“Mohon maaf, bukankah naskah ini karya Kak Maia sendiri, toh?” tanya seorang teman setelah mengangkat tangan kanannya sebagai tanda meminta kesempatan untuk berbicara.
“Pada minggu lalu, Kakak juga menyampaikan kalau naskah ini belum pernah dipentaskan atau dibawakan dalam pementasan manapun? Lantas, mengapa kami tidak disarankan berimprovisasi selepas mungkin agar penampilan perdana kami ini tidak terlalu monoton, Kak?” sambungnya. Mula-mula ruangan itu terasa hangat dan tenang, kemudian pertanyaan demi pertanyaan berhasil memicu diskusi menjadi medan pertempuran kesadaran. Beberapa di antaranya pun tidak ragu untuk memperlihatkan bias mereka, kecuali saya pribadi memilih duduk bersila mengisi sudut ruangan itu, tanpa benar-benar hadir dalam percakapan, tanpa suara dalam ribuan karakter.
“Bagaimana bisa dunia yang dihuni miliaran jiwa masih menyisahkan ruang sedalam ini untuk sepi?” tanya saya dalam hati, kendatipun dunia telah membawa orang-orang terdahulu ke lorong-lorong sepi, tikungan tajam menyakitkan, atau bahkan medan yang terasa asing dan menakutkan.
“Wah, pertanyaan yang cukup menarik nih, Kak Maia.” celetuk Kak Aurora selaku bagian dari angkatan terdahulu yang mengatur jalannya diskusi saat itu.
“Baik, saya bisa memahami keresahan kalian. Jadi begini ya Adik-adik, dalam bermain peran, improvisasi itu memang cukup penting dilakukan untuk menciptakan sebuah pementasan yang jauh lebih hidup. Bahkan lebih dari itu, improvisasi juga dapat menjadi penyelamat kita ketika terjadi kecelakaan atau kesalahan di atas panggung.” ucap Maius dengan penuh pengertian.
“Tapi perlu diketahui bahwasannya kita ini tidak seharusnya bergerak terlalu jauh dari naskah asli. Sebab, improvisasi yang berlebihan bisa merusak struktur cerita, terlebih bisa mengaburkan amanat atau pesan yang terkandung di dalamnya.” sambung Maius meyakinkan seraya melempar pandangannya ke arah para anggota barunya, termasuk saya. Dari sisi lain, tatapan sayu tajam itu berhasil menangkap saya hingga gugup dan merasa perlu mengalihkan pandangan tentang senior yang dramatis ke arah perempuan cerdas dan autentik. Tanpa berpikir panjang dan melihat ke belakang, saya pun memutuskan untuk mulai mengikuti perbincangan itu dan seterusnya, tidak lain sebagai bentuk penghormatan terhadap seorang pemimpin.
“Kesimpulannya, kami tetap diharuskan untuk bermain peran sesuai dengan naskah aslinya ya, Kak?” tanya lagi seorang teman yang bertanggung jawab sebagai sutradara.
“Kalau kalian mempertanyakan hal itu kepada saya sebagai penulis naskah ini, tentu harapannya demikian karena naskah ini ditulis berdasarkan kisah nyata yang terjadi di sekitar saya. Kalian pasti memahami kekhawatiran saya, ketika suatu improvisasi justru membuat karakter tokoh jauh dari ekspektasi, sedikit banyak akan mengusik saya yang mengenal sosok aslinya.” tegas Maius.
“Jujur, saya tidak bisa terlalu baik, tetapi saya tidak bisa terlalu keras kepada orang lain, terutama kepada kalian yang baru terjun ke dunia teater dan memerlukan bimbingan. Namun, kalian juga perlu memahami kalau saya tidak bisa terlalu membantu sekaligus saya tidak bisa terlalu egois. Satu sisi tidak boleh lebih berat dari yang lain, jika tidak semuanya akan salah. Itu artinya, tugas kita memastikan semuanya seimbang dengan saling melengkapi satu sama lain.” sambungnya.
“Siap.. mengerti, Kak.” sahut sutradara.
“Kalau kalian ingin memerankan sesuai naskah aslinya, maka pahami naskah secara mendalam. Mulai dari karakter, plot, konflik, hingga pesan yang ingin disampaikan kepada penonton. Selain itu, lakukan riset untuk penggalian latar belakang dan pengembangan motivasi karakternya. Hal ini sangat penting dilakukan untuk memudahkan kalian membangun karakter yang kuat sehingga mampu menghidupkan cerita dan membawakan emosi penonton.” ucap Maius memberi saran.
“Oh ya, sebelum saya beranjak dari rapat ini lebih awal, tidak lupa pesan saya untuk sutradara.” ucap Maius sebagai isyarat kepergiannya untuk melakukan bimbingan skripsi.
“Ingat, peranmu di sini sangat berpengaruh terhadap baik-buruk pementasan nanti ya, Dik. Peran sutradara itu tidak hanya sebatas memimpin, tetapi juga bertanggung jawab atas berlangsungnya proses kreatif suatu pertunjukan. Sutradara teater itu ibarat sutradara kehidupan, pada akhirnya setiap manusia dengan kehendaknya masing-masing hanya bisa mengikuti skenario kehidupan.” sambungnya seraya mengemasi berkas-berkasnya, lalu berpamitan meninggalkan ruangan itu.
***
Keesokan harinya, kami mulai berlatih gerak tubuh, vokal, dan emosi, dilanjutkan dengan latihan peran serta penempatan para pemain di atas panggung. Selain dipandu langsung oleh sutradara, latihan ini juga didampingi para senior, kecuali Maius. Saya berasumsi perempuan bermata sayu tajam itu tidak akan hadir, mengingat hari itu adalah agenda pembimbingan skripsinya. Namun saat saya kembali menegakkan kepala dan berhenti menduga, faktanya ia sudah berdiri di antara para senior lainnya yang tengah memantau latihan. Tidak dapat disangkal, kehadirannya benar-benar menghancurkan semua kecemasan saya. Dalam momen ini, sumber bahagia seperti baru saja ditemukan, berdiri tegak menjadi kompas bagi jiwa penuh tanya yang tidak selesai.
“Kalau hatimu tenang, itu bukan rasa yang biasa, Bung.” ucap teman karib yang kedapatan saya memperhatikan Maius.
“Masalahnya, saya terbiasa hidup dalam langkah-langkah kecil sehingga belum pernah menyukai seseorang secara terang-terangan. Lagi pula, saya juga perlu memahami apakah ini betul-betul suara kebenaran dari hati yang terbuka atau hanya bisikan sunyi yang menggema ke permukaan.” ucap saya lirih dalam hati seraya memetik senar gitar, tanpa berniat memainkannya.
“Jangan lupa, Kak Maia hampir menyelesaikan perjalanan favoritnya di kampus ini, Bung. Kalau perlu bantuan segera, saya bersedia mewakili lebih dari yang pernah Bung akui.” ucapnya lagi lebih lirih karena menyadari keberadaan senior yang bertugas mendampingi kami tim ilustrator.
“Saya memiliki sesuatu untuk Kak Maia, tetapi saya khawatir akan membuatnya kurang nyaman, yang berujung pada penolakan.” balas saya dengan nada rendah yang sama persis. Sialnya, tanpa basa-basi terlebih dahulu, teman karib saya mengambil bingkisan itu dalam tas punggung milik saya, lalu memberikannya kepada Maius. Sesungguhnya bukan bingkisan itu yang membuat saya tidak percaya diri, melainkan surat yang sengaja saya tulis untuknya, berbunyi seperti ini:
“Saya memang suka buku, tetapi ternyata saya lebih suka buku ini di tanganmu.
Bersama buku ini, cintaku akan menemuimu di mana pun kamu berada.
Jangan lupa berterima kasih kepada Tuhan untuk pintu-pintu yang telah terbuka.
Selamat terus menyala hati dan perjalanannya.”
Saya sangat menyadari, bingkisan itu tidak mengubah jarak antara suka-duka yang berdekatan. Mungkin lebih sederhananya, bingkisan itu untuk mewakili segala hal yang telah menyentuh hati saya hingga tergerak menuju kebenaran. Kebenaran yang seringkali sunyi, tidak berteriak, tidak memaksa dan tidak memohon untuk dipercayai di tengah ketakutan massal. Sebab, rasa yang sejati akan tetap tumbuh di ruang paling dalam sekalipun, tanpa suara dan tanpa tekanan. Meski sesekali, perasaan itu perlu melewati bebatuan keras hingga dilunakkan oleh perjalanan.
“Jangan jatuh cinta padaku karena cintaku tidak pernah setengah-setengah. Ia tumbuh bersama kenangan di setiap ruangan ini. Kalau kamu bahagia, aku akan terasa seperti rumah yang tidak ingin kau tinggalkan. Kalau kamu kecewa, segalanya akan terasa asing dan pergi begitu saja. Selama ini, tidak pernah ada yang biasa di sini, selalu ada cerita yang tinggal setelahnya. Jadi ke depannya, kamu perlu berhati-hati karena di sini tidak pernah main-main soal rasa.” tulis Maius dalam suratnya yang diserahkan melalui teman karib saya.
“Baiklah, penundaan tidak berarti penyangkalan dan ‘belum’ bukan berarti tidak akan pernah.” ucap saya dalam hati seraya berterima kasih kepada teman karib saya atas bantuannya.
***
BIODATA PENULIS
Rofiatul Adawiyah. Seorang anak perempuan yang terlahir dari kecil di Situbondo, Agustus 1998. Facebook: Rftl Adwyh, Instagram: @rftladwyh18
Editor : rekian