Damay Ar-Rahman
Lima minggu aku menunggu balasan dari Ayu, tetapi ia hanya membaca pesanku. Memang tidak mudah untuk melupakannya, semua telah aku perjuangan termasuk harta dan harga diriku. Ibuku, seorang kepala bidang di perkantoran Kejaksaan, dan ayahku yang merupakan pensiunan di lembaga keuangan daerah membuat hidup dapat lebih Makmur. Namun, aku bukanlah seorang lelaki manja dan mengharapkan pemberian orang lain termasuk orang tua. Bagiku, semua itu bukanlah milikku, karena tidak berasal dari hasil kerja keras meskipun mereka berlapang dada memberikan apapun yang aku minta.
Semenjak di bangku sekolah menengah, aku selalu membawa baju cadangan agar seragam sekolah tidak kotor dan bau saat aku bekerja sebagai tukang bengkel. Selain itu, saya juga berdagang makanan ringan seperti bakso bakar, sosis dan minuman anak-anak untuk menambah tabunganku agar dapat kuliah. Kemandirian yang aku jalani membuatku lebih puas menjalani hari-hari. Sampai tibalah saatnya di mana aku yang seharusnya fokus mencari uang, seorang gadis jelita yang juga menjual mainan anak-anak yang memikat hati. Ia ramah, terlihat dekat dengan anak-anak kecil, ditambah juga pintar di kelasnya sehingga aku semakin kagum.
Tetapi, aku tetap berusaha untuk tidak dulu memikirkan perempuan. Karir lebih menentukan masa depan. Namun, Ayu selalu tersenyum saat menyapaku. Lesung pipi di wajahnya dengan kulit putih mulus akhirnya berhasil menakhlukkan hati.
“Bang saya beli lima ribu bakso bakar. Jangan lupa saus dan kacangnya.”
“Oh ya dek, baiklah.” Tiba-tiba jantungku berdetak kencang tak terkendali. Saat ia menyerahkan uang pembayaran, bergetar membuat wajah cantiknya mendekati wajahku. Benar-benar indah dan sempurna.
“Terimakasih abang.” Jawabnya memanggilku manja.
Aku harus fokus…fokus…tanpa memikirkan apapun. Aku tak ingin menjadi bodoh. Tetapi, cinta benar-benar memiliki mantra yang kuat. Ia kembali datang, namun kali ini bukan membeli melainkan ngobrol denganku. Mungkin, karena juga sedang sepi pembeli.
“Aku kenal dengan ibu abang.”
“Hah maksudmu dik?” Jawabku terkejut.
"Ibuku bekerja juga di sana. Kau pasti kenal dengan ibu Mayli."
“Itu ayah adik?”
“Iya abang.”
Ada arti apa dalam pertemuan kami. Ibunya dan ibuku saling mengenal, meskipun yang kuketahui ibu Marli itu sudah cepat pensiun karena pernah bermasalah. Aku tidak tahu detail apa masalahnya. Tapi kudengar sering bolos masuk kantor. Percakapan kami melanjutkan pada urusan sekolah. Ternyata. Ayu siswa pemenang bulu tangkis antar kota. Celana saja wajahnya tidak asing. Ayu pernah masuk dalam surat kabar.
Semakin lama, aku merasa nyaman ngobrol dengannya. Kamipun melanjutkan dengan bertukar nomor telepon. Cattingan, telfonan, hingga panggilan video saat ia berada di luar kota. Dagangan mainan itu, adalah milik sepupunya, itu hanya di samping saja katanya. Kamipun saling berkomitmen, ia lulus di perguruan tinggi politik, dan aku komunikasi. Seminggu sekali, kami bertemu dan menikmati keindahan sore di pantai atau nonton bioskop. Aku tidak merasa malu membawa jalan-jalan karena itu adalah hasil jerih payahku.
Aku adalah laki-laki dengan prinsip setia yang besar. Ayu adalah wanita satu-satunya yang akan aku perjuangankan. Apapun permintaannya aku ikuti. Termasuk pembayaran SPP kuliahnya aku yang menanggung. Lalu ayahnya pergi berselingkuh sejak lima tahun lalu, dan ibunya juga butuh biaya untuk berobat.
Saat ia menyelesaikan tugas akhir, saya yang baru setahun bekerja di dinas perhubungan sebagai tenaga kontrak. Ia meminta tolong padaku yang sejak dulu aku menghindari. Yaitu, meminta bantuan orangtuaku untuk memasukkan namanya ke kantor kejaksaan. Buku yang masih berstatus kepala bagian di sana, juga begitu benci harus meminta atasan memasukkan seseorang yang bekerja di kantor itu. Namun, sudah kukatakan bukan, jika untuk Ayu apapun akan aku lakukan agar ia bahagia.
Tidak mudah memang untuk mendapatkan posisi. Walau ibu memiliki kedudukan di sana, hingga setahun kemudian ia dipanggil dan diterima. Ia bangga dan aku juga. Melihat ia semakin merona dan tersenyum ketika bertemu, hidupku semakin lengkap tanpa batas. Pada akhirnya, Ayu tiba-tiba bertanya secara spontan tentang hal di luar dugaanku.
“Kapan kamu melamarku?”
Pertanyaan itu memikirkan akan keluar dari rekomendasi ketika saya telah mengumpulkan biaya pernikahan. Karena dia pernah bertanya ini enam bulan yang lalu.
"Kan udah abang bilang dik, satu tahun lagi abang akan lamar adik. Mahar yang abang kumpulkan masih belum cukup sayang."
“Jadi kapan abang?”
Aku tak menjawab, tapi perasaanku tidak enak.
“Apakah abang sudah ada yang lain?”
“Maksudmu dik?”
“Iya, kenapa abang akhir-akhir ini telat membalas pesanku?”
“Abang harus redamgi bos kemanapun dik, enggak enak jika abang selalu memegang telefon.”
“Itu alasan abang saja. Jika begitu saya ragu dengan abang.”
“Ragu? Apa maksudmu dik?”
“Enggak yakin Ayu, abang selalu menunda-nunda mempersunting adik.”
"Dik kamu tidakkah mengingat segala sesuatu yang sudah abang berikan? Bahkan abang merusak harga diri dan banyak tabungan. Tak bisakah kamu bersabar sebentar?"
“Maaf abang, kami tidak cocok. Semoga abang mendapatkan yang lebih baik dari Ayu.”
Aku lemas mendengar segala ucapannya. Betapa kejamnya Ayu padaku. Saat itulah aku ditinggalkan sendiri. Aku rasa dia sudah lama merencanakannya. Celana hari ini ia tidak mau aku jemput, dan memilih naik motor sendiri. Tak lama selang dari hari terakhir kami melompat, dan setelah segala upaya yang aku lakukan termasuk mendatangi orangtuanya untuk bertunangan dulu, tetapi aku menolak dan bahkan tidak dipedulikan sama sekali. Tiba-tiba pesan dari temanku mengirim undangan pernikahan Ayu dengan seorang pegawai pemerintah di kejaksaan yang berstatus duda.
Biodata Penulis:
Damay Ar-Rahman bekerja di Banda Aceh, alumni Universitas Malikussaleh dan UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian