Berani Berbuat Tak Berani Bertanggung Jawab

Hilda Nurmala Risani • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 10:15 WIB

 

Ilustrasi bayi yang dibuang.
Ilustrasi bayi yang dibuang.

KEDIRI, JP Radar Kediri - Munculnya beberapa kasus pembuangan bayi di wilayah Kabupaten Kediri akhir-akhir ini menjadi viral dan memicu beragam reaksi dari masyarakat. Dalam sepekan terakhir, sudah ada dua kasus pembuangan bayi.

Kasus pertama terjadi di Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu pada Minggu (4/19). Sementara kasus kedua terjadi di Desa Gedangsewu, Kecamatan Pare pada Senin (5/10).

Baca Juga: Kasus Pembuangan Bayi di Pare: Intensifkan Penyelidikan, Periksa Pasangan Muda-Mudi

Belakangan ini jagat maya dibuat heboh. Dalam kurun waktu tak ada satu minggu terdapat dua kasus pembuangan bayi yang cukup menggemparkan. Bagaimana tidak, mereka dilahirkan karena tak diinginkan. Ada yang korban aborsi hingga kekerasan.

Misalnya pada kasus pembuangan bayi di Desa Gedangsewu, Kecamatan Pare. TW (23) dan DA (22) yang merupakan pasangan kekasih harus ditetapkan sebagai tersangka. Itu karena terbukti melakukan kekerasan dengan membekap mulut bayi hingga meninggal dunia. Kemudian menguburkan di pekarangan rumah laki-laki.

Baca Juga: Dinsos Jatim Rawat Bayi Telantar di Ngasem, Polisi Intensifkan Penyelidikan, Buru Pelaku Pembuangan

Berbeda dengan kasus di atas, penemuan bayi di Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu membuat AW (20) dan RGP (20) harus mendekam dibalik jeruji besi. Pasalnya, AW diketahui menggunakan obat untuk menggugurkan kandungan. Sebelum akhirnya membuang bayinya di tepi jalan.

Fenomena pembuangan bayi yang terus terjadi ini mencerminkan adanya persoalan sosial yang kompleks. Berbagai faktor dapat menjadi penyebab utama. Misalnya dari tekanan ekonomi, stigma sosial, hingga ketidaktahuan tentang kesehatan reproduksi. 

Baca Juga: Polisi Kesulitan Memburu Pelaku Pembuangan Bayi di Badas Kediri

Pertama, kondisi ekonomi yang sulit. Banyak ibu muda, terutama mereka yang berasal dari keluarga miskin atau hidup dalam keterbatasan finansial, merasa tidak mampu membesarkan anak yang baru lahir.

Masalah biaya persalinan, perawatan bayi, hingga kebutuhan sehari-hari menjadi beban yang berat, terutama bagi mereka yang tidak memiliki dukungan keluarga atau pasangan. 

Baca Juga: Pasangan Pembuang Bayi Terancam Menikah di Penjara: Lolos dari Pasal Pembunuhan, ini Penjelasannya

Kedua, tekanan sosial dan stigma masyarakat juga berperan besar dalam kasus pembuangan bayi. Kehamilan di luar nikah masih dianggap sebagai aib di banyak lingkungan, terutama di komunitas yang menjunjung tinggi nilai-nilai konservatif. 

Perempuan yang mengalami kehamilan tidak direncanakan, terutama yang masih remaja atau belum menikah, seringkali menghadapi tekanan berat dari keluarga dan masyarakat.

Baca Juga: Perdarahan, Ibu Pembuang Bayi dan Janin Kediri Dirawat! Ini Kata Polisi Soal Pemeriksaan Kasusnya

Ya, rasa takut terhadap penghakiman sosial serta kekhawatiran akan masa depan membuat mereka putus asa dan memilih untuk menyembunyikan kehamilannya. Yang pada akhirnya dapat berujung pada keputusan ekstrem seperti membuang bayi. 

Ketiga, kurangnya edukasi mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas. Banyak remaja dan perempuan muda yang tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang kontrasepsi, kehamilan, serta tanggung jawab menjadi orang tua. 

Baca Juga: Polres Kediri Bongkar Dua Kasus Libatkan Bayi, dari Kekerasan hingga Aborsi

Keempat, faktor psikologis tidak bisa diabaikan dalam kasus pembuangan bayi. Ketika seorang ibu menghadapi tekanan berat baik dari segi ekonomi, sosial, maupun mental maka mereka bisa mengalami stres yang luar biasa hingga depresi pasca persalinan. 

Dalam kondisi psikologis yang tidak stabil, beberapa ibu mungkin kehilangan kemampuan berpikir jernih. Yang pada ujungnya melakukan tindakan yang tidak sepantasnya.

Baca Juga: Bejat! Bayi Tanpa Dosa di Gedangsewu Pare Kediri Dibekap hingga Meninggal Dunia

Tentu kehamilan yang tidak direncanakan dapat berujung pada persoalan pidana ketika ditempuh dengan cara yang salah. Pencegahan perlu dimulai dari kehati-hatian dalam pergaulan serta keberanian mencari bantuan ketika menghadapi persoalan.

Sudah saatnya pemerintah dan masyarakat bekerja sama untuk mencari solusi yang efektif. Mengatasi masalah ini tidak bisa hanya dengan memberikan hukuman kepada pelaku, tetapi juga dengan menggali akar penyebabnya dan memberikan dukungan yang diperlukan bagi perempuan yang berada dalam situasi sulit.

Baca Juga: Breaking News! Warga Pare Temukan Jasad Bayi saat Hendak Kubur Bangkai Kambing

Dua kasus dalam satu minggu ini menjadi potret buram fenomena "berani berbuat tak berani bertanggung jawab". Ketakutan pada norma sosial dan keluarga justru berujung pada hilangnya nyawa. Sebuah pilihan yang tidak hanya melanggar hukum tetapi juga mengingkari tanggung jawab paling dasar sebagai manusia. 

Editor : Shinta Nurma Ababil
Sumber : Radar Kediri
berani berbuat ogah tanggungjawab kabupaten kediri pembuangan bayi polres kediri kecamatan pare