‘Ruang Aman’ Yang Semakin Kehilangan Kepercayaan

Hilda Nurmala Risani • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 23:00 WIB
Ilustrasi santri dicabuli senironya. (Afrizal Syaiful M/JPRK)
Ilustrasi santri dicabuli senironya. (Afrizal Syaiful M/JPRK)

 

KEDIRI, JP Radar Kediri - Kasus sodomi yang terjadi di salah satu pondok pesantren yang ada di Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri membuat banyak orang merasa sedih dan kecewa. Tempat yang seharusnya menjadi ruang belajar agama dan membentuk akhlak baik justru menjadi lokasi yang membuat santri trauma dan ketakutan.

Ya, beberapa hari terakhir ini warga Kediri Raya dihebohkan dengan pemberitaan yang memilukan hati para orang tua khususnya ibu. Bagaimana tidak anak yang dirawat dari kecil hingga remaja dengan hati-hati justru dirusak oleh orang lain di tempat yang dianggap aman.

Yang membuat lebih miris lagi korban merupakan anak tunggal dan yatim. Dia tinggal dengan sang ibu karena ayahnya sudah berpulang sejak dia duduk di bangku kelas 1 SD/MI.

Niat hati ingin memberikan pendidikan terbaik kepada anaknya dengan mengirimkannya ke pondok pesantren. Nahas, bukan pembelajaran baik yang diperoleh. Justru penganiayaan hingga tindakan asusila yang diterima hingga sang anak trauma.

sBaca Juga: Breaking News! Santri di Kediri Diduga Jadi Korban Pencabulan Sesama Jenis oleh Senior

Sebenarnya kasus seperti ini tidak kali pertama terjadi. Di beberapa daerah juga pernah terjadi. Namun pola dan tindakan yang dilakukan oleh pelaku satu dengan yang lainnya hampir sama.

Lalu apa yang melatarbelakangi munculnya tindakan asusila ini? Tentu tidak tahu pasti apa penyebabnya. Apakah karena adanya ketimpangan kekuasaan atau yang lainnnya. Yang jelas perilaku seperti ini dilakukan oleh oknum. Entah karena mereka salah pergaulan atau memang memiliki trauma serupa yang membuatnya ketrigger untuk melakukan kepada orang lain. 

Tentu perbuatan ini tergolong sangat keji dan tidak bisa dibenarkan. Apalagi dilakukan di lingkungan pesantren yang seharusnya menjadi tempat mengajarkan kebaikan. 

Tak heran jika kasus ini membuat masyarakat marah dan meminta keadilan bagi korban. Mengingat yang dialami korban bukan hanya luka fisik, melainkan juga perasaan dan mental.

Baca Juga: Santri Ponpes Mojo Disodomi Dua Seniornya, Ini Kronologinya!

Mereka berharap pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal. Tak peduli anak siapa dan darimana asalnya. Sebab jika tindakan seperti ini tidak diberi efek jera maka jangan heran jika akan terus muncul dan masyarakat semakin tidak percaya dengan lembaga keagamaan tersebut.

Kasus ini juga harus menjadi pelajaran untuk semua pihak. Pengawasan di lingkungan pendidikan, termasuk pesantren harus lebih diperhatikan. Tempat belajar harus menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk anak-anak.

Kedepannya peristiwa serupa tidak boleh terulang. Masing-masing pihak bisa turut serta berkontribusi meminimalkan tindakan serupa. Misalnya untuk para korban, tidak perlu takut melaporkan tindakan pelecehan seksual kepada pihak yang berwenang. Siapapun oknum pelakunya, entah itu guru atau senior, teman sebaya, atau bahkan junior kalian.

Selanjutnya,  para wali santri hendaknya tetap mengontrol anak-anak yang dititipkan ke pondok pesantren. Jangan biarkan mereka lepas dari pantauan orangtuanya dan menganggap pendidikan mereka terjamin hanya karena berada di pondok pesantren. 

Baca Juga: Dua Santri Pelaku Sodomi Jadi Tersangka, Ini Pengakuannya Yang Bikin Tercengang!

Wali santri bisa menghubungi anak via telepon, biasanya pesantren memfasilitasi satu minggu atau dua minggu sekali. Bisa juga dengan rutin menjenguk agar bisa terus berkomunikasi dan memantau perkembangan anak di pesantren. 

Tak kalah penting untuk para pengurus pesantren, hendaknya lebih mengawasi perilaku santriwan dan santriwati yang sudah dititipkan oleh walinya. Sesekali adakan kajian sex education kepada santri sebagai bentuk pencegahan. Karena hal-hal seperti ini dapat terjadi dimana saja. Perlu juga menjadi fasilitator bagi para korban bila dirasa sulit untuk melapor kepada pihak berwajib.

Terakhir, perlu diingat dan diketahui bahwa adanya orang-orang seperti itu di dalam pesantren bukanlah cerminan dari pesantren itu sendiri. Mereka hanyalah oknum yang mencemari nama baik lembaga dan mengotori kesucian ilmu agama demi kepentingan syahwatnya sendiri. 

 

Editor : Andhika Attar Anindita
Sumber : Radar Kediri
sodomi Ponpes Mojo santri polres kediri kota trauma