KEDIRI, JP Radar Kediri - Fenomena sound horeg yang berkembang pesat di Jawa Timur umumnya dan Kediri khususnya menciptakan dualitas yang menarik antara perayaan budaya dan kontroversi sosial. Di satu sisi, sound horeg menjadi simbol identitas dan kebanggaan komunitas terutama di kalangan pemuda. Di sisi lain, dia juga menimbulkan kontroversi. Kaitannya dengan masalah kebisingan, kesehatan, dan ketertiban umum.
Bulan Agustus selalu menjadi momen yang penuh semangat bagi masyarakat Indonesia tak terkecuali warga Kediri Raya. Pada perayaan Hari Kemerdekaan berbagai daerah di seluruh pelosok Nusantara berlomba-lomba untuk mengekspresikan kecintaan mereka terhadap tanah air.
Salah satu bentuk perayaan yang paling meriah dan ditunggu-tunggu adalah karnaval. Ya, karnaval ini bagian integral dari perayaan kemerdekaan. Setiap desa memiliki cara unik untuk menggelar karnaval ini, mulai dari pawai kostum adat hingga parade kendaraan hias.
Baca Juga: Baru Lima yang Kantongi Rekom, Padahal Ada Puluhan Karnaval Sound Horeg, Ini Peringatan Satgas
Tidak hanya menampilkan keindahan dan keunikan budaya, karnaval ini juga menjadi ajang kreativitas masyarakat. Berbagai elemen budaya seperti tarian tradisional, musik daerah, dan seni pertunjukan turut meramaikan acara. Yang dapat menciptakan suasana penuh warna dan keceriaan.
Terlebih beberapa tahun belakangan ini karnaval kemerdekaan semakin meriah dengan hadirnya sound horeg. Sebutan untuk sistem audio berdaya tinggi yang biasa digunakan dalam berbagai acara termasuk konser atau pawai. Suara yang dihasilkan oleh sound horeg ini pun begitu keras dan mendominasi. Tak heran jika sering kali menggelegar hingga radius ratusan meter.
Lambat laun sound horeg menjadi ikon baru dalam perayaan karnaval kemerdekaan. Mereka menggunakan sound horeg untuk memutar lagu-lagu nasional dan musik tradisional dengan volume tinggi.
Baca Juga: Sound Horeg di Kediri Raya Harus Sesuai Aturan, Polisi Peringatkan Hal Ini!
Namun, di balik popularitasnya, sound horeg juga memunculkan perdebatan. Beberapa pihak menganggap bahwa penggunaan sound horeg yang berlebihan bisa mengganggu kenyamanan masyarakat, terutama bagi mereka yang tinggal di sekitar lokasi karnaval.
Ya, dampak sound horeg tidak hanya dirasakan oleh para penikmatnya, tetapi juga oleh masyarakat. Tingkat kebisingan yang ekstrem bisa mencapai 135 desibel, berpotensi menyebabkan kerusakan pendengaran permanen.
Selain itu, juga banyak laporan mengenai kerusakan properti akibat getaran dari suara yang dihasilkan. Seperti kaca pecah dan genteng rontok. Bahkan, mirisnya lagi juga mengakibatkan insiden kekerasan. Seperti kasus di Malang di mana protes terhadap volume suara berujung pada pengeroyokan.
Meski begitu, banyak juga yang menikmati kehadiran sound horeg sebagai bagian dari kemeriahan perayaan, yang dianggap mampu meningkatkan euforia Hari Kemerdekaan.
Namun perlu diketahui, fenomena sound horeg ini bisa dilihat sebagai bentuk ekspresi sosial yang tak terkendali. Dalam masyarakat yang mulai mengalami transformasi budaya, terutama generasi muda yang haus hiburan, sound horeg menjadi semacam panggung bebas. Namun, ketika ekspresi itu mengambil ruang publik secara semena-mena maka akan terjadi benturan nilai yang serius.
Sebagian dari mereka merasa punya hak untuk bersenang-senang, terutama saat momen seperti khitanan atau perayaan lokal. Tapi di sisi lain, masyarakat sekitar juga punya hak untuk merasa aman, damai, dan tenang.
Baca Juga: Polisi Larang Takbir Keliling Gunakan Sound Horeg Lintas Desa di Kediri, Nekat Konvoi Bakal Sanksi
Di sinilah konflik sosial bermula. Sosiolog Emile Durkheim pernah menyampaikan bahwa masyarakat yang sehat adalah yang bisa menciptakan keseimbangan antara individu dan norma kolektif.
Sementara sound horeg ini kerap melanggar norma tersebut dengan menjadi instrumen kebisingan yang mengganggu tatanan sosial. Ketika orang tua harus menenangkan bayi yang menangis karena kaget, siswa gagal belajar karena tak bisa fokus, atau kiai kampung harus mengalah dalam menyampaikan ceramah karena tertutup dentuman bass, maka itu bukan lagi hiburan, melainkan dominasi budaya yang destruktif.
Tentu, dampak psikologis sound horeg tidak bisa dianggap remeh. Dalam psikologi lingkungan, suara bising ekstrem bisa menyebabkan stres kronis, gangguan tidur, peningkatan tekanan darah, bahkan gangguan kecemasan. Anak-anak dan lansia adalah kelompok paling rentan. Saat mereka kehilangan siklus tidur yang sehat, akan berdampak pada tumbuh kembang maupun kondisi medis.
Baca Juga: Pemkab Atur Pengeras Suara Tadarus, Polisi Ancam Sita Mobil Sound Horeg yang Sahur on The Road
Selain itu, muncul pula gejala desensitisasi sosial yakni menurunnya kepekaan terhadap penderitaan orang lain. Ketika remaja dengan santainya menggeber musik keras hingga dini hari tanpa peduli lingkungan, itu menunjukkan penurunan empati kolektif. Rasa tenggang rasa mulai tumpul. Seolah-olah, yang penting saya senang, urusan orang lain itu belakangan.
Padahal dalam psikologi sosial, empati adalah fondasi masyarakat yang damai. Tanpa empati, yang lahir adalah masyarakat egoistik, penuh kekerasan simbolik, dan abai terhadap kesejahteraan mental kolektif.
Pada akhirnya untuk menghadapi kompleksitas fenomena sound horeg, pendekatan yang berkelanjutan dan terstruktur diperlukan. Mulai dari rekomendasi yang mencakup pembuatan peraturan daerah dengan mengatur zonasi dan waktu penyelenggaraan acara hingga sistem perizinan yang ketat untuk operator sound horeg.
Baca Juga: Lampu Laser Sound Horeg Ganggu Penerbangan, Pemkab Kediri Akan Perketat Pengawasan di Area KKOP
Dengan pendekatan yang bijaksana, diharapkan sound horeg dapat terus berkembang sebagai bagian dari budaya lokal tanpa mengabaikan kepentingan kesehatan dan ketertiban umum. (Penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)
Editor : MahfudSumber : Radar Kediri