“Beberapa minggu terakhir di wilayah Kediri Raya dihebohkan dengan aksi bunuh diri yang dilakukan oleh pelajar hingga orang dewasa. Penyebabnya pun beragam, namun satu yang menjadi poin penting dan masih sering dikesampingkan. Yaitu kepedulian lingkungan sekitar terhadap kondisi korban sebelumnya.”
KEDIRI, JP Radar Kediri - Di balik gemerlap pertumbuhan teknologi dan geliat media sosial ada realitas yang patut menjadi atensi semua pihak. Yaitu fenomena bunuh diri yang terjadi dalam kurun waktu beberapa Minggu terakhir di wilayah Kediri Raya.
Ini menunjukkan bahwa kesadaran akan kesehatan mental setiap individu masih kurang. Juga kepedulian lingkungan sekitar terhadap orang terdekatnya yang masih menjadi tanda tanya.
Mengapa bisa dikatakan begitu? Karena pada dasarnya peristiwa bunuh diri yang dilakukan oleh seseorang sudah melalui proses yang panjang. Ada gejala penyakit kejiwaan yang mungkin telah dialami sejak lama namun tidak dirasakan atau dianggap angin lalu.
Baca Juga: Ketika Kritik Bukan Dibalas Argumen Melainkan Ancaman
Padahal kesehatan mental ini bukanlah penyakit sederhana. Perlu treatment khusus dalam penyembuhannya. Bahkan, juga melibatkan beberapa pihak terkait untuk mengatasinya.
Untuk diketahui, penyakit yang berhubungan dengan kondisi kejiwaan memiliki faktor penyebab yang beragam. Mulai dari permasalahan keluarga, ketidakstabilan finansial, utang menumpuk, kehilangan pekerjaan hingga tekanan untuk memenuhi ekspektasi sosial.
Tak heran jika korbannya tak melulu orang dewasa. Anak usia belasan tahun yang masih duduk dibangku pendidikan pun turut mengakhiri hidupnya dengan cara tragis. Sungguh ironis bukan. Ini menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi setiap orang bukanlah hal sepele.
Ya, seringkali bunuh diri dilakukan seseorang ketika sudah merasa putus asa. Sehingga dia merasa semua masalah dapat diselesikan dengan bunuh diri.
Baca Juga: Cuaca Ekstrem di Kediri Jadi Ancaman Masyarakat
Tentu kasus seperti ini seharusnya menjadi alarm keras bagi pemerintah dan masyarakat luas. Program bantuan sosial, edukasi keuangan, dan akses ke layanan kesehatan mental harus diperkuat dan dipermudah.
Di sisi lain, lingkungan sosial termasuk keluarga dan komunitas harus menjadi tempat aman untuk bicara, bukan ruang yang menghakimi.
Penting juga membangun narasi bahwa meminta bantuan bukan tanda kelemahan, tetapi bentuk keberanian. Penting juga dipahami nilai hidup seseorang tidak ditentukan oleh jumlah hartanya, melainkan oleh keberadaannya yang bermakna bagi orang lain.
Bunuh diri bukan solusi. Meskipun hidup terasa berat pasti selalu ada jalan keluar. Banyak organisasi sosial, komunitas, dan konselor yang siap mendengarkan tanpa menghakimi. Oleh karenanya hanya perlu satu langkah kecil yaitu berani bicara, berani meminta tolong.
Baca Juga: Pro dan Kontra Pelaksanaan SOTR
Bagi yang saat ini sedang mengalami gangguan kejiwaan ada beberapa hal yang mungkin bisa dilakukan. Pertama, menghargai dan menerima diri sendiri. Dengan menghargai dan menerima diri sendiri seseorang jadi tau kelebihan dan kekurangan yang ada pada dirinya. Sehingga tidak sembarangan membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Tentu langkah tersebut bisa mengurangi pikiran-pikiran negatif pada diri sendiri yang bisa menyebabkan gangguan kesehatan mental.
Kedua, temukan cara terbaik untuk mengelola stress. Untuk mengelola stress cara setiap orang beda-beda. Ada yang dengan membaca buku atau mendengarkan musik. Jadi temukan cara terbaik untuk mengelola stress versi dirimu sendiri.
Ketiga, terapkan pola hidup sehat. Sebab pola hidup yang kurang sehat seperti sering makan-makanan cepat saji, kurang berolahraga, dan istirahat yang kurang cukup bisa menjadi penyebab seseorang menderita penyakit mental.
Baca Juga: Antara Trauma dan Hukum Yang Masih Menganga
Keempat, kembangkan potensi yang dimiliki dan coba hal baru yang belum pernah dilakukan. Cobalah untuk melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya untuk memperbanyak pengalaman dan menambah skill.
Kelima, lakukan hal-hal yang membuatmu bahagia. Melakukan sesuatu yang membuat bahagia bisa menjaga diri dari stress yang berkepanjangan. Selain itu perasaan bahagia juga bisa membawa energi positif ke dalam tubuh.
Editor : Andhika Attar Anindita