Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Alat Pengukur Kebahagiaan

Redaksi Radar Kediri • Minggu, 18 Mei 2025 | 18:43 WIB
ILUSTRASI: Alat Ukur
ILUSTRASI: Alat Ukur

JP Radar Kediri- Ketika Rhien mendengar bahwa malam Minggu besok ibunya berkata akan libur berjualan, maka yang terbayang di kepala Rhien adalah piring kotor yang menumpuk di atas wastafel, ia yang akan siap menyapu dan membersihkan halaman, juga dengan kain lap di tangan yang akan mengeringkan piring-piring. Padahal, justru di malam Minggu jualannya lebih ramai. 

Rhien tak ingin menghela napas. Ia sudah biasa merasakan walau sejujurnya sedikit tak terima. Om Nanda, adik ibu di Jakarta akan pulang kampung, membawa keluarga besarnya bersama istri dan anaknya. Rencana Om Nanda sekalian menengok ibunya di rumah Bibi Rara, adik ibu yang rumahnya maha luas. Dengan taman-taman bunga lili dan mawar berderet sepanjang masuk dari pintu gerbang. Di sebelah rumah bertingkat itu ada kolam renang yang saat Rhien ke sana, seolah langit di atasnya tenggelam di dasarnya saking bening airnya.

Sebenarnya bagi Rhien, datang ke acara keluarga tentu bukan masalah besar. Hanya saja, Rhien kadang iri. Ponsel sepupunya dengan kamera boba dan tepi yang mengilat. Rhien hanya punya ponsel yang kover belakangnya dipasang karet. Sering lepas sendiri. Ia malu harus meminta ibunya di saat biaya sekolah SMK-nya saat ini juga tak sedikit. Kadang, Rhien berpikir seandainya bapak masih ada, tentu ia tak akan serepot ini. 

Rhien mengaduk adonan tepung dengan lesu. Memasukkan beberapa iris tempe ke dalamnya. Ibunya di sebelah gesit menggoreng. Beberapa lagi sudah ditiriskan tepat ketika seorang pembeli datang lalu bilang beli 20 ribu. Campur. Molen, tempe, bakwan, tahu isi. Lima-lima katanya. Ibu Rhien dengan gesit memasukkan pesanan pembeli ke dalam kantong plastik, ketika bunyi desis api kompor masih terdengar di sebelahnya. Lalu, ucapan terima kasih yang begitu tulus keluar dari bibir ibu Rhien.

“Kenapa Rhien? Kalau capek istirahat dulu. Duduk. Biar ibu yang buat adonan.”

“Bagaimana kalau kita tak datang saja Bu. Toh dagangan kita justru ramai di malam Minggu.”

“Mereka semua saudara ibu. Ibu juga ‘kan ikut arisan. Kamu memang malu atau gimana? Ibu sudah belikan baju baru buatmu di acara besok loh. Masa enggak mau ketemu Om Nanda sama Bibi Rara. Mereka semua adik ibu, Rhien. Keluarga kita. Dulu, waktu bapakmu meninggal, mereka berdua pula yang meminjami uang ibu. Untukmu sekolah juga membuka usaha gorengan ini agar mandiri. Sampai sekarang pun, mereka berdua tak pernah meminta batas waktu kapan ibu bisa mengembalikan utang itu. Sudah seharusnya sebagai saudara yang paling tua, ibu akan pasang badan, mengerahkan raga ibu untuk membantu acara mereka semua besok.” 

Rhien enggan menjawab. Tak masalah dengan baju. Rhien hanya merasa jika ibunya bukan pembantunya. Ketika acara besok selesai, yang terbayang di pikiran Rhien setelahnya adalah cucian kotor yang menumpuk di sebelah mesin cuci. Tumpukan piring kotor milik saudara-saudaranya dengan bekas masakan rendang berminyak pekat atau aroma wangi kopi dan teh dari gelas kotornya. Juga dengan lantai yang berserak nasi dan remah-remah camilan yang berhamburan. Bibi dan Om-nya kebetulan punya anak-anak balita semua. Bibi Rara anaknya tiga, Om Nanda punya dua anak kembar laki-laki.

Ibu Rhien duduk ketika pembeli kebetulan sepi. Mereka berdua memandang lalu-lalang jalan di depan lewat kaca etalase yang sedikit buram dan gorengan yang berjajar rapi sesuai jenisnya. Ibu Rhien memijit pundak Rhien di sebelahnya dengan lembut. Ia seolah tahu apa yang ada dalam kepala anaknya.

“Rhien, jika kamu lulus nanti, ibu pengen jadilah orang yang dermawan. Mau membantu siapa saja yang kerepotan. Kamu tahu, berbuat baik serupa menanam benih pohon di halaman. Ia akan tumbuh besar dan jika berbuah, tidak hanya kamu saja yang bisa menikmati buah dari pohon itu. Mungkin tetanggamu, mungkin anak-anakmu nanti. Jadi, segala hal yang kamu lakukan dengan ikhlas, suatu saat pasti ada balasan terbaik untukmu.”

Lagi-lagi Rhien tak menjawab. Ia sudah paham jika itu adalah bujuk rayu ibu agar besok ia siap membantu ibunya_walau sebenarnya tak memaksanya_untuk saling membantu, menyapu lantai rumah Bibi Rara yang luas, mencuci piring kotor, atau menyapu halaman depan yang dijatuhi dedaunan angsana dan mangga. Rhien sudah terbiasa melakukan itu selama dia masih kelas 1 SMP hingga ia dewasa seperti sekarang. Namun, besok Rhien seolah menolak. Kenapa keluarga yang lain tak ikut serta dan hanya membantu ala kadarnya.

Jika Rhien dan ibunya sedang beres-beres semua sisa acara itu, Om Nanda selalu menelepon ke sana kemari seolah di ponselnya ada ratusan orang yang mengantre untuk berbicara dengannya. Dua anak kembarnya dengan istrinya di kamar. Bibi Rara kadang ikut membantu, tetapi lagi-lagi ala kadarnya. Ia lebih senang melayani suaminya yang rebahan di ruang tamu sambil ketik-ketik di laptop yang entah menulis apa. Kadang juga sambil telepon lama. Rhien pernah mencuri lihat layar laptop-nya ketika ia sedang menyapu, meihat gambar garis aneh yang naik turun dengan angka-angka berubah-ubah setiap saat. Namun, Rhien tak mau dan tak ingin tahu lebih lanjut.

Sebenarnya, ada juga anak Bibi Rara yang hampir seumuran Rhien. Namun, malasnya minta ampun. Jika ia sedang beres-beres, ia malah rebahan, melihat ponsel di kamar sambil mendengungkan nada-nada tak jelas keluar dari bibirnya. Sebenarnya suaranya tak bagus-bagus amat. Rhien malah kadang mendengar suaranya mirip kucing yang marah, tetapi Rhien lagi-lagi masa bodoh dengan itu semua. Rhien hanya mengharapkan jika salah satu dari mereka mau tahu dengan kerepotan ibunya. Itu saja.

Hari ini, entah dari mana mulanya, Rhien seolah ingin mengutarakan penolakan itu. Toh, Bibi Rara ‘kan punya pembantu. Kenapa kalau pas acara pembantunya malah diliburkan dan harus ibu yang mengurus semuanya. Ibu Rhien pernah bilang jika itu acara keluarga. Jadi terkadang pembicaraan mereka semua rahasia. Ada kalanya, semua tentang keluarga tak boleh sampai keluar. Salah-salah bisa fitnah jika tak tahu sebenarnya. Ibu dan adik-adiknya sepakat melakukan itu. Namun, Rhien seolah tetap tak terima.

“Jadi mau Rhien bagaimana?”

“Rhien mau jualan sendiri. Ibu saja yang berangkat.”

“Nanti kalau dikasih uang jajan dari Om Nanda, uangnya buat ibu ya?”

Ibu Rhien tersenyum meledek. 

“Kenapa kita enggak kaya seperti mereka ya Bu?”

Ibu Rhien menghela napas. Pandangannya jatuh di depan dua gorengan molen dan lima tempe yang saling berpelukan dalam diam. Mereka seolah tak mau ikut menjawab. Menyerahkan semuanya keluar sendiri dari bibir ibu Rhien. Mereka bertujuh adalah gorengan terakhir yang menunggu masuk kantong dibawa pembeli. Jalanan di depan mulai lengang. Beberapa ruko di seberang jalan mulai menutup pintu. Truk besar tetiba lewat dengan klakson panjang karena ada pengendara yang melintang menyeberang sembarangan. Ibu Rhien masih menghela napas panjang kedua kalinya. Memijit-mijit pundak Rhien dengan kaus putih yang mulai lusuh. Angin dingin merayap perlahan menyapu kaki-kaki gerobak etalase gorengan membawa terbang sampah plastik.

“Menurut Rhien, orang kaya itu yang seperti apa?”

“Tentu saja punya mobil bagus, rumah bertingkat, baju-baju baru setiap hari. Juga dengan makanan enak yang dihidangkan setiap saat sama pembantu. Oh, ya. Ponsel bagus dengan kuota tak habis-habis juga termasuk.”

Ibu Rhien tersenyum. 

“Nanti kalau Rhien sudah bisa kerja dan cari uang sendiri, Rhien juga mau rumah seperti Bibi Rara. Punya mobil mengilat yang ada gordennya seperti milik Om Nanda Bu. Dan semuanya buat Ibu.”

Tak ada jawab. Yang Rhien lihat selanjutnya, ibunya menyeka sudut matanya dengan tangan. Mata yang tadinya sayu, kini membulat bening serupa biji kelereng. Lalu dari sana meluncur bulatan basah ke pipi. Rhien sigap mengelap air itu dengan punggung tangannya. Meminta maaf karena membuatnya menangis. Ibunya menggeleng tersenyum. Malu dilihat banyak orang di pinggir jalan. Ia menahan tangisnya.

“Anak ibu sudah besar ternyata.”

Hanya itu yang Rhien dengar dari bibir ibunya ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Gegas Rhien mengangkat dan terdengar suara dari kejauhan sana. Suami Bibi Rara bilang sepertinya acara malam Minggu besok ditunda. Ia harus operasi batu ginjal dan cuci darah berulang di Singapura. Tak tahu kapan kembali. Suami Bibi Rara tak pernah mau cerita sebelumnya. Takut ibu terus memikirkannya. Rhien menutup telepon ketika pembeli gorengan telah pergi dan ibu selesai melayani.

“Siapa Rhien?”

Rhien seolah enggan menjawab jika tak dipaksa. Hingga ia bicara apa yang ia dengar barusan. Ibu Rhien gegas membereskan peralatan masak dan panci-panci kotor bekas tepung. Mematikan lampu etalase ketika gorengan telah habis. Pikiran ibu ke mana-mana. Pantas saja sebulan ini, ibu Rhien melihat seolah kulit adiknya makin menghitam. Terjawab sudah pertanyaannya di kepala.

Tak ada semenit, ponsel Rhien berdering kembali. Dari Om Nanda di Jakarta. Istri Om Nanda menangis dalam suara serak dan patah-patah. Ibu Rhien yang tahu segera merebut ponsel Rhien, menjawabnya dalam gemetar. Jarang istri Nanda telepon malam-malam. Kabar dari Jakarta, Om Nanda ditangkap polisi karena sindikat judi daring. Mereka meminta maaf tak akan bisa menghadiri acara keluarga malam Minggu besok. Sambungan langsung ditutup setelahnya. Ibu Rhien langsung terduduk lemas. Mengembalikan ponsel milik Rhien ke tangannya. 

Dua kabar membuat ibu Rhien tak kuasa menahan air mata. Di saat itulah, Rhien gesit segera merapikan semuanya. Membereskan panci, ember, sisa-sia minyak dan lainnya. Rhien tak ingin ibunya yang sedang dirundung duka merasa lelah pikir dan raganya.

“Rhien, sekarang kamu tahu bukan arti kebahagiaan sebenarnya? Ibumu yang sehat ini juga kebahagiaan. Uang di laci yang terkumpul juga kebahagiaan, walau tak bisa membeli mobil bergorden seperti keinginanmu.”

Rhien terdiam sejenak saat memegang wajan yang kotor di samping. Lalu sebuah suara di hatinya seolah mendukung perkataan ibunya: Betapa kebahagiaan tak pernah bisa diukur sama satu dengan lainnya. Kebahagiaan barangkali hanya ada di hati orang-orang yang selalu bersyukur dengan segala pemberian Tuhan.

Kali ini Rhien ikut menangis ketika langit tiba-tiba menumpahkan gerimis. (Penulis Dody Widianto)

------------------------------------------------------------------------

Dody Widianto lahir di Surabaya. Bisa ditemui di akun IG: @pa_lurah untuk kenal lebih dekat. Email : oddie.os88@gmail.com

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.


Editor : rekian
#gorengan #alat ukur #jakarta #cerpen #Wastafel