Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ini Alasan Istri Warga Binaan Lapas Kediri Nekat Selundupkan Sabu-Sabu

Hilda Nurmala Risani • Senin, 23 Februari 2026 | 22:34 WIB

Kalapas Kelas II A Kediri Solichin menginterogasi terduga pelaku Sft penyelundupan sabu-sabu.
Kalapas Kelas II A Kediri Solichin menginterogasi terduga pelaku Sft penyelundupan sabu-sabu.

KEDIRI, JP Radar Kediri - Aksi penyelundupan sabu-sabu yang dilakukan oleh istri narapidana di Lapas Kelas II A Kediri kemarin mengandung cerita ironis dibaliknya. Ya, faktor ekonomi yang membuat sang istri nekat melancarkan aksi penyelundupan.

Pada hari Kamis (19/2) sekira pukul 09.30 petugas Lapas Kelas II A berhasil menggagalkan penyelundupan sabu-sabu seberat 22,15 gram dan dua unit handphone merek Oppo.

Ya, perempuan penyelundup itu adalah istri dari warga binaan pemasyarakatan (WBP) bernama Dhevta Apri Pratama.

WBP kasus narkotika yang mendapat vonis hukuman 7 tahun 8 bulan. Ironisnya, penyelundupan sabu itu sudah kali kedua. Sebelumnya dia berhasil menyelundupkan dengan jumlah hampir sama.

Modus operandi yang dilakukan adalah menjenguk sang suami dengan membawa paket makanan. Sabu-sabu diselundupkan melalui paket makanan tersebut.

Baca Juga: Antara Trauma dan Hukum Yang Masih Menganga

Untuk diketahui, hasil pemeriksaan petugas keberaniannya sang istri itu karena dilatarbelakangi oleh faktor ekonomi. Ya, upah yang ditawarkan untuk menjadi kurir sabu bisa mencapai Rp 2 juta sekali berhasil.

Diakuinya ibu rumah tangga itu tertarik dengan iming-iming upah yang besar dalam waktu singkat. Itu mengingat tulang punggung keluarganya tak mampu memberi nafkah. Padahal ada anak yang harus dihidupi. Baik biaya makannya maupun sekolah.

Memang miris melihat realita tersebut. Alih-alih mendapatkan upah yang didapat justru hukuman. Jika sebelumnya hanya sang suami yang harus menjalani hukuman penjara, kini istrinya pun terancam hidup di bui juga.

Baca Juga: Korban Kecerobohan Orang Lain

Lantas bagaimana nasib anaknya? Ini yang sebenarnya menjadi persoalan besar. Jika anak jatuh dalam pola asuh yang salah maka kemungkinan besar akar tercipta lingkaran setan dalam rantai kemiskinan.

Ya, kemiskinan seringkali menjadi akar dari berbagai masalah sosial. Terpaksa melakukan tindakan ilegal karena desakan ekonomi yang sangat berat.

Tentu tindakan suami istri itu akan membuat anaknya hidup tanpa pendampingan orang tuanya. Tak hanya itu, tindakan ini juga memperburuk reputasi keluarga dan membuatnya sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang layak di masa depan.

Baca Juga: Petaka Nikah Dini

Ujungnya sang anak akan masuk dalam lubang yang salah. Mengikuti jejak orang tuanya karena tak ada pilihan lain yang lebih menguntungkan.

Ini menunjukkan bahwa kemiskinan bukan hanya masalah individu, tetapi juga masalah sosial yang memerlukan solusi bersama. Pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama untuk memberikan dukungan dan bantuan kepada keluarga-keluarga yang terjebak dalam kemiskinan.

Salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan bekal pelatihan dan pendidikan yang layak bagi mereka yang mungkin kehilangan sumber penghasilan.

Baca Juga: Nikah Muda, Solusi atau Bencana?

Dengan demikian, mereka dapat memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk mencari pekerjaan yang sesuai dan meningkatkan taraf hidup mereka.

Pada akhirnya harapan untuk dapat memutus lingkaran setan dalam rantai kemiskinan itu dapat tercapai. Sehingga sang anak bisa mengembalikan reputasi keluarganya. Serta memberikan penghidupan yang layak kepada orang tua maupun keluarganya kelak. 

Editor : Andhika Attar Anindita
#lapas kelas ii a kediri #faktor ekonomi #penyelundupan sabu #catatan minggu #kota kediri