Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Lipsus Prostitusi Kota Kediri: Alumni Semampir Harus Rela 'Praktik' sambil Takut Digerebek Warga

Karen Wibi • Sabtu, 2 September 2023 | 20:25 WIB
Photo
Photo

Bagi ‘alumni’ Semampir, mencari tempat mangkal yang baru bukan perkara mudah. Beberapa kali mereka terpaksa pindah. Kini, yang bertahan off-line harus rela berpraktik sambil takut digerebek warga.

BA tergolong gigih. ‘Alumni’ Semampir ini masih ngotot jadi pekerja seks komersial (PSK) meskipun tempat praktik resminya-lokalisasi Semampir-akhirnya tutup total sejak 2017. Dia-bersama-sama ‘alumni’ lainnya nekat mencari lokasi mangkal baru. 

Tapi, itu bukan perkara mudah. Mendapatkan tempat mangkal untuk menggaet hidung belang di Kota Kediri ternyata sulit. Para kupu-kupu malam ini beberapa kali pindah tempat. Tapi, yang paling ‘pas’ adalah area sekitar GOR Jayabaya Kota Kediri. Selain luas, banyak spot yang temaram. Yang cocok untuk menjajakan diri. 

“Dulu sama teman-teman ramai mangkal di situ,” ucap wanita yang sudah menunjukkan tanda-tanda ketuaan ini, ketika ditemui di salah satu depot bakso di Kota Kediri.

Masih menurut BA, memilih GOR bukan asal-asalan. Lebih dulu mereka melakukan survei. Melihat tempat yang paling cocok. Memilih yang paling mudah jadi jujukan para hidung belang. Tetapi juga yang ‘agak’ tersembunyi. Juga, yang tak gampang terendus petugas. 

Tentu saja menjajakan diri di area terbuka berbeda dengan di lokalisasi seperti Semampir. Dulu BA dan rekan-rekannya tak repot mencari tempat untuk kencan. Karena sudah ada wisma yang menampung. Di setiap wisma itu pasti ada muncikari. Mereka inilah yang bertanggung jawab pada setiap transaksi yang dilakukan.

Tarifnya juga sudah ‘pasti’. Dari uang yang diberikan oleh pelanggan, PSK seperti BA harus membaginya dengan muncikari.

Termasuk pula ongkos sewa wismanya.

Namun, ketika berpraktik di GOR Jayabaya, mereka tak menggunakan kamar. Ketika melayani ‘tamu’ BA membawanya ke tempat yang sepi. Paling sering ke area persawahan. Di sini BA akan ‘menyervis’ pelanggan di tikar. 

“Modalnya ya beli tikar harga Rp 30 ribu,” terangnya. 

Dengan fasilitas seperti itu tarif yang dipatok BA tak bisa mahal. Boleh dibilang sangat, sangat murah. Tak lebih dari Rp 50 ribu sekali main. Bahkan, pernah dia mengiyakan ketika ditawar Rp 15 ribu oleh pelanggannya. Sebab, saat itu, dia benar-benar butuh uang. Sementara tak ada pelanggan yang me-nyamperin-nya.

“Namanya butuh uang, ya ambil aja,” aku perempuan yang ujung matanya tampak keriput itu dengan kecut.

‘Bermain’ di area persawahan pun memiliki banyak risiko. Selain harus mengantisipasi datangnya binatang liar, BA juga harus waspada. Yaitu bila sewaktu-waktu ada gerebekan. Baik oleh petugas satuan polisi pamong praja (satpol PP) atau oleh warga sekitar.

Belum lagi, karena di alam terbuka, tak ada jaminan tidak ada yang mengintip. Bila ada yang iseng, bisa-bisa aktivitas seksual terlarang itu akan direkam.

“Sekarang apa-apa pasti ada yang ngrekam. Saya jadi takut,” aku BA, sembari menyendok kuah bakso dari mangkuk di hadapannya.

Tantangan-tantangan itulah yang membuatnya menyerah. Apalagi, saat masa pandemi sejak awal 2020 silam, area GOR Jayabaya dan sekitarnya ditutup. Tidak boleh untuk kegiatan masyarakat. Akhirnya BA pun memilih ‘migrasi’ ke prostitusi online.

Selain model seperti BA itu, ada lagi prostitusi konvensional yang terselubung dengan aktivitas tempat hiburan malam. Paling banyak adalah kafe yang sekaligus ada tempat karaoke. Para PSK ini biasanya adalah pemandu lagu atau biasa disebut purel. 

Model berpraktiknya tidak vulgar. Lebih terselubung. Para lelaki hidung belang yang ingin memuaskan syahwatnya tak bisa serta-merta mem-booking. Mereka lebih dulu meminta nomor handphone sang purel. Kemudian membuat janji bertemu di luar jam kerja si purel di tempat karaoke tersebut. 

Saat janjian tersebut, mekanisme yang diberikan hampir sama dengan PSK online. Setelah ada perjanjian terkait tarif dan peraturan main mereka akan bertemu di hotel yang dituju.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#cantik #seks bebas #prostitusi