Silakan kau datang kapan saja. Sore nanti atau esok pagi, tak akan ada bedanya. Aku tak akan pernah siap. Aku mencintai kehidupan. Aku ingin hidup selamanya. Tua dan tak berdaya? Aku tak kuatir. Aku punya cara melawannya.
Aku cukup kaya untuk mengongkosi cara itu. Langit tentu sudah memberitahumu betapa sains dan teknologi ada dalam genggamanku. Manipulasi genetika dan utak-atik sel-sel punca adalah keahlianku.
Sendiri dan kesepian? Omong kosong. Kesendirian dan kesepian hanya milik orang-orang yang tak paham seni kehidupan.
Telah kukuasai sains untuk hidup selamanya. Tetapi, aku tahu, cara mainmu tidak sederhana. Kau punya biliunan jalan untuk menjemputku.
Sebagian besar dari jalan itu punya probabilitas yang sangat kecil, lebih kecil dari sepertriliun persen. Tetapi, semua yang sangat kecil itu bisa dengan seketika menjadi seratus persen.
Banyak orang kaya dan penguasa yang membayarku sangat mahal untuk mengembalikan mereka menjadi muda, sembuh dari kanker, penyakit jantung, gagal ginjal atau yang lain, kembali memiliki ingatan yang tajam setelah beberapa waktu mengalami dimensia, dan banyak lagi.
Toh, satu per satu mereka mati juga. Sebagian bahkan melalui cara yang menggelitik akal: terlalu kencang tertawa atau tersedak ludahnya sendiri. Jadi, silakan kau datang. Kau tak terelakkan.
Aku ingin ngobrol sedikit tentang dosa. Aku percaya bahwa pengadilan selepas kematian itu ada. Keyakinan itu membuatku dianggap terbelakang dan sedikit puritan. Tetapi, tak banyak yang berani mengungkapkannya secara terang-terangan.
Seperti kubilang tadi, di dunia sains dan teknologi aku adalah raja. Adiraja, bahkan. Ada banyak mitos tentang diriku. Banyak yang percaya bahwa aku dapat mengirimkan virus misterius kepada seseorang, yang kemudian membunuhnya, melalui media apa saja. Virus itu hanya bekerja spesifik kepada orang yang dituju.
Mirip dengan teluh atau tenung di masa lalu. Banyak yang percaya bahwa selain dapat menyembuhkan dimensia, aku dapat membuat orang normal menjadi pikun bahkan gila. Mereka menebar gosip bahwa seorang ilmuwan yang tiba-tiba gila sebagai ulahku.
Ya, kurasa aku bisa semua yang mereka duga itu. Secara teoretis memang bisa. Hanya, aku tak pernah memikirkannya.
Bukan itu yang kumaksud sebagai dosa. Kau pasti punya akses terhadap daftar panjang dosa-dosaku. Kau pasti tahu perkara apa yang menjadi dosa terbesarku yang kelak membuatku terpanggang di neraka.
Bagiku, kurasa, dosa terbesarku ada pada kesehatan, kesembuhan, atau keawetmudaan para hartawan dan penguasa itu. Aku menjadikan para hartawan itu kuat kembali untuk tamak lebih lama, bahkan semakin tamak mengeruk kekayaan alam.
Aku menjadikan para penguasa itu berkuasa lebih lama, lalu menindas lebih lama. Tetapi, bukankah aku dapat berbuat sesuatu untuk menghentikan, menghukum atau memberi mereka pelajaran? Tentu saja. Hanya, kau tahu, aku mencintai kehidupan. Aku tak suka kematian. Kematian siapa pun.
Aku membangun, tidak menghancurkan. Aku menyembuhkan, bukan mencelakakan. Lagi, urusan kematian adalah urusanmu. Kau tak perlu bantuanku. Kau bekerja sesuai jadwal.
Kalau kau sebal lantaran jadwal para culas itu tak kunjung tiba, mungkin kau bisa meminta dispensasi untuk lebih cepat mendatangi mereka. Mungkin, aku tak tahu. Aku tak tahu percakapan langit.
Nanti dulu. Aku telah berdusta kepadamu. Aku pernah secara tak langsung membunuh seorang raja. Aku sungguh kesal kepadanya, sebab ia telah mengeksekusi mati sepuluh orang demonstran yang menuntut keadilan atas tanah rakyat jelata yang diambil paksa oleh kerajaan. Begini ceritanya.
Raja itu mengidap penyakit genetik yang langka yang membuatnya kemungkinan besar mati dalam beberapa bulan. Beberapa orang utusan datang menjemputku untuk menghadapnya di suatu hari, sekitar dua minggu setelah ia mengeksekusi para demonstran.
Aku belum pernah menyembuhkan penyakit itu, namunitu bukanlah perkara yang sulit. Penelitianku atas penyakit itu sudah lama selesai. Hanya, kemarahanku kepada sang raja membuatku enggan menyembuhkannya.
Apa akal? Tak mungkin bagiku untuk terang-terangan menolak. Aku harus rapi bersiasat di hadapannya.
Kukatakan kepada sang raja bahwa penelitianku tentang penyembuhan penyakit itu masih belum selesai. Tinggal sedikit lagi. Paling lambat dalam dua tahun aku sudah dapat menyembuhkannya. Sang raja tampak putus asa, lalu murka.
Diperintahkannya para pengawal untuk memenggal leherku hari itu juga. Respons sang raja sudah dapat kuduga. Orang semacam dia tak bisa menerima kata tidak. Segera kuangkat tanganku meminta bicara. Kukatakan kepadanya, bahwa matipun aku tak peduli.
Keberanianku tampak membuatnya sedikit gentar. Kubilang padanya, ada satu jalan keluar. Teknik kriogenik. Kusarankan kepadanya untuk dibekukan pada suhu yang sangat rendah sehingga seluruh sel tubuhnya tidak aktif tetapi tidak pula mati.
Paling lambat dua tahun lagi, sel-sel tubuhnya akan diaktifkan dan ia akan ‘hidup’ kembali untuk menjalani proses penyembuhan dariku. Sang raja berpikir keras, sementara aku harap-harap cemas.
Lalu dimasukkannya aku ke penjara. Ia perlu waktu lebih lama untuk mempertimbangkan pilihan itu. Mungkin ia merasa perlu meminta pandangan beberapa orang kepercayaan. Tetapi aku sangsi, ia punya orang kepercayaan.
Setelah beberapa hari di penjara aku kembali dihadapkan kepadanya. Ia setuju untuk dibekukan sementara waktu. Aku lega. Bagaimanapun kesalku kepadanya, aku masih mengharapkan yang baik-baik untuknya.
Siapa tahu dua tahun dalam keadaan dorman ia lalu berubah menjadi raja yang adil dan bijaksana. Kau ingat, kan? Aku membangun, tidak menghancurkan.
Kepada sang raja kosodorkan tiga nama negara yang menyediakan jasa kriogenik. Ia memilih negara yang dianggapnya paling aman. Tetapi siapa sangka negara damai itu justru terlibat perang dengan negara tetangganya.
Fasilitas kriogenik itu dihantam bom. Habislah cerita sang raja. Ada memang kudengar selentingan, bahwa perang itu adalah buah konspirasi yang melibatkan putera mahkota. Aku tak ambil pusing.
Yang penting dari peristiwa itu bagiku ialah kau, maut, memang tak terelakkan. Satu per triliun persen kemungkinan dapat menjadi seratus persen dalam seketika.
Kembali ke dosa yang menurutku sebagai dosa terbesarku. Ada yang bilang, bahwa dosa itu adalah semua yang membuat nurani tak nyaman. Sungguh, ketaknyamanan terbesarku ada pada kelakuan para hartawan dan penguasa itu.
Mereka menciptakan kontradiksi yang membuat jiwaku lelah dan terluka. Aku yang mencintai kehidupan dan membenci kehancuran justru telah memberi daya kepada para hartawan dan penguasa itu untuk membunuh dan merusak kehidupan banyak orang.
Tak dapat kuhitung berapa banyak orang yang merana akibat dirampas hak-haknya, berapa banyak yang mati bunuh diri lantaran putus asa. Satu lagi, ini belum kusinggung sebelumnya, para pesohor dan artis yang kubuat bugar dan awet muda.
Mereka menipu para pengagum dan pengikut mereka dengan produk kecantikan dan perawatan yang bual belaka melalui berbagai kanal media sosial. Muak aku melihat mereka memamerkan tubuh dan wajah disertai senyum dan janji-janji palsu.
Kau tentu mudah menyerangku dengan, “mengapa kau berikan jasamu kepada mereka?” Tetapi aku tahu kau bijaksana. Tak akan keluar pertanyaan sepolos itu darimu. Kau paham, setiap orang mencari peran di dalam kehidupan.
Peranku ialah menyembuhkan dan mengembalikan. Kalau kutinggalkan peran itu, aku akan lebih rendah ketimbang sampah. Lagi pula, aku masih memerlukan banyak uang untuk melanjutkan risetku terkait penyembuhan dan pemulihan.
Meskipun aku raja sekarang, masih banyak ruang sains dan teknologi yang masih gelap. Para licik itu adalah sumber uang yang sangat mudah.
Ya, aku membenci proposal-proposal. Tak satu pun penelitianku didanai dari hasil meminta-minta. Aku mandiri. Berpuluh tahun sudah aku bekerja dalam sepi. Kau tahu, setiap yang bekerja dalam sepi akan dicurigai dan cenderung dimusuhi.
Tetapi aku tak peduli. Toh pada akhirnya yang bicara lantang adalah bukti. Aku mulai mengguncang dunia ketika membuktikan kulit bekas koreng dapat kembali mulus sebagaimana sebelum terluka. Setapak demi setapak kemudian aku merangkak menjadi raja.
Tentangan keras datang dari sebagian agamawan. Tidaklah pantas bagi seorang manusia bermain-main di wilayah Tuhan, ucap mereka. Yang layu biarlah layu, jangan disegarkan kembali. Yang menguning biarkan kuning, tak perlu dihijaukan.
Tetapi mereka bungkam ketika kutanyakan, “apakah ginjal yang telah gagal biarlah tetap gagal, jangan lagi dipulihkan?” Lagi pula, jauh di dasar hati mereka pasti mengakui bahwa apa yang telah kulakukan sangatlah rendah lagi hina untuk dianggap sebagai telah memasuki wilayah Tuhan.
Ia adalah Zat yang tiada tara. Ia tak terjangkau. Membandingkan kekuasaannya dengan apa pun juga adalah pekerjaan dungu.
Ah, aku jadi bicara ke mana-mana. Padahal, intinya sederhana saja. Aku mengundangmu untuk datang kapan saja, walau aku tak akan pernah siap. Satu saja permintaanku kepadamu.
Datanglah kurang lebih satu jam lebih awal. Temani aku menikmati secangkir kopi terakhirku, sembari kita ngobrol sebentar. Sedari mula kepadamu aku telah berdusta. Aku sama sekali tak menguasai seni kehidupan. Sudah lama aku sendiri dan kesepian. Aku hanya terlalu congkak untuk mengakuinya.
Aku adalah raja sains dan teknologi yang dikagumi, dicemburui sekaligus ditakuti dan dibenci. Pestaku selalu ramai memang, tetapi aku tak punya teman. Tak ada yang tinggal selepas pesta usai untuk sekadar ngobrol atau bermain catur.
Orang-orang hanya mendengarkanku sebatas untuk kepentingan mereka. Seminar atau kelasku selalu ramai. Orang-orang akan terus bertahan sepanjang aku bicara tentang hidup sehat atau kulit yang belia. Sisanya, sepi.
Ya, aku cuma sebuah instrumen dan tak pernah menjadi manusia bagi mereka.
Datanglah satu jam lebih cepat. Kuhabiskan kopi terakhirku dan kita ngobrol sebentar. Paling tidak, sebentar saja, di ujung waktu aku merasakan hangatnya menjadi seorang manusia.
—-----------------------------
Abdullah Muzi Marpaung
Vila Pamulang Blok UB-23, Jalan Ganesha 1, Pamulang, Tangerang Selatan
No HP: 08111876800
Riwayat hidup singkat
Abdullah Muzi Marpaung lahir dan besar di Pulau Bintan pada tahun 1967. Kini ia adalah seorang dosen Teknologi Pangan di Swiss German University. Ia telah menyukai sastra dan mulai mneulis puisi sejak remaja. Sejak 2015 ia mulai aktif menulis cerita pendek. Ia sudah menghasilkan satu buku kumpulan cerita pendek berjudul “Lelaki yang Tak Pernah Bertemu Hujan” dan satu buku kumpulan puisi berjudul “Catatan Hari Kemarin". Saat ini ia sedang mempersiapkan buku kumpulan cerpen keduanya, “Ruas Jalan yang Selalu Kusapu Untukmu.”