WAJAHNYA cantik dengan kulit yang putih bersih. Sangat kontras dengan bibirnya yang merah merona. Tubuhnya sintal, padat berisi. Dengan gaun yang seksi, sudah pasti akan membuat lelaki hidung belang bakal tertarik.
Duduk di ranjang salah satu hotel di Kota Kediri, belahan dada wanita ini menyembul dari dress hitam. Kakinya yang jenjang terlihat jelas karena baju yang dia kenakan hanya sampai atas lutut. “Duduk-duduk dulu aja atuh akang. Jangan langsung main,” suara lembutnya diarahkan ke Jawa Pos Radar Kediri yang sengaja mem-bookingnya untuk tujuan wawancara.
Wangi parfum beraroma musky bercampur melati tercium begitu jarak mulai dekat. Wanita itu adalah SI. Yang berstatus sebagai PSK online. Dia bukan orang Kediri. Melainkan dari Karawang, Jawa Barat. Koran ini harus janjian melalui aplikasi chatting MiChat sebelum bisa bertemu. Ya, Kota Kediri ternyata punya daya tarik besar bagi PSK dari luar daerah. Bahkan, menurut mereka, pasarnya besar.
Jumlah pelanggannya relatif banyak. Plus, di mata para pemuas nafsu ini, Kota Kediri dianggap aman. Tak pernah mengalami penggerebekan. “Kalau saya barusan ini tapi teman-teman sudah beberapa kali,” aku SI. Sebatang rokok putihan yang terselip di bibirnya segera dia nyalakan.
Perempuan ini mengakui mayoritas PSK online, seperti dirinya, berasal dari Jawa Barat. Setidaknya ada lima yang tergabung dalam kelompok mereka, termasuk dirinya. Membanjirnya pekerja seks ini terjadi jauh sebelum pandemi.
Bagaimana asal mula SI memilih Kota Kediri? Wanita 24 tahun ini mengatakan, terjerumusnya dia di dunia hidung belang baru satu tahun ini. Sebelumnya dia adalah pekerja di pabrik mi instan di Karawang.
Karena kebutuhan hidup yang tinggi dia menerima tawaran temannya menjadi PSK. Sempat pikir-pikir, SI akhirnya mengiyakan tawaran tersebut. Dia kemudian diajak ke daerah yang jauh dari
kampung halaman. Yaitu di Jatim. Nyaris setiap minggu SI berpindah-pindah. Selain Kota Surabaya dan Kota Malang yang menjadi incaran banyak PSK adalah Kota Kediri.
Bagi SI dan rekan-rekannya, Kota Kediri menjadi salah satu kota yang memiliki konsumen cukup banyak. Tak tanggung-tanggung, selama menetap seminggu di Kota Kediri, SI mengaku bisa mendapat uang hingga puluhan juta!
Maklum, sekali main tarif yang dipatok mencapai Rp 700 ribu. Itu sudah termasuk fasilitas hotel berbintang, kondom, tissue, hingga rokok. Padahal dalam sehari dia biasa melayani 5 hingga 7 pelanggan. Bahkan, bila ramai, SI pernah melayani 12 orang sehari!
“Tujuh ratus ribu (rupiah) itu sudah termasuk full servis. Si penyewa tinggal langsung masuk ke kamar,” jelasnya. Bila diambil rata-rata tujuh pelanggan per hari, artinya SI bisa mendapat untung Rp 4,9 juta. Kalikan saja seminggu, akan ketemu angka Rp 34,3 juta! Jumlah yang fantastis meskipun masih harus dipotong uang sewa hotel yang hanya Rp 5 juta seminggu.
Ketika datang ke Kota Kediri, SI tak seorang diri. Dia bersama empat orang temannya yang sama sama PSK. Semuanya juga dari Jawa Barat. Tapi mereka semua bekerja sendiri-sendiri. “Tidak ada bagi untung.
Jadi semuanya masuk ke kantong saya,” ungkapnya. Berbeda dengan PSK konvensional yang menggunakan jasa muncikari, SI tak memanfaatkan hal itu. Hal itu yang jadi alasan dia memilih jadi PSK online. Selain aman juga tak butuh jasa induk semang.
Setiap kali transaksi penyewa tak harus bertemu dengan SI. Para pelanggan itu hanya perlu mengunduh aplikasi di Playstore ataupun Apple Store. Setelah diunduh, mereka bisa mencari para PSK dengan pencarian teman di sekitar. Dengan pengaturan yang bisa menentukan jarak yang diinginkan. Entah itu berkisar 1 Km hingga 20 Km.
Setelah ketemu, si penyewa bisa melakukan negosiasi PSK. Entah itu terkait harga atau fasilitas yang ditawarkan. Setelah ada kesepakatan, mereka akan bertemu. Di tempat yang sebelumnya telah ditentukan. Setelah sampai, PSK tak akan langsung bertemu dengan penyewa. Tapi lebih dulu memberi nomor kamar. Setelah sampai di depan pintu, si penyewa akan melihat kondisi fisik dari si PSK. Apakah sesuai dengan foto yang dikirim atau tidak. Jika tidak sesuai, kesepakatan dapat batal.
Namun jika foto sesuai, transaksi akan dilanjutkan. “Rata-rata kita bayarnya cash. Biar tidak bisa kedeteksi kalau semisal kita kena gerebek,” terangnya.
Terpisah, Kepala Seksi Rehabilitasi Sosial UPT Rehabilitasi Sosial Bina Karya Wanita (RSBKW) Kediri Ina Nuryani membenarkan jika ada tren PSK online asal Jabar di Kota Kediri. Paling tidak tren tersebut sudah terjadi dua tahun terakhir.
Meskipun demikian, Ina menyebut jika dirinya juga tak tahu-menahu penyebab dari tren tersebut. Namun, menurut penelusurannya, hal tersebut terjadi secara turun-menurun.
Editor : Anwar Bahar Basalamah