Bagi kebanyakan PSK, terjaring razia bukan persoalan besar. Memang, saat tertangkap mereka bertingkah dengan penuh drama, penuh tangis. Toh, setelah dilepas, mereka akan kembali beroperasi.
Selalu ada cara bagi para pekerja seks komersial (PSK) ini berpraktik lagi, meskipun baru saja terjaring razia. Mereka, mungkin, akan mencoba bersabar selama beberapa waktu diamankan dan diberi pembinaan oleh aparatur negara. Tapi, mereka adalah profesional, yang tahu harus bagaimana ketika bersinggungan dengan pihak berwajib. Dan, terjaring razia bukan persoalan besar. Hanyalah satu fragmen dalam kehidupan mereka. Setelah itu, mereka bisa dengan enteng kembali bergelut dengan dunia remang-remang.
Maka, jangan heran bila di awal ‘pengamanan’, banyak drama tangis menyertai. Rata-rata, alasan keluargalah yang mendasari kesedihan mereka. Memang, tak sedikit pula yang terpaksa terjun ke dunia esek-esek karena tuntutan ekonomi. Salah satunya, menghidupi diri sendiri dan keluarga.
“Biasanya satu minggu awal dimasukkan ke RSBKW (Rehabilitasi Sosial Bina Karya Wanita, Red) pasti drama. Keinget suaminya-lah, keinget anaknya-lah. Kami kalau terpancing juga ikut menangis,” cerita Kasi Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial Dinas Sosial (Dinsos) Kota Kediri Sumarni.
Menurut wanita ini, para wanita pekerja seks (WPS) yang terjaring biasanya memang diarahkan ke RSBKW. Panti rehabilitasi di bawah naungan Dinsos Jatim. Di sana mereka diberi pelatihan keterampilan selama empat bulan.
“Tetapi setelah berjalan dua minggu atau lebih gitu ya sudah happy-happy,” imbuhnya.
Namun begitu, menurut Sumarni tak semua WPS lantas kapok setelah terjaring dan mendapat rehabilitasi. Beberapa bahkan langsung kembali ‘bekerja’ setelah diantar kembali ke rumah mereka. Terutama mereka yang berasal dari luar kota.
“Pernah kami mengantar ke Pasuruan. Yang ngantar belum sampai rumah, dia sudah kirim video di Tretes, bilang, “Halo Pak, saya di sini,” begitu loh,” ujarnya menirukan salah satu WPS asal Pasuruan yang pernah menjadi klien di RSBKW beberapa tahun lalu.
Meski telah diberi pelatihan, agaknya industri malam masih jadi sektor yang menguntungkan bagi mereka. Bagaimana tidak, dengan modal yang kecil –atau bahkan nyaris tanpa modal materi di beberapa kasus—mereka bisa meraup untung yang besar.
Setidaknya itu lebih banyak ditemui dari WPS muda. Di mana daya tawarnya masih tinggi. Mereka juga cenderung lebih ‘pintar’ memainkan peluang. Salah satunya dengan memanfaatkan teknologi aplikasi jual beli jasa prostitusi hingga media sosial yang marak dan mudah diakses siapa saja.
“Saat kami lakukan assesment, biasanya yang sudah umur-umur gitu memang alasannya ekonomi. Tapi kalau yang muda-muda juga ada yang karena kebiasaan,” bebernya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah