Kumpulan Orang Kalah
Pagi dan malam tak ada bedanya
pada kota yang ternyata bukan surga dunia,
kecuali neraka dunia.
Orang-orang kompak menghitung jarak untuk bisa sampai
kepada air susu.
Peluh jadi Saksi, betapa orang yang terdampar di sini seragam hasilnya,
Perpecahan tak berurat.
Di kota ini tikus pun merasa kasihan, sampai-sampai ia mau tidur
berselimut dengan orang yang kalah di tanah asal.
Pada akhirnya, semua orang itu berharap sama,
secepatnya kembali, berharap tak ada yang namanya pesakitan setelahnya.
Syukur-syukur Tuhan mau menepati janji yang diucapkan sebelumnya
cahaya turun pada rahim.
Kalaupun demikian, tentu bukan soal.
Tetapi sebelum itu, mereka dengan nada serempak mengatakan bahwa mereka tidak menyerah, hanya kalah oleh sistem yang membelenggu yang dibuat oleh omongan kosong.
Jakarta, 15 Juli 2025
Berteman Nafas
Aku membayangkan hidup yang hanya berteman dengan nafas,
tanpa mempertimbangkan jadi apa.
Ternyata, tak hanya saya sendiri yang menginginkannya.
Ada banyak kepala yang menambakan hidup seperti itu.
Penyebabnya pun sama,
lelah di ibukota yang memutar tak ramah di dambaan.
Jarak terlampau tinggi antara roda empat dengan kaki.
Tetapi kaki orang di sini senasib, makanya berjalan serempak
dari Jalan Pegangsaan Timur yang legendaris itu menuju Senayan yang katanya perkasa tetapi nyatanya hanya diisi oleh perut. Lalu setelah itu bergerak menuju Medan Merdeka.
Tetapi itu hanyalah khayalan mereka saja, percuma kata mereka kompak.
Maka dari itu dambaannya cuman satu, bisa berteman dengan nafas.
Jakarta, 15 Juli 2025
Orang Desa Sekarang
Apa yang termaktub dalam desa adalah kekompakan.
Sawah yang satu menguning, yang lainnya ikut menguning.
Air sungai bermutasi menjadi hitam pekat penuh asam, sungai lainnya jadi ikutan.
Sawah melahirkan bangunan beton, yang lainnya latah melahirkan juga.
Kepala-kepala beralih ke nafas yang penuh polusi, juga ikutan.
Pada akhirnya yang tersisa adalah kehampaan.
Jakarta, 15 Juli 2025
Penulis
Malik Ibnu Zaman lahir di Tegal Jawa Tengah. Menulis cerpen, puisi, esai, dan resensi yang
disebarkan di beberapa media online. Buku pertamanya sebuah kumpulan cerpen berjudul
Pengemis yang Kelima (2024). Email : ibnuzamanmalik@gmail.com
Editor : rekian