Sumber air tergolong melimpah di Kediri. Tapi tak semuanya dalam kondisi yang terawat. Mulai edisi ini Jawa Pos Radar Kediri akan menurunkan tulisan kondisi sumber-sumber tersebut, berikut semua dinamikanya. Dimulai dari Sumber Banteng di Kota Kediri.
Sumber Banteng menjadi salah satu mata air yang terawat dan lestari. Sumber air yang terletak di Lingkungan Kwangkalan, Kelurahan Tempurejo, Kecamatan Pesantren ini ada kelompok khusus yang mengelolanya. Merawat dan menjadikan sebagai tempat wisata.
Memang, selain mengedepankan aspek kelestarian alam, warga sekitar sumber yang menjadi tulang punggung pengelolaan, aspek budaya dan tradisi tetap dilestarikan. Seperti upacara sedekah bumi misalnya.
Baca Juga: Gara-Gara Ejekan, Remaja di Mojo Dikeroyok Teman-temannya
“Selain sebagai pendekatan wisata, kegiatan ini juga menyatukan warga dan menjaga semangat guyub rukun,” terang Sudarsono, lelaki yang merupakan ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sumber Banteng.
Setahun sekali mereka menggelar kegiatan ini, sedekah bumi. Berbagai hasil bumi warga dikumpulkan. Disusun menjadi bentuk tumpeng raksasa. Kemudian diarak, dari Lapangan Kwangkalan, menuju lokasi sumber.
Setelah mengarak gunungan hasil bumi menuju Sumber Banteng, ratusan warga berebut tumpeng. Warga yang tumpah ruah di sekitar mata air kemudian makan bersama. Bersuka ria menyaksikan hiburan yang juga ditampilkan oleh warga sekitar.
“Ini bentuk wujud syukur warga kepada Yang Maha Kuasa. Atas berkah di bumi tempat mereka berpijak. Termasuk air yang terus mengalir menghidupi seluruh kehidupan,” urai Darsono panjang lebar.
Awalnya, acara yang digelar setiap November itu hanya ditonton segelintir orang. Kebanyakan warga setempat. Seiring berjalannya waktu, kini bisa mendatangkan penonton dari luar kota.
Acara sedekah bumi tersebut sejatinya meneruskan tradisi yang sudah ada. Bukang mengada-adakan hanya untuk memikat pengunjung tempat wisata. Menurut Darsono sejak dulu, sejak sumber air hanya berfungsi memenuhi kebutuhan warga, acara semacam ini sudah dilakukan.
“Kalau dulu kebiasaan orang Lingkungan Ketami ke sini bersih-bersih (mata air) sambil bawa makanan untuk sedekah. Karena dulu yang memakai air untuk irigasi kebanyakan dari wilayah sana (Lingkungan Ketami, Red),” jelas Darsono.
Baca Juga: Tim PMK Kabupaten Kediri Musnahkan 18 Sarang Tawon, Ini TKP-nya
Kini, pemanfaatan utama Sumber Banteng memang beralih. Tak hanya untuk irigasi. Tapi juga menjadi objek wisata. Para pengelola pun bertekad tetap menyatukan aspek alam, budaya, dan tradisi. Sedekah bumi pun dikemas jadi tradisi yang juga bisa bernilai atraksi.
“Semenjak ada wisata kami berkomitmen untuk menghadirkan ini tiap tahun. Semua warga bisa ikut meramaikan,” terangnya.
“Meskipun sekarang kami kemas sebagai wisata tapi prinsipnya tetap nguri-uri tradisi. Wujud rasa bersyukur supaya diberi kesehatan dan keselamatan dalam mencari rezeki. Dan rezekinya barokah,” lanjutnya.
Dalam tiga tahun terakhir, atraksi sedekah bumi Sumber Banteng sudah bisa menarik pengunjung. Bahkan dari luar kota. Hal ini membuat peningkatan ekonomi yang dirasakan warga.
“Antusiasme masyarakat sangat tinggi. Sayangnya kemarin-kemarin acaranya dimulai pagi hari. Jadi banyak orang dari luar kota yang datang ke sini sudah selesai. Insya Allah tahun ini kami kemas siang,” terang Darsono.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah