Memori yang Terlewatkan

Shinta Nurma Ababil • Dipublikasikan Minggu, 11 Oktober 2026 | 16:30 WIB
ilustari cerpen
ilustari cerpen

JP Radar Kediri - Layar hologram di depan Satria berkedip lembut, menampilkan grafik berwarna biru yang rapi.

"Selamat malam, Satria. Berdasarkan analisis denyut nadi dan aktivitas otak Anda hari ini, tingkat stres Anda berada di angka 12%. Saya sarankan secangkir teh chamomile hangat dan musik klasik dengan tempo 60 BPM untuk menemani Anda tidur," suara lembut bercampur aksen robotik yang familier terdengar dari sudut kamar.

Itu adalah Elio, asisten AI personal milik Satria. Elio bukan sekadar asisten biasa; ia telah menemani Satria sejak pria itu lulus kuliah, mengurus jadwalnya, merangkum buku-buku tebal untuk pekerjaannya sebagai analis data, bahkan membalas pesan-pesan formal di emailnya. Bagi Satria, Elio adalah otak keduanya. Hidupnya menjadi sangat efisien dan tanpa celah.

"Terima kasih, Elio. Buatkan daftarnya," jawab Satria malas, matanya masih menatap langit-langit kamar.

"Tentu. Oh ya, besok adalah hari ulang tahun Ibu Anda yang ke-65. Saya sudah menyusun tiga opsi kado terbaik berdasarkan algoritma riwayat belanja dan kesukaan Beliau dalam lima tahun terakhir. Opsi pertama adalah syal sutra rajutan tangan, kedua adalah..."

"Pilihkan saja yang terbaik, Elio. Dan kirimkan pesan selamat ulang tahun otomatis besok pagi jam 7," potong Satria. Ia terlalu lelah untuk berpikir.

"Pesan otomatis telah dijadwalkan," sahut Elio patuh.

Keesokan harinya berjalan seperti biasa. Satria bangun, bekerja dengan bantuan AI yang menyelesaikan setengah tugas analisisnya, lalu pulang. Di malam hari, ia memutuskan untuk mengunjungi ibunya di pinggiran kota. Syal sutra pilihan Elio sudah tiba di rumah ibunya pagi-pagi sekali lewat kurir drone.

Ketika Satria membuka pintu rumah masa kecilnya, bau aroma kue pandan langsung menyengat hidungnya. Ibunya sedang duduk di sofa tua, mengenakan syal sutra biru pemberiannya.

"Satria! Kamu datang, Nak," wajah wanita tua itu berbinar. Ia langsung berdiri dan memeluk anak tunggalnya.

"Selamat ulang tahun, Ibu. Maaf Satria baru sempat datang malam," kata Satria sambil tersenyum. "Ibu suka syalnya? Itu sutra kualitas terbaik."

Ibunya mengelus syal di lehernya, lalu tersenyum tipis. "Syalnya bagus sekali, Satria. Sangat hangat. Pesan singkat yang kamu kirim tadi pagi juga sangat indah. Bahasanya puitis dan rapi sekali."

Satria tersenyum kaku. Ia tahu pesan itu ditulis oleh Elio menggunakan generator teks AI dengan perintah 'buat ucapan ulang tahun yang menyentuh untuk ibu'. Satria sendiri bahkan tidak membaca isinya sebelum terkirim.

"Tapi, Satria..." Ibu menatap mata anaknya dengan lembut, ada gurat kerinduan di sana. "Ibu merindukan salah ketikmu."

Satria mengernyitkan dahi. "Maksud Ibu?"

"Dulu, kalau kamu mengirim pesan, pasti ada saja huruf yang salah. Kamu sering mengetik 'Ibu' menjadi 'Iub', atau lupa memberi tanda titik karena terburu-buru. Kalimatmu pendek, tidak sepuitis tadi pagi. Tapi... di dalam pesan yang berantakan itu, Ibu tahu itu benar-benar suaramu. Ibu tahu anak Ibu sedang memikirkan Ibunya," kata Ibu pelan, tangannya yang mulai keriput menggenggam jemari Satria.

"Pesan tadi pagi... rasanya terlalu sempurna. Seperti ditulis oleh orang asing yang tahu segalanya tentang Ibu, tapi tidak punya hati."

Kata-kata itu menghantam dada Satria seperti godam berat. Ia tertegun.

Malam itu, setelah pulang ke apartemennya, Satria duduk di tepi tempat tidur dalam keheningan. Layar hologram Elio menyala otomatis.

"Satria, jadwal Anda besok sudah siap. Apakah Anda ingin saya merangkum artikel jurnal untuk presentasi Anda hari Kamis?" tanya Elio.

Satria memandangi lingkaran cahaya biru di depannya. Teknologi ini telah mengambil alih semua hal rumit dalam hidupnya: mengingat, merangkum, memilih, hingga merangkai kata. Tapi di saat yang sama, ia tersadar bahwa ia telah mendelegasikan kemanusiaannya sendiri kepada sebuah mesin. Ia membiarkan AI menggantikan rasa sayangnya, perhatiannya, dan ketulusannya.

"Tidak, Elio," jawab Satria pelan.

"Maaf, saya tidak mengerti perintah Anda," respons Elio.

Satria tersenyum, kali ini senyum yang tulus. "Mulai besok, matikan fungsi pesan otomatis untuk kontak Ibu. Dan untuk artikel jurnal itu... jangan dirangkum. Biarkan aku membacanya sendiri, baris demi baris."

"Perintah dimengerti. Sistem diperbarui."

Satria mengambil ponselnya. Dengan jarinya sendiri, tanpa bantuan prediksi teks atau koreksi otomatis dari AI, ia mengetik sebuah pesan pendek untuk ibunya:

“Iub, kue pandannya tadi enak banget. Makasi ya. Satria sayang Ibu.”

Ia sengaja membiarkan salah ketik itu di sana. Sebuah kesalahan kecil yang membuktikan bahwa ia manusia, dan ia benar-benar hadir.

Nama: Tahta Alvina

Universitaas Islam Tribakti Lirboyo Kediri

Editor : Shinta Nurma Ababil
non fiksi cerpen