Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Puisi Sukron Hidayat

Afrizal Saiful M • Sabtu, 22 November 2025 | 22:27 WIB
Photo
Photo

 

Antrean Resah

 

konon, puisi lahir

dari persetubuhan resah dan aku

aku dan resah

resahku ...

 

maka, terlihat di sana

puisi-puisi begitu panjang mengantre. menanti.

berlarik-larik di bawah terik

perlahan menggeser sabar

meraup ganjaran dari penantian

 

ini kisah tentang kereta

yang terlambat mengantar penumpangnya

sebab rel miliknya masih diasah

agar kelak dapat melaju tanpa luka-luka

 

meski puisi-puisi itu mendekap tabah

nampak di sana tak henti-hentinya juga

ia menengadah di atas

sajadah pertamina

 

Bondowoso, 2025

 

 

 

Rumah Duka

 

rumah paling nyaman ini

tak hentinya menebar kabar duka

 sesekali di dapur

terdengar tikus grasah-grusuh

entah apa yang diburu

padahal kantong beras masih kosong

gula yang ada pun

belum sempat kucicipi

 gusti,

aku hanya ingin bermain, berlari

melayangkan mimpi-mimpi

 sesekali berseru tanpa mengeluh

menanti anginmu berderu

 lantas mengimani

entah layanganku tetap

terkatung-katung di udara rumah

atau putus atas tipisnya benang takdir ini

 

Bondowoso, 2025

 

 

Yang Dilukai

 

saban hari tiap langkahku adalah pertanyaan

seperti kaki yang bersuara lantang

mengapa sepanjang yang ditapaki

masih saja penuh lubang?

 sedang di seberang

tukang-tukang sibuk menambal jalan

seperti mengucap maaf pada hati yang terlukai

nampak pulih dalam pandangan

namun sepanjang perjalanan

terasa gundukan tak terlupakan

"aspal ini pernah dilukai"

 dilukai olehmu

yang meraup rakus selaiknya tikus

 seperti kabar di wajah-wajah media pekan lalu

segerombolanmu yang kotor itu

mulai tersapu

dipilah dari ruang suci

yang sungguh tak pantas untukmu

 

Bondowoso, 2025

 

 

 

 

Melihat Suara

 

telinga ditabuh

bola besar terasa memantul

menembus ruang gendang

 para pemuja sebut ini seni

kusebut juga seni

: seni mengubah raut wajah rumah

dari kacanya yang bergetar

hingga pecah

seolah ingin menutup telinga

tak mengerti aku

susunan balok yang seyogyanya didengar

kini juga jadi tontonan

 aku pun tersadar

suara bukan lagi untuk didengar

namun bisa dilihat

 

Bondowoso, 2025

 

 

 

 

Bio Singkat :

Sukron Hidayat, penyair asal Bondowoso. Puisi-puisinya termuat di beberapa media cetak maupun online. Puisinya juga terhimpun dalam sejumlah buku antologi puisi bersama. Sekarang ia mengabdikan diri di PC IPNU Bondowoso sebagai Direktur LPP (Lembaga Pers dan Penerbitan).

 

 

Editor : Mahfud
#kumpulan puisi #bondowoso