“Peristiwa perceraian yang menimpa remaja berusia 18 tahun di Kota Kediri menjadi pengingat bahwa menikah di usia dini bukanlah suatu solusi. Ikatan yang tak didasari dengan kematangan mental itu menjadi masalah sosial yang semakin rumit.”
Istilah janda usia sekolah (JUS) sudah tidak lagi asing di telinga. Itu semenjak adanya peristiwa yang menimpa Tata -bukan nama sebenarnya.
Remaja berusia 18 tahun itu harus menyandang status janda setelah rumah tangga yang dibina sejak usia 14 tahun tidak berjalan harmonis.
Diakuinya, pernikahan itu terjadi karena married by accident (MBA). Ya, pacaran yang melebihi batas wajar membuatnya hamil duluan.
Baca Juga: Nikah Muda, Solusi atau Bencana?
Tentu ada janin di perut membuat Tata mengajukan permohonan dispensasi kawin (diska). Itu agar dirinya dengan sang pacar bisa menikah dan merawat anaknya.
Sayang harapan tak sama dengan realita yang ada dalam kehidupan. Pernikahan yang diidam-idamkan itu tak membuatnya bahagia. Sebaliknya, yang didapatkan hanya penderitaan.
Selama hamil hingga memiliki anak, Tata mengaku cukup sengsara. Sebab dengan ekonomi yang serba terbatas membuatnya seringkali menahan ketika membutuhkan sesuatu.
Baca Juga: Bangkit Melawan atau Diam Dibully
Terlebih suaminya yang juga masih berusia sekolah membuatnya tak mampu memberi nafkah selayaknya.
Begitupun kondisi mental yang belum stabil membuat pasangannya ringan tangan alias sering melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Ya, faktor ekonomi dan perlakuan kasar sang suami membuat Tata mantap untuk mengurus perceraian. Dia mengaku menyesal dan ingin membuka lembaran baru.
Lantas apa pesan yang dapat diambil dari kisah tersebut? Ya, dari kasus Tata tersebut menyiratkan pesan bahwa pernikahan dini tentu membawa konsekuensi pada tata rencana kehidupan berkeluarga.
Baca Juga: Ketika Bencana Menjadi Panggung Sandiwara
Utamanya dalam menghadapi keberlangsungan membangun rumah tangga. Sebab jika tidak, yang ada justru akan memunculkan status janda sepertinya.
Berbicara janda usia muda ini merupakan salah satu fenomena yang sedang banyak terjadi. Akibat pergaulan di masa sekolah serta tingginnya hasrat coba-coba tanpa disertai pengawasan yang ketat oleh orangtua.
Adanya fenomena itu sudah semestinya menjadi perhatian serius semua kalangan. Karena remaja yang digadang-gadang sebagai generasi emas justru dihadapakan pada kebebasan zaman dan keterbukaan.
Baca Juga: Banyak Negatif tapi Masih Digandrungi
Orang tua, guru, dan teman menjadi lingkaran yang harus selalu mengingatkan remaja. Jangan sampai rumah sebagai wadah pendidikan luar sekolah justru semakin tidak memainkan peran dalam pendidikan karakter seseorang. Utamanya tentang pendidikan seks, pergaulan, kesehatan reproduksi dll.
Begitupun guru dan teman yang memiliki peranan tak kalah penting. Sebab mereka yang biasanya tahu apa yang dilakukan di luar kebiasaan di rumah.
Juga yang tak kalah penting adalah rasa mawas diri. Seringkali penyesalan itu muncul karena diri sendiri kurang begitu peduli pada dampak yang diakibatkan nantinya.
Baca Juga: Dijanjikan Untung Berakhir Buntung
Oleh karenanya, setiap individu harus mampu membentengi diri dari pergaulan yang kurang baik. Karena pada dasarnya adanya hamil di luar nikah itu tak melulu salah orang lain. Terkadang orang tua menjaga, namun anaknya yang bandel dan merasa lebih tau segalanya.
Pada akhirnya tak perlu saling menyalahkan siapapun. Sebab semua orang memiliki tanggung jawab sesuai porsinya masing-masing.
Orang tua dan guru yang mengajari serta mengawasi, teman dan diri sendiri sebagai pengingat. Serta pemerintah dan aparat penegak hukum yang memiliki kewenangan untuk membuat dan melaksanakan kebijakan.
Mari untuk saling menyadari bahwa pernikahan dini bukanlah suatu solusi membangun rumah tangga yang bahagia. Sebab realita kehidupan tak seindah sinetron di televisi.
Baca Juga: Dijanjikan Untung Berakhir Buntung
Perlu persiapan finansial dan mental. Karena dengan persiapan yang matang mampu menciptakan rumah tangga yang bahagia. Ujungnya dapat melahirkan keturunan-keturunan yang berkualitas. (Penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)
Editor : Andhika Attar Anindita