Bagi Ning Aini, tidak mudah mendirikan lembaga pendidikan dengan konsep terpadu, salaf dan modern. Terlebih di lingkungan Ponpes Lirboyo yang pola pendidikan saklek, salafi nyel. Berawal puluhan tahun lalu, ketika dia diamanahi seseorang agar mendidik anaknya yang waktu itu belum genap lima tahun. Dari situlah dia terpacu untuk mendirikan lembaga pendidikan terpadu.
“Memang berat sekali. Saya berjuang bukan untuk keluarga. Tetapi untuk umat. Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu, sekarang sudah banyak yang paham dengan arah saya,” ujarnya.
Menurutnya, sudah seharusnya pondok pesantren memfasilitasi kebutuhan umat. Memupuk ilmu akhirat sebagai bentuk konsep ketuhanan umat Muslim. Namun juga ilmu duniawi karena manusia hidup di dunia bersama manusia lainnya.
“Karena doa kita kan rabbana atina fid dunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina adzabannar. Kita hidup di dunia, kita tidak bisa meninggalkan duniawi kita,” tandasnya.
Tapi dia menegaskan, pada dasarnya pondok pesantren harus bermacam-macam. Yang murni salafi, biarlah tetap seperti itu. Yang memadukan dengan aspek modern, juga perlu dihadirkan.
Berbeda dengan pesantren salafi yang menjunjung tinggi konsep ketokohan, di ponpes terpadu, hal itu tak terlalu ditonjolkan. Melainkan lebih ke tata kelola atau manajemen.
“Yang harus saya tonjolkan adalah lembaganya. Bukan saya secara pribadi. Jadi jika nanti sewaktu-waktu saya tinggal, tidak akan terpengaruh,” ujarnya sembari menyebut ia lebih sering berada di belakang layar.
Sementara, Gus Reza menekankan bahwa setiap ponpes bebas menentukan metode pendidikannya. Bisa memakai cara generasi terdahulu. Atau, menyesuaikan dengan perkembangan zaman.
Ponpes salaf, kurikulumnya tidak lepas dari kitab kuning. Yang isinya ajaran agama Islam, ditulis oleh ulama terdahulu. Dalam metode pembelajarannya, mereka tak boleh menggunakan barang elektronik.
Di pondok salaf, juga dikenal istilah bandongan dan sorogan. Ini mengacu pada metode pembelajarannya. Ciri dari ponpes salaf dan khalaf yakni memiliki pendidikan formal.
Pengasuh Ponpes Kapu, Gus Bik, menyebut bahwa pergeseran ini tidak terlepas dari perkembangan zaman yang ada. Derasnya informasi dan teknologi turut memberi andil. Namun begitu, pihaknya tetap memberikan jalan tengah. Tetap menerima santri salafiyah dan formal secara bersamaan.
"Jadi paginya formal terus malamnya belajar di pondok juga bisa," terangnya.
Lebih jauh, Gus Bik menilai pergeseran ini juga membawa perubahan dalam diri santri. Salah satunya dari attitude. Santri milenial tidak bisa lagi disamakan dengan generasinya. Apalagi di atasnya lagi. Kadang, hal ini membuatnya miris. Lagi-lagi, pengaruh lingkungan dan gadget sangat besar.
Tak hanya itu, dia menilai banyak santri yang hanya belajar permukaan saja. Belum sampai ke inti dan mengamalkannya dalam setiap nafas kehidupan. Namun, itu justru menjadi tantangan bagi pengasuh di era modern ini. Bagaimana bisa menyelaraskan semua itu.
"Tapi masih tidak apa-apa. Yang penting sudah mau belajar agama. Nanti pasti dapat hidayah sendiri," ucap Gus Bik.
Di lain sisi, dia juga melihat fenomena yang cukup unik. Di mana, masyarakat lebih tertarik bersekolah di lembaga berbasis agama. Sehingga lembaga pendidikan negeri tersaingi. Menurutnya, hal ini menjadi sisi positif dari pergeseran tersebut.
Gus Bik berharap, santri milenial dapat terus belajar. Mengamalkan setiap ilmu yang didapat. Menjadi penerangan di lingkungannya. Bukannya justru terpengaruh hal negatif di sekitarnya. "Yang terpenting itu amaliyahnya," pesannya.
Editor : Anwar Bahar Basalamah