KEDIRI, JP Radar Kediri–Sejumlah mata air di Kota Kediri tidak hanya berfungsi untuk pengairan saja. Khusus sumber yang juga dikemas menjadi tempat wisata, mereka berupaya mengembangkan dengan berbagai cara. Termasuk mengolaborasikannya dengan tradisi lokal. Seperti Sumber Banteng yang ingin membangkitkan musik ciblon.
Ketua Pokdarwis Sumber Banteng Sudarsono mengatakan, tujuan utama mereka adalah melestarikan mata air. Meski demikian, di saat bersama mereka berupaya menghidupkan budaya dan tradisi masyarakat di sana. Sehingga wisatawan bisa mengetahui sisi lain dari Kelurahan Tempurejo, Pesantren, tempat sumber itu berada.
“Aspek alam, budaya, dan tradisional yang akan kita kemas nanti,” ujarnya. Untuk aspek alam, Sudarsono ingin ekosistem mata air Sumber Banteng bisa lebih majemuk. Di antaranya, dengan melestarikan tanaman-tanaman langka.
Di bidang budaya, dia ingin menghadirkan nuansa-nuansa Kerajaan Kediri. “Kita bikin bangunan sendang yang motifnya seperti Kerajaan Kediri,” lanjutnya.
Khusus untuk tradisi, pria asal Lingkungan Kwangkalan, Kelurahan Tempurejo itu menyebut pokdarwis juga akan mengangkat kembali tradisi sekitar. “Kita gali kebiasaan orang sini dahulu itu seperti apa. Nanti akan kita kemas dan tawarkan. Seperti musik ciblon,” bebernya.
Musik ciblon menurutnya sudah tak pernah lagi ditemui di masyarakat. Padahal, dulu masyarakat masih sering berkumpul dan bermain musik ciblon di Sumber Banteng. “Dulu kalau jam segini (siang hari, Red) di bawah pohon beringin, orang-orang tua kalau mau salat Dhuhur itu mandi dulu di sumber sambil solawatan,” kenangnya.
Meski sudah tidak ada lagi masyarakat yang bermain musik ciblon di sana, pria yang akrab disapa Darsono ini optimistis upaya ‘menghidupkan kembali’ tradisi itu bisa terwujud. Sebab, beberapa orang-orang tua di sekitar Sumber Banteng mengaku masih bisa bermain seni musik dari air itu.
“Kalau sendangnya sudah jadi, insyaallah kita bikinkan Festival Ciblon. Jadi musiknya itu dari air, cek blung cek blung, begitu,” urainya menirukan irama bunyi ciblon.
Dengan integrasi beberapa aspek itu, dia optimistis mata air bisa lebih lestari. Pun dengan budaya dan tradisi yang ikut terdongkrak. Dampak lainnya, perekonomian warga sekitar juga bisa ikut terangkat.
Terpisah, Kepala Disbudparpora Kota Kediri Zachrie Ahmad menyambut baik pengembangan sumber mata air itu. Menurutnya, pengelola wisata masih dalam tahap merintis. Termasuk masih membangun sarana dan prasarana pendukung di sana. “Kami dari pemerintah khususnya disbudparpora melakukan pendampingan dalam rangka merintis mata air itu untuk menuju tempat wisata yang bisa menarik wisatawan untuk ke sana,” jelasnya.
Pria yang akrab disapa Ayik itu meminta agar perencanaan bisa lebih matang. Kemudian, promosinya bisa digencarkan lagi. “Kami support dengan memasarkan. Setiap ada event akan kita ikutkan agar semakin dikenal di luar. Tapi di sisi lain, internalnya juga harus memperbaiki tempat wisata agar tetap menarik untuk didatangi,” harapnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah