong Kediri.

KEDIRI - JP Radar Kediri - Kota Kediri bukan satu-satunya pusat entitas warga etnis Tionghoa di Kediri. Mereka juga ada di beberapa tempat lain. Meskipun secara kuantitas tidak sebanyak dan sekuat di wilayah pecinan Kota Kediri.

Sebut saja dua wilayah dengan komunitas Tionghoa yang banyak. Seperti di (Kecamatan) Pare dan Wates, dua daerah yang masuk wilayah Kabupaten Kediri.

"Keberadaan warga Tionghoa di Kota Kediri sempat berkurang setelah kemerdekaan," terang Yap Swie Lay, salah seorang budayawan Tionghoa asal Kota Kediri.

Ada alasan mengapa warga Tionghoa mulai berpencar. Salah satunya karena Agresi Militer Belanda. Pada 1950-an, banyak warga Tionghoa yang terdampak langsung. Akibatnya banyak usaha yang dijalankan mengalami kerugian dan bangkrut.

Sehingga banyak dari mereka yang mencoba mencari tempat baru. Kebanyakan pergi ke Pare dan Wates. Dengan tujuan agar bisnis bisa kembali seperti semula. 

“Beberapa lainnya juga banyak yang keluar dari Kota Kediri,” sambungnya.

Hanya, persebaran warga Tionghoa di Kecamatan Wates tak bertahan lama. Tidak banyak yang bertahan hingga saat ini. Sebagian besar pindah. Karena itulah jejak-jejaknya tak banyak ditemui.

Berbeda dengan yang berada di Kecamatan Pare. Hingga sekarang ada beberapa daerah yang dianggap sebagai daerah Pecinan atau kawasan yang banyak ditempati etnis Tionghoa. Seperti di Jalan W.R. Supratman, Jalan Letjen Sutoyo, hingga Jalan Mastrip. Masih banyak warga keturunan Tionghoa yang menetap di ketiga jalan itu.

“Meskipun saat ini mereka lebih menyebar ke banyak tempat,” tambahnya.

Di Kota Kediri, daerah yang biasa disebut dengan Pecinan berada di Jalan Yos Sudarso, Kecamatan Pakelan. Sejak dulu, lokasi tersebut menjadi sentra dari persebaran warga Tionghoa asli dari Tiongkok.

Hal ini diperkuat dengan keberadaan Klenteng Tjoe Hwie Kiong. Karena memang klenteng biasa dibangun di daerah yang mayoritas warganya adalah orang Tiongkok.

“Sama seperti di Pare, warga Tionghoa saat ini lebih menyebar dan berbaur dengan warga lokal,” pungkasnya.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#budaya #sejarah #imlek