Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Antara Air Mata dan Api yang Membara, Aku disini Merindukanmu, Ayah

Afrizal Saiful M • Senin, 24 November 2025 | 06:44 WIB

Photo
Photo
Entah apa sebenarnya yang ingin saya capai. Dari hari ke hari, segala hal terasa biasa saja di sekitar. Aku yang mulai kehilangan minat menulisku, juga hobi-hobiku yang lain. Entahlah, yang pasti, yang sedang saya rasakan saat ini adalah duniaku begitu kosong, hampa dan tak bermakna. Tiada satu pun sesuatu yang istimewa di suhu dingin saat ini. Karena aku merasa, aku tak bisa bergantung pada siapa pun, termasuk kebahagiaanku. Semuanya haruslah ku tanggung sendiri. Baik itu kebahagiaan, kesedihan, bahkan hal-hal sederhana yang sebenarnya itu memiliki makna yang begitu dalam, semuanya harus benar-benar aku rasakan sendiri.

Dan sore ini, aku masih tetap berada di halaman rumahku, dengan secangkir kopi juga sebatang rokok yang kedua hal ini tanpa sadari dapat menghilangkan berbagai macam permasalahan dari kehidupan, meski hanya sesaat. Ku tengok awan indah yang seolah sedang menatap ke arahku. Dengan bentuknya yang menggumpal putih, juga langit jingga yang menjadi hiasannya, semuanya tampak indah di mataku. Sesekali tak lupa ku teguk kopiku sedikit demi sedikit, juga sebatang rokokku yang selalu ku biarkan menciptakan lekukan indah dari asap yang ia ciptakan. Tanpa ku sadari, diriku sedang tersenyum. Diriku tersenyum saat berhasil gagal dalam kepulan asap yang sudah kesekian terakhir. Kubiarkan kepulan itu menyatu dengan indahnya warna langit, juga dengan awan putihnya yang kini sedikit berwarna merah jingga sebab hari yang sudah mulai petang. Dan, seperti biasa, hal ini sudah pasti kuduga. Saat aku sedang menikmati suasana alam yang begitu indah, satu demi satu permasalahan hidupku mulai memenuhi isi dalam fikiranku. Dan begitulah, senyuman yang mulanya terukir kini lenyap seketika. Raut wajahku yang mulanya tampak bahagia sebab hingga di titik ini aku masih mampu bertahan, kini berubah menjadi murung dan penuh dengan kesedihan. Dan kini aku hanya menatap indahnya langit dengan melengkungkan yang kosong.

"Mengapa kau datang kemari?"

Ya, kata itu lah yang pertama kali menyerang isi dalam fikiranku, kata yang tanpa ia sadari telah menghancurkan diriku sendiri.

"Ayah, sudah lama kita tak berjumpa karena jarak yang jauh di antara kita, Ayah. Sudah pasti aku sangat merindukanmu, Ayah."

Hari itu, aku bersengaja untuk membahas ayahku yang sudah berapa tahun ini belum sama sekali aku temui. Hal itu bukan karena alasan. Hal itu terjadi karena ibu dan ayahku yang kini sudah tak lagi hidup serumah. Lalu, aku memilih untuk ikut bersama ibu. Jadilah hari-hariku selalu bersama ibu, bukan bersama ayah.

Ayah masih saja memikirkannya, ia masih belum memberikan tanggapan apapun yang kuinginkan.

“Ayah, kenapa Ayah diam? Tidak kah Ayah juga rindu aku, Yah?”

Dikarenakan ia masih saja mendengarkan dan juga tertunduk, saya pun memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan yang ada, agar pembicaraan kita tetap mengalir dan juga tak menjadi kaku.

Namun, entah mengapa ayah masih ingat dengan raut wajahnya yang sedikit pun tak menunjukkan kepedulian terhadapku.

Dan benar saja, tak lama kemudian, ia pun beranjak dari tempat duduknya, lalu ia pergi meninggalkanku seorang diri.

Aku memandang punggung dari sosok yang dulu sangat aku cinta, namun tidak dengan sekarang. Kian lama punggung yang sedari tadi aku pandangi pun hilang karena jarak. Ia kini jauh dariku, dan aku masih saja terduduk di tempatnya. Sejenak aku sandarkan tubuhku pada tembok yang berada di belakangku, lalu aku pun memikirkan semuanya. Aku selalu bertanya-tanya pada diriku sendiri, mengapa semenjak perpisahan ayah dan ibu, ayah tampak tak peduli padaku. Terlebih lagi, jika boleh berkata, saat ini dia tampak sangat membenciku, dan semua itu terjadi tanpa adanya satu pun alasan.

Satu jam berlalu dan ia masih belum kembali untuk membahasku. Aku pun memutuskan untuk pergi dari rumah ayah. Dan sebelum aku pergi, terlebih dahulu aku memperhatikan keadaan sekitarku. Dan hasilnya, ayah dan istri baru dari ayahku pun sedang tak ada di dalam rumah ini. Pertanyaannya, tidak pentingkah aku dalam hidup mereka? Jika memang mereka memiliki kesibukan pribadi, tidak.bisakah mereka memberitahuku terlebih dahulu bahwa hari ini ia belum bisa untuk berdiskusiku dan aku bisa membahasnya di hari lain? Entahlah, yang pasti aku begitu kecewa padanya. Aku putuskan untuk pergi dari rumah ini dengan perasaan dan juga fikiranku yang entah aku pun tak dapat memahaminya. Dan tentang air mata, jangan tanyakan lagi tentang air mata yang selalu berusaha untuk aku tahan. Karena aku sadar, bahwa kesedihan tak selalu harus diungkapkan dengan jelas. Hingga pada akhirnya, aku memilih untuk menyimpan air mata itu di dalam lubuk hatiku yang paling dalam. Kedua mataku hanya tampak berkaca-kaca, namun hatiku basah karena air mata yang rusak.

***

Tanpa sadari, segelas kopi dan juga sebatang rokok yang sedari tadi aku nikmati pun perlahan habis, bersamaan dengan ingatanku yang baru saja kembali. Dan kini, aku dapat merasakan betapa sedihnya awan melihat kondisiku saat ini. Warnanya tak secerah seperti pertama kali saya sedang menikmati indahnya suasana di luar rumah. Kini awan itu tampak agak gelap. Bukan karena hari sudah petang dan akan menjelang maghrib. Semua ini karena fikiran dan juga perasaanku yang selalu gelap karena dimendungi oleh kesedihan. Semua ini karena penglihatanku yang perlahan mengaburkan sebab air mata yang kutahan di pelupuk mata. Dan aku pun menangis dalam diam, memikirkan segala hal yang sebenarnya hal ini sama sekali tidak perlu terjadi terhadapku. Namun aku sadar, dengan betapa sedihnya yang menerpa, aku belajar untuk menjadi orang yang lebih peduli terhadap segala hal. Aku yang merupakan seorang anak yang kurang memperolah kasih sayang dari orang tuanya, tak ingin jika anak-anak lain pun ikut ikut merasakannya. Jadilah aku tatkala beberapa menyaksikan anak yatim ataupun anak-anak yang tak jauh berbeda dari kondisiku, aku menyayanginya dengan sepenuh hati. Aku yang kini sudah beranjak dewasa mau tak mau harus mampu melalui segala macam lika-liku hidup yang ada.

Setelah aku merasa sedikit tenang aku pun bersiap-siap untuk segera masuk kembali ke dalam rumah. Namun langkah mengejutkannya aku ketika aku akan mendekat, sesosok kecil dan tiba-tiba hadir dan mendekatiku. Ia datang dengan mengibas-ngibaskan ekornya, seolah ingin menyampaikan bahwa aku tak perlu terlalu lama larut dalam kesedihan. Aku pun membawa lebih dekat ke dalam pelukanku, dan aku pun mengelusnya dengan lembut.

Ya, ia adalah kucingku, seekor kucing yang ada di sekitarnya bukanlah sekedar kucing biasa. Ia adalah teman seumur hidup, ia adalah salah satu alasan mengapa aku masih mampu bertahan dalam kerasnya hidup ini. Dan di dalam rumah yang sederhana ini, hanya kami berdua yang menjadi penghuninya. Aku tak mengerti bagaimana kondisi ayahku saat ini, pun dengan kondisi ibuku yang sudah memiliki suami baru lagi. Sudah setahun ini aku memutuskan untuk hidup mandiri. Aku lebih memilih untuk bekerja, lalu pulang dan disambut hangat dengan kucing peliharaanku. Aku sudah tak sanggup lagi memikirkan segala hal yang berkaitan dengan ayah dan juga ibuku. Saya juga berpikir, bahwa mereka juga memiliki hak untuk hidup sesuai dengan jalan hidup masing-masing. Pun dengan diriku sendiri. Dengan keyakinan dan juga doa, aku percaya bahwa aku masih layak dan pantas untuk memahami apa itu masa depan, dan kini aku sedang bertahan untuk memperjuangkannya. (*)

 

Bio Penulis :
Muhammad Kafin Yardan Kayana tinggal di Gurah, Kediri. Hobi menulisnya sering kali dia tuangkan dalam setiap waktu-waktu luangnya. Tema kepenulisan yang digemarinya adalah cinta, alam dan juga kehidupan. Karya-karya tulisnya pernah dibukukan dalam buku antologi bersama yang diantaranya: Payung Peneduh Hati dalam buku antologi Begini Ya Jadi Dewasa Itu (Medium Kata,2024), Bertumpu pada Kerelaan Melepasmu dalam buku antologi Terungkap dan Tak Dapat Bersatu (Nulis Quote,2024) dan Penantian Berujung Perpisahan dalam buku antologi Yang Telah Pergi (Mahir Nulis,2024). Penulis bisa ditemui di instagramnya @kafinyardan dan emailnya yardankayana20@gmail.com

 

Editor : rekian
#radar kediri #cerita pendek #kediri #sastra #cerpen