Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Inilah Kiprah Para Penerus Pondok Pesantren Salaf di Tengah Arus Modernisasi

Andhika Attar Anindita • Minggu, 22 Oktober 2023 | 17:20 WIB

 

Photo
Photo

Mereka adalah generasi penerus pondok-pondok pesantren besar. Yang, tentu saja, dengan metode lama, salafi. Lalu, bagaimana para gus dan ning ini meng-create ponpesnya di tengah arus modernisasi?

Aina ‘ainaul Mardliyah Anwar menunjukkan sudut-sudut pesantrennya. Lapangan basket, ruang guru, aula serbaguna, hingga ruang untuk ekstrakurikuler. Sepintas, Pondok Pesantren Salafi Terpadu (PPST) Ar Risalah itu seperti lembaga sekolah pada umumnya.

Yang berbeda. suasananya jauh lebih tenang. Santri-santri yang mengerjakan berbagai aktivitas melakukannya dengan teratur, tertib. Terlihat sekali adab yang dijunjung tinggi, yang memang merupakan ruh dari pondok pesantren.

“Prinsip saya, ketika selesai menempuh pendidikan di sini, alumni harus bermanfaat bagi negara. Kami tak fanatif pada satu lembaga. Santri tak harus menjadi kiai. Kalau mau mangga, tapi tidak wajib,” ucap Ning Aina, panggilan putri KH Anwar Mansyur ini.

Meskipun berada di lingkungan Ponpes Lirboyo, Ar Risalah memposisikan diri sebagai pesantren modern. Selain pendidikan Alquran, santrinya diberi pendidikan diniyah dan ilmu umum. Bahkan, empat bahasa diajarkan di ponpes ini. Arab, Inggris, Mandarin, dan Jepang!

Hasilnya, ponpes ini telah mencetak alumni yang melanjutkan pendidikan dan berkarir di banyak bidang. Di antaranya melanjutkan pendidikan di kampus dalam dan luar negeri. Pun berprofesi sebagai dokter, hakim, dosen, hingga pembuat film.

“Yang punya bakat di umum memang saya arahkan untuk mengambil kampus yang baik dan jurusan yang benar-benar berkualitas,” ujar sang pendiri ini, sembari berjalan tanpa alas kaki.

Menurut Ning Aina, ponpes yang dia dirikan pada 1995 ini, kiblat pendidikannya tetap pada konsep salafi. Seperti halnya yang dilakukan pendiri Lirboyo KH Abdul Karim. Meskipun, aspek pendidikan ‘duniawi’ juga sangat dipupuk. Sudah menjadi kewajibannya menyempurnakan pendidikan ponpes terbesar di Kediri ini.

“Ibaratnya, orang masuk Lirboyo seperti masuk mall. Mau memilih pendidikan yang seperti apa, semua ada. Tapi tetap di bawah naungan Lirboyo. Karena Mbah Kiai Abdul Karim selalu dawuh, Ngadepo dampar’. Artinya, mengajilah. Menghadapi apa saja, mengajilah,” tuturnya.

Hal serupa juga dilakukan oleh Reza Ahmad Zaid, yang lebih akrab dengan sapaan Gus Reza. Di ponpes yang diasuhnya, Ponpes Al Mahrusiyah, yang diterapkan adalah perpaduan antara salafi dan modern.

“Pondok Al Mahrusiyah (menerapkan) perpaduan antara salaf dan khalaf,” jelasnya. Khalaf, menurut Gus Reza, adalah ponpes yang telah  menerapkan model pendidikan modern.

Menurutnya, ponpes salaf kurikulumnya tak lepas dari kitab kuning. Saat belajar, para santri tak boleh menggunakan barang-barang elektronik seperti handphone, laptop, dan sebagainya.

“Di sini, sore sampai malam mempelajarai kitab kuning. Kalau pagi mereka mempelajari ilmu umum di sekolah dan kampus,” urai Gus Reza.

Putra Kiai Imam Yahya Mahrus ini menambahkan, ponpes asuhannya tidak antipati dengan teknologi. Hanya, dia menerapkan aturan ketat dalam penggunaan. Yang boleh memegang alat-alat teknologi adalah para pengurus pondok. Itu pun atas seizin pengasuh pondok.

“Ini yang berlaku di pondok Al Mahrusiyah,” jelasnya.

Untuk santri, baru boleh menggunakan alat komunikasi pada hari-hari tertentu. Selain itu penggunaannya dibatasi. Lalu, apabila ditemukan santri yang melanggar aturan ini maka akan mendapatkan takzir atau sanksi. Yang salah satu bentuknya adalah mengkhatamkan Alquran dalam waktu tertentu dan tempat yang telah ditentukan. Ada juga yang disuruh membaca Yasin dan tahlil.

Pembatasan ini tujuannya agar santri fokus belajar. Selain itu, juga menghindarkan arus negatif dari perkembangan teknologi. Khususnya media sosial.

“Meski dibatasi, para santri tetap bisa berkreasi, dalam tulis-menulis, dalam ketrampilan, dia tetap masih bisa meng-eksplore,” ujarnya sembari menyebut tak sedikit santrinya yang mendapat juara dalam hal karya tulis.

Ponpes Salafiyah Kapu, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, juga membuka diri dengan perkembangan zaman ini. Meskipun namanya sangat kental dengan metode salafiyah, mereka telah memadukan kurikulum pesantren dengan pendidikan formal sejak era 90-an. Hingga akhirnya didirikan Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Hasan Muchyi, yang lokasinya 300 meter dari ponpes induk.

 Baca Juga: Lipsus Prostitusi Kota Kediri: Semua Tempat Berpotensi Jadi Hotspot

"Dulu ya hanya 2-3 kelas saja. Sebagian juga numpang di rumah tetangga," kenang Pengasuh Ponpes Salafiyah Kapu M. Chamdani Bik atau yang akrab disapa Gus Bik.

Menurutnya, pendirian madrasah tsanawiyah dan aliyah itu gagasan para sesepuh. Berkaca dari kebutuhan dan perkembangan zaman. Para sesepuh seakan sudah memprediksi. Sehingga, Gus Bik pun tidak kaget dengan pergeseran dunia pesantren sekarang ini.

Dan memang benar. Gus Bik mengakui bahwa pergeseran itu semakin terasa 5-10 tahun terakhir. Santri mulai tertarik dengan pendidikan formal. Namun, kala itu jumlahnya tetap lebih banyak santri salafiyah. Hanya saja, tren itu kini berubah. Santri salaf hanya berkisar 300 anak saja. Sedangkan santri formal mencapai 700 anak.

Menurutnya, pergeseran ini tidak terlepas dari perkembangan zaman. Derasnya informasi dan teknologi turut memberi andil. Namun begitu, pihaknya tetap memberikan jalan tengah. Tetap menerima santri salafiyah dan formal secara bersamaan.

Dia melihat, pesantren memang perlu beradaptasi. Hanya saja, ada beberapa prinsip yang memang tidak boleh diutak-atik. Apalagi diubah. Seperti tradisi dan ajaran pondok salafiyah. Di luar itu, selama untuk manfaat yang lebih besar, tidak ada masalah.

"Ajaran-ajaran salaf tetap akan dipertahankan. Itu ruhnya pondok sini," tegasnya.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#pondok pesantren #santri #Kiprah #modernisasi