Tak sedikit PSK yang akhirnya terjangkit human immunodeficiency virus (HIV). Pasca terjangkit, kehidupan dari para PSK akan langsung berubah total. Yang mulanya dielu-elukan akan menjadi diabaikan hingga dibuang.
“Sudah ndak kehitung tangan teman-teman saya yang kena HIV. Ada juga yang sudah meninggal dunia,” terang AS, PSK konvensional dari Kota Kediri.
Mantan penghuni lokalisasi Semampir itu bercerita, sudah banyak temannya yang terjangkit HIV/AIDS. Mayoritas adalah PSK yang sudah berumur seperti durubtam di atas 40 tahun.
Bagi wanita ini, ada hal yang menjadikan PSK seusianya mudah terjangkit HIV. Salah satunya adalah karena hubungan seks yang tak aman.
Jika masih muda, AS bisa memilih pria yang akan menyewanya. Jika pria tersebut tak tampan atau terlihat penyakitan, AS akan menolak. Demikian pula jika pria hidung belang itu tak mau menggunakan kondom ketika berhubungan badan. Maklum saja, di usia mudanya AS adalah primadona. Pelanggan pun hingga antre-antre.
“Semua PSK kalau muda rata-rata gitu. Banyak peminatnya,” sambungnya.
Namun, ketika tua, para PSK mulai ditinggal pelanggan. Padahal di saat yang bersamaan, mereka sangat membutuhkan uang. Karena itu, PSK-PSK tua itu mencari cara agar tetap mendapat uang dari lelaki hidung belang.
Selain mamatok harga terendah, banyak yang mengiyakan ketika harus berhubungan badan tanpa kondom. Apesnya setelah berhubungan badan, para PSK mulai mengalami gelaja HIV.
Jika sudah terjangkit virus, hidup mereka akan berubah total. Tak akan lagi ada yang mau menyewa. Bahkan lebih ngenesnya, banyak yang akhirnya telantar karena ditinggal rekan-rekannya.
Tak sedikit rekan AS yang mengalami kejadian seperti itu. Di saat itu, AS pun merasa kasihan. Sayangnya, karena kurangnya pengetahuan, AS juga menjadi salah satu yang mengabaikan mereka. Hingga akhirnya PSK yang sebatang kara itu diangkut oleh dinas sosial atau meninggal dalam keadaan mengenaskan.
“Kami dulu ya kasihan. Tapi di satu sisi takut kalau sampai tertular,” dalih perempuan yang kini badannya gemuk itu. (karen wibi/fud/bersambung)
Editor : Anwar Bahar Basalamah