Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Melongok Nasib Para Pejuang Kemerdekaan di Hari Veteran

Anwar Bahar Basalamah • Kamis, 10 Agustus 2023 | 17:15 WIB

 

KENANG PERJUANGAN: Anggota Legiun Veteran RI melakukan tabur bunga di taman makam pahlawan kemarin.
KENANG PERJUANGAN: Anggota Legiun Veteran RI melakukan tabur bunga di taman makam pahlawan kemarin.

Mereka adalah pejuang kemerdekaan. Bahu-membahu melawan penjajah. Namun, belum semua mendapat apresiasi yang layak.

Pukul 08.00 pagi, di Taman Makam Pahlawan Joyoboyo Kota Kediri. Puluhan orang dengan seragam warna cokelat, lengkap dengan peci berujung lancip berwarna kuning kunyit, berkumpul. Berbincang santai, sekali-kali disertai tawa kecil. Ketika ada yang baru datang mereka pun saling bersalaman.

Mereka adalah para pejuang kemerdekaan. Yang tergabung dalam Legiun Veteran Repulik Indonesia (LVRI). Yang tengah menunggu saat-saat prosesi peringatan Hari Veteran kemarin.

Ya, setiap 10 Agustus memang ditetapkan sebagai Hari Veteran. Seperti tahun-tahun sebelumnya, perayaannya diwarnai dengan acara ziarah ke taman makam pahlawan (TMP). Melakukan tabur bunga.

“(Dulu) Presiden Soekarno mengatakan 10 Agustus adalah Hari Veteran Nasional. Tapi hanya dinyatakan begitu,” kata Ketua Cabang LVRI, Letnan Kolonel (Inf) Purnawirawan Petrus Tumurang, 78. Namun, secara resmi Hari Veteran baru terjadi pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 2014 silam.

Menurut Petrus, para veteran dibedakan dalam tiga kelompok atau golongan. Yaitu veteran pejuang, veteran pembela, dan veteran perdamaian. Namun, semuanya tetap sebagai pejuang.  Yang berperan dalam pengusiran penjajah.

“Intinya veteran itu adalah prajurit-prajurit yang berperang melawan tentara asing,” jelas pria yang kemarin mengenakan jas warna hitam ini.

Menurut Petrus, mereka yang disebut veteran pejuang adalah yang ikut berperang melawan penjajah di era 1945 hingga 1949. Di Kota Kediri, jumlah golongan ini hanya tinggal empat orang.

Kemudian, golongan kedua adalah veteran pembela. Veteran ini adalah  mereka yang terlibat dalam  beberapa operasi militer. Seperti Operasi Trikora yang berusaha membebaskan Irian Barat (kini Papua) pada 1961, Operasi Dwikora yang berusaha membebaskan Kalimantan Utara  pada 1963, dan Operasi Seroja yang membebaskan Timor Timur dari penguasaan Portugis pada 1975.

Di Kota Kediri sendiri, jumlah veteran pembela ini 120 orang. Terdiri dari 12 orang ikut Operasi Trikora, 25 orang tergabung dalam Operasi Dwikora, dan 68 orang veteran Operasi Seroja.

Terakhir adalah veteran perdamaian. Yang jumlahnya ada 11  orang di Kota Kediri. “Mereka adalah veteran yang ikut misi perdamaian PBB di negara-negara berkonflik. Batasnya sampai 1976,” terangnya.

Atas jasanya sebagai veteran, mereka mendapatkan dana kehormatan setiap bulannya. Besar yang diterima saat ini adalah Rp 1,8 per bulan. Nilai tersebut sudah berlaku sejak pemerintahan Presiden SBY.

“Jadi itu bertahap. Dulunya hanya Rp 250 ribu terus (naik jadi) Rp 800 ribu,” sambung Ketua Ranting Mojoroto, Kapten purnawirawan Agus Suprapto.

Hanya, penerima dana kehormatan tersebut hanya veteran pejuang dan pembela. Sedangkan untuk veteran perdamaian, Agus menerangkan dana kehormatan masih diusulkan ke Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.

“Masih dalam proses, itu pun kalau disetujui,” jelasnya.

Terkait dengan kesejahteraan para veteran, menurut pria yang masuk kelompok veteran pembela itu, berbeda-beda di setiap wilayah. Dia kemudian mencontohkan bahwa di Kabupaten Kediri, saat ada peringatan hari Pahlawan 10 November, para veteran mendapat bantuan mendapatkan sembako. “Berbeda-beda kebijakan setiap pemerintah daerah,” ujarnya.

Kendati demikian, dia mensyukuri atas dana kehormatan tersebut. Berapa pun nominalnya.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Petrus saat ditemui di TMP kemarin.

“Kalau dilihat dari nilainya ya otomatis dihadapkan dengan situasi kondisi perekonomian sekarang yang tidak mumpuni. Tetapi kami bersyukur sudah diperhatikan,” ungkapnya.

Pada kegiatan ziarah kemarin, para veteran melakukan upacara sederhana. Tak lupa mereka mengheningkan cipta untuk mengenang jasa-jasa pahlawan. Mereka tampak menunduk saat mengheningkan cipta itu dimulai.

Setelah upacara, mereka mengambil keranjang bunga untuk ditaburkan ke makam. Mereka tampak bersemangat membagikan bunga itu ke makam-makam di sana. Lalu, beberapa di antaranya juga mengabadikan momen tersebut. Kegiatan pun kemudian diakhiri dengan foto bersama.

Photo
Photo

 

Inilah Kenangan Soejono ketika Berjuang Melawan Penjajah di Tahun 1948
Hari Veteran yang diperingati tiap 10 Agustus, jadi momen yang spesial bagi Soejono. Berbagai kenangan tentang perjuangannya melawan penjajah pada tahun 1948 hingga 1949 silam kembali menari-nari di benaknya. Termasuk suka duka yang dilakoninya kala itu.

“Saya berjuang di daerah Tulungagung. Mulai dari Sine, Popoh, hingga Prigi. Berjuang melawan penjajah Belanda,” kata veteran pejuang berusia 93 tahun itu.

Pria yang tinggal di Jl Veteran gang II, Kelurahan Sukorame, Mojoroto itu masih ingat benar saat Belanda tiba di Tulungagung dengan menaiki kapal. Melihat kedatangan penjajah dengan senjata yang lebih canggih, Soejono dan pejuang lainnya pun memilih strategi. “Ya karo ndelik, wong senjatane kalah,” lanjut lansia yang saat itu hanya membawa bambu runcing itu.

Begitu bunyi senapan bersahut-sahutan, Soejono dan pejuang lainnya memilih bersembunyi. Setelah menunggu saat yang tepat, barulah mereka melakukan penyerangan. Strategi itu sangat efektif. Setidaknya bisa mengimbangi Belanda yang secara persenjataan dan perlengkapan lebih canggih.

Berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya menjadi hal yang biasa. Kaki merupakan satu-satunya kendaraan yang dimiliki waktu itu. Kesehatan dan kekuatan tubuh pun menjadi penopangnya.

Jika saat ini wilayah Tulungagung sudah ramai dengan rumah penduduk, tidak demikian dengan 75 tahun silam. Mulai dari Sine, Popoh, dan beberapa daerah di lereng gunung yang dilewati, belum ada satu pun rumah yang dibangun di sana. “Kabeh sik kosong,” tuturnya terkait perjuangan 1949 silam.

Jika saat ini para tentara sudah mendapat gaji dan tunjangan, tidak demikian dengan Soejono waktu itu. Untuk sekadar makan pun, mereka hanya mengandalkan bantuan dari warga yang dilewati. Dia bersyukur perjuangan para pejuang waktu itu mendapat dukungan penuh dari masyarakat.

Mangan iku sing ngopeni rakyat, dados sumbangan dari rakyat,” paparnya. Ketulusan dan kesungguhannya saat berjuang puluhan tahun silam membuahkan hasil. Pada 1960 silam dia direkrut menjadi pegawai di RS Kusta.

Soejono didapuk menjadi kepala kantor tata usaha. Bapak empat anak itu pun purna tugas sejak 35 tahun silam. Untuk hidup sehari-hari, dia mengandalkan uang pensiun dan uang kehormatan.

Tak ubahnya saat berjuang, Soejono memilih menikmati masa tuanya bersama anak-anak dan cucunya. Pendengarannya yang mulai berkurang, hingga cara jalannya yang tak lagi cepat seperti dulu, tidak dianggap sebagai penghalang. “Saya beryukur,” tandasnya sambil tersenyum.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#hari veteran #pejuang 45 #veteran #pejuang