KEDIRI, JP Radar Kediri - Setiap 26 Juni diperingati sebagai Hari Anti Narkoba Internasional atau HANI. Di Indonesia, momentum ini selalu dibarengi jargon “Menuju Generasi Emas 2045”. Tapi pertanyaannya: emas dari sisi demografi, atau cemas karena data penyalahguna yang belum juga turun signifikan?
Peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) tanggal 26 Juni 2026 ini seharusnya bukan sekadar rutinitas tahunan. Namun sebagai momentum untuk evaluasi.
Sebab data pengungkapan menunjukkan jika jumlah penyalahgunaan narkotika dari tahun ke tahun justru mengalami peningkatan. Yang secara tidak langsung memberi sinyal bahwa semakin banyak orang menyalahgunakannya.
Baca Juga: Polres Kediri Ungkap 46 Kasus Narkoba dalam 2 Bulan, Begini Rinciannya
Seperti misalnya di Kota Kediri, berdasarkan data Satresnarkoba Polres Kediri Kota, barang bukti (BB) yang diamankan meningkat drastis dibandingkan tahun lalu dengan periode yang sama.
Ya, pada kurun waktu 6 bulan terakhir pada tahun 2026 polisi berhasil mengamankan sabu-sabu 336 gram dan pil dobel L 119.741 butir. Pada periode yang sama tahun 2025, BB jauh lebih sedikit. Terdiri dari sabu - sabu 40,24 gram dan pil dobel L 106.585 butir. Dengan mayoritas penyalahguna berada pada usia produktif.
Meski BB yang diamankan meningkat, polisi menyebut jika jumlah tersebut masih belum sepadan dengan yang beredar di luaran. Ya, dia yakin jumlah penyalahguna narkotika dan BB yang belum tertangkap jumlahnya lebih besar.
Baca Juga: Peredaran Narkoba di Kota Kediri Masih Tinggi, Ini Alasannya!
Tentu ini sangat mengkhawatirkan. Narkoba bukan lagi soal geng motor atau klub malam. Sekarang masuk ke kampus, kos sampai platform online.
Tekanan ekonomi, mental health crisis, fearing of missing out (FOMO), dan akses narkotika jenis baru seperti fentanyl dan ganja sintetis membuat sebagian anak muda mencari pelarian instan.
Saat cemas, kosong, atau ingin “kabur sebentar”, narkoba ditawarkan sebagai jalan pintas. Inilah titik di mana “emas” berubah jadi “cemas”.
Baca Juga: Dr Jesicha Yeny Susanty Lakukan Pendekatan Keibuan, Kunci Merehabilitasi Korban Narkotika
Seperti diketahui selama ini kampanye masih didominasi narasi menakut-nakuti, “narkoba merusak”. Faktanya, remaja sekarang kebal slogan. Sekarang yang mereka butuhkan hanyalah ruang aman untuk bicara, layanan konseling yang tidak menghakimi, dan alternatif aktivitas yang bikin hidup terasa punya makna.
Sayangnya saat ini informasi terkait rehabilitasi juga belum merata. Terlebih kapasitas lokasi masih terbatas, belum lagi stigma ke penyintas masih tinggi. Akibatnya banyak yang pilih sembunyi, daripada pulih.
Memang benar, penindakan hukum tetap penting. Tapi kalau hanya fokus menangkap kurir dan pengguna, jaringan besar tetap jalan dengan bebas. Sementara di hulu, literasi digital, pendidikan kesehatan mental, dan pendampingan keluarga masih sangat minim.
Baca Juga: Gagalkan Peredaran 1,2 Kilogram Sabu-Sabu, Satresnarkoba Amankan Narkotika Senilai Rp 900 Juta
Ya, upaya edukasi di hulu akan menemui jalan buntu apabila di hilir, pihak-pihak yang membantu mengungkap kebenaran di lapangan masih dilingkupi rasa takut. Jaringan peredaran narkoba sering kali menggunakan intimidasi dan ancaman kekerasan untuk membungkam kebenaran hukum. Namun bagaimanapun pemberantasan ini harus dilakukan secara totalitas tanpa pandang bulu.
Jangan sampai pencegahan hanya ada pada upacara bendera tiap 26 Juni. Karena melindungi anak-anak dari jeratan narkoba adalah bentuk diplomasi kemanusiaan yang paling mendasar demi menjaga kedaulatan negara.
Narkoba adalah tantangan nyata hari ini yang menuntut ketuntasan bersama. Sebutan generasi emas hanya akan jadi slogan jika tak menjadi atensi seluruh pihak. Mari pastikan langkah kolaboratif seluruh stakeholder untuk memberantas narkoba terus berjalan. Demi menjaga agar lentera generasi penerus bangsa tetap bersinar terang di dalam koridor hukum dan nilai-nilai luhur kemanusiaan.
Baca Juga: Begini Cara Eklesia Kediri Foundation Peringati Hari Anti Narkotika Internasional 2025
Indonesia Emas 2045 hanya akan menjadi sebuah keniscayaan apabila generasi yang menerima estafet kepemimpinan bangsa ini tumbuh dengan tubuh yang sehat, pikiran yang jernih, serta jiwa yang teguh.
Editor : Andhika Attar Anindita